1 Jam Bersama Prof. Wiranto Arismunandar | dari ITB, Mahasiswa Harus Gaul sampai Perguruan Tinggi yang dekat dengan Masyarakat.

U: Bang Uruqul

R: Reza

P: Pak

W: Pak Wiranto

A: Anaknya Pak Wiranto

U: Mulai, kami dari panitia 100 tahun ITB. Tujuan wawancara kami ke Pak Wiranto untuk mengeksplorasi pengalaman Bapak sebagai civitas akademika era dahulu, kemudian dari pengalaman Bapak saat kemudian jadi dosen ITB yang turut serta Bapak sebagai di Lapan kemudian di PT DI.

W: Barangkali itu ada bukunya bu (A). Yang ada gambar itu.

U: Kita pengen eksplorasi pengalaman Pak Wiranto.

W: Bisa baca buku saya juga, nanti kalau ada yang kurang-kurang bisa ditambahi.

U: Juga pengalaman Pak Wiranto sebagai Rektor kemudian sempat juga Pak Wiranto sebagai Mendikbud ya, kita akan nanti menanyakannya.

W: Waduh.

U: Pertama, bapak ini kan dulu kan lulusan mesin, namun yang say abaca di berita itu fokus di penerbangan. Bisa ceritakan apa yang bapak lakukan saat itu di mesin sampai kemudian fokus untuk mendalami penerbangan.

W: Buku nanti dibaca-baca bisa ditanyakan lagi nanti. (Menyerahkan bukunya).

U: (Pertanyaan tersebut) Jawabannya sudah di sini ya pak.

W: Mungkin juga nggak ada. Nanti bisa ditanyakan yang gak ada (jawabannya). Atau di jelaskan apa itu.

U: Bisa diceritakan Bapak kok bisa memilih di mesin. Di(mana) di FTMD ada mesin (dan) ada penerbangan, kemudian Pak Wiranto kemudian memilih fokusnya di penerbangan. Apa yang melandasi pilihan bapak itu?

W: Sebenarnya saya lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, belum ITB dulu. Dahulu masih Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Pak maaf Gigi saya ini belum betul (ada sedikit permasalahan mengenai gigi Pak Wiranto)

Ya Sebenarnya saya kan tidak pernah punya gambaran bahwa saya menjadi dosen. Tidak ada sama sekali. Dulu (gambaran) waktu sekolah. Gambarnya ya bekerja di industri pabrikan.

Guru saya itu yang membimbing saya dalam tugas-tugas akhir. Mungkin ada disini sebagian (…namanya”. Sambil membolak-balik bukunya)

Itu namanya Profesor Doktor KW Vohdein (?) itu orang Jerman. Itu setelah menguji sidang sarjana. Saya lulus aja lulus. (Saat) itu saya main-main di depannya. Di depan selasar Familia (?) yang sekarang ditempati mungkin pos satpam itu di bawah jam. Itu dulu kantornya kepala bagian mesin.

Itu mendekati saya (yang) sedang asyik nonton perubahan-perubahan (nilai) ujian-ujian. Siapa yang lulus, (siapa yang) tidak lulus.

(Saya) ditawarin mau keluar negeri (apa nggak?). Jadi (Profesor tersebut) tawarannya begitu. Ditepuk-tepuk saya saat itu. Saya bilang mau.

Setelah itu saya diminta beliau mendampingi (beliau ke) kantornya. Lalu di tengah perjalanan dalam perjalanan itu ditanya “tapi harus jadi dosen ya?”. Begitu saya serta-merta menjawab oke aja. Karena tertarik keluar negeri

Padahal saya belum belum bicara dengan calon istri saya waktu itu Pokoknya saya bilang iya gitu aja tapi akhirnya harus jadi dosen ya. (Pak Wiranto menjawab) Oh ya boleh aja. Jadi gambarannya (jadi dosen) disitu. Saya nggak tahu bagaimana jadi dosen itu. Tapi yang sekarang memang saya merasa itu cocok.

Saya merasa itu bidang saya atau pekerjaan saya. Saya merasanya baru sekarang kalau dulu saya nggak tahu itu

Saya menyenangi sampai sekarang. Sudah berapa tahun itu (sampai sekarang) itu (apabila) saya diangkat menjadi Pegawai Negeri 1 April 1960 jadi sampai sekarang sudah 60 tahun.

Mungkin saya memang (harusnya sudah) di sini.

Jadi begitu ceritanya sama sekali tidak ada cita-cita menjadi staf pengajar.

Jadi sebelum berangkat ke luar negeri saya diminta menempati rumahnya Profesor yang akan cuti ke Jerman waktu itu. Beliau mau cuti. Saya disuruh menunggu rumahnya dan kebetulan saya mau menikah belum punya rumah. Jadi menikah punya rumah ya tinggal di situ. Menunggu tidur rumahnya di jalan pagergunung nomor berapa itu 20/30 di situ. Jadi sebelum saya berangkat ke luar negeri saya tinggal di situ.

Jalan pagergunung nomor berapa itu (bertanya ke ibu A)

A: Didepan bangunan yang sekarang menjadi kafe.

P: Bisa jadi nomer 4. Nggak mungkin itu nomor 38, itu pendekan pagergunung rumah di depannya.

W: Ya jadi saya ternyata senang menjadi guru itu. Bahagia saya menjadi guru. Saya jadi saya senang.

U: Kalau saat itu ITB seperti apa? Bisa diceritakan, Pak Wiranto saat itu awal-awal ITB kondisinya seperti apa?

W: Wah, memang saya tidak itu ikut dalam menyiapkan ITBnya. Saya mahasiswa biasa dan main. Karena dulu saya pemain bola. Perkumpulannya IPI(?) namanya. Itu juara (liga) Persib dan selalu juara (liganya) Persib.

Jadi saya memang tidak ikut dalam kesibukan mempersiapkan berdirinya ITB. Saya bukan mahasiswa yang serius. Senangnya main aja. Kalau belajar juga maunya sebentar aja tapi cepat. Supaya bisa main begitu. Jadi saya anjurkan juga mahasiswa begitu. Supaya tidak kehilangan masa mudanya. Jadi belajar cepat, jadi belajar berpikir cepat, membaca cepat, dan semuanya cepat. Supaya bisa main, bisa santai, bisa main bola sama teman-teman. Karena saya waktu itu juga sebelum menikah saya tinggal di asrama mahasiswa itu di rumah B (sekarang 2019 jadi klinik Pratama). Itu di (PT) LAPI itu.

Jadi saya memang bukan mahasiswa yang serius. Main-main tapi bukan berarti enggak belajar dong. Jangan dikira semua itu belajar. Tapi saya termasuk beruntung bahwa saya bisa mengelola (dan) memimpin di hidup saya sendiri. Jadi waktunya belajar ya belajar. Kalau dibandingkan dengan teman-teman, memang saya mungkin belajarnya seadanya saja. Itu saya belajar belajar cepat supaya bisa santai (dan) bisa main.

Itu dan sekarang harus(nya) begitu. Sebab ternyata (memupuk) pergaulan lebih baik (usahanya) lebih susah dibanding dengan belajar biasa.

Jadi saya juga merasa beruntung tinggal di asrama mahasiswa. Saya (jadi) bisa bergaul dengan banyak teman dengan latar belakang yang berbeda-beda. Hal yang menyenangkan sekali (saat) itu.

Latar belakang yang berbeda-beda (ditambah lagi) kebiasaannya berbeda. Jadi kalau saya ketawa-ketawa dia mungkin (harusnya) marah. Ya begitulah. Tapi (yang terjadi malah) toleransinya makin besar jadi belajar bertoleransi ya.

U: Karena itu yang membuat Pak Wiranto saat menjadi Rektor ITB, Bapak menggagas harmoni ITB?

W: Bukan, kalua Pak Kadarsah sekarang mengatakan bahwa ITB harus menjadi entrepreur university maka kegiatan ekstrakurikuler itu harus betul-betul dipahami sebagai bagian pendidikan yang penting. Karena disitu mengajarkan pergaulan-pergaulan. Jadi keterampilan bergaul itu menjadi penting sekali karena entrepreneur itu menjual ide (dan) menjual gagasan (juga) mengusulkan saran, bisa dibuat sebagai bisnis dan seterusnya. jadi interpersonal skill ya itu penting sekali. Nah itu dibangun dari kegiatan ekstrakurikuler.

Jadi kalau (semenjak) masih mahasiswa belajar sudah belajar (maka) bisnisnya (akan) bagus sekali pasti. Tapi yang ditunjuk (oleh masyarakat, ITB) kita mendapatkan ilmu lalu mendayagunakan ilmu itu untuk membangun bisnis dan seterusnya.

Mencari teman yang bisa diajak bekerja sama itu penting dalam pergaulan itu. Oleh karena itu ITB itu tidak acak-acakan. Tapi (apabila) dilihat itukan dipisah-pisah (tempatnya, lihat titik gedung ITB dll) disana sana dan disini sini.

(Hal ini dimaksudkan untuk) membuka pergaulan. Jadi kalau mahasiswa mesin jangan bergaul dengan mahasiswa mesin saja tapi harus juga dengan (mahasiswa) yang lain.

Oleh karena itu kegiatan kemahasiswaan itu ada yang di himpunan ada yang sesuai dengan apa hobinya (seperti unit kegiatan mahasiswa).

(Sehingga mahasiswa) itu bisa bergaul mahasiswa dari jurusan yang lain-lain itu. Jadi tahu apa yang dikerjakan oleh temannya. (Mahasiswa harus selalu) bergaul.

Orang dahulu (sering bergaul untuk) membangun kreativitas. Orang yang pergaulannya baik pasti lebih kreatif. Ya karena bisa belajar dari satu sama lain.

Kita itu harus pandai belajar dari pengalaman sendiri tapi juga pandai belajar dari pengalaman orang lain. Itu penting. Jadi makan kaya pengalaman kita makin luas wawasan, makin banyak pengetahuannya (maka) makin kreatif. Makin banyak ide yang bisa berkembang karena pikiran orang yang berbeda-beda. Itu memicu kreativitas

Jadi kegiatan ekstrakulikuler bagus (dan) baik sekali untuk mengembangkan entrepreneur university.

Itu yang penting karena juga di masa dimana sains dan teknologi itu maju dan berkembang itu persaingan menjadi (hal yang) kecenderungan. Tapi kerjasama itu lebih baik (dan tentu) lebih menguntungkan.

Kalau dengan pengetahuan-pengetahuan yang banyak itu yang maju kita mau bekerja sama dengan baik maka hasilnya lebih baik.

Jaman dahulu kan persaingannya (seperti) itu (sekarang) paradigmanya sudah berbeda. Paradigma zaman saya dan teknologi yang maju dan berkembang itu harus dikumandangkan kerjasama. Ya supaya hasilnya lebih baik, lebih efektif, (dan) lebih efisien daripada (kita menonjolkan hanya) persaingan,

Meskipun begitu paradigma (yang sebelumnya hanya persaiang) yang berubah juga bisa begitu. Persaingan adalah kerjasama. Kerjasama untuk menghasilkan produk yang lebih baik (dan) yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Jadi yang dituju adalah masyarakat. Yang dilayani adalah masyarakat. Yang didambakan adalah masyarakat yang maju dan (mau) berkembang. Sekarangpun di dalam, kalau kita lihat janji sarjana (khususnya ITB, biasa dikumandangkan ketika siding sarjana) terlihat ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk perikemanusiaan dan perdamaian dunia.

Ya jadi, jangan sampai ilmu pengetahuan yang ada itu lalu menjadikan orang itu sendiri-sendiri, (atau) egonya makin tinggi. Jangan(lah) begitu. Lebih baik kepintaran kita itu menjadi bagian dari pengembangan masyarakat. Jadi masyarakatnya makin maju, makin berkembang makin bisa menghargai satu sama lain.

Ya akhirnya lebih bagus. Kalau sendiri-sendiri pasti kurang bagus. Karena (energinya hanya) untuk pertengkaran aja itu. Karena masing-masing (orang) menganggap dirinya pandai. Jadi egonya makin tinggi. (Se)makin mementingkan pendapatnya sendiri. (Sehingga menghindari yang) nggak menguntungkan. (Semua hal) itu yang penting

U: Kembali ke pertanyaan tadi Pak. Pak Wiranto bisa ceritakan saat Bapak menjadi Rektor kan cukup lama, selama 9 tahun (dari tahun) (19)88 sampai (19)97 ini?

Bapak dianggap berhasil untuk mencapai banyak hal. Salah satunya pertama yaitu bapak dikenal sebagai Rektor yang membangun banyak gedung di ITB. Salah satunya 4 labtek. Bisa Bapak cerita saat itu seperti apa?

W: Jadi saya juga termasuk beruntung bisa membangun kampus ITB. Itu penting itu bagi saya sekarang.

Tapi saya tidak bekerja sendiri. Saya juga menghimpun teman-teman yang bisa diajak bekerja sama membangun ini.

Salah satu diantaranya yang sangat membantu membangun cari dana-dana itu adalah Pak Indra Djati Sidi. Profesor Indra Djati Sidi.

Itu yang saya minta cari uang, pergi ke Jepang dengan uang seadanya, ITB nggak punya uang, tapi saya yakin perjalanan panjang (Pak Indra ini) jadi pasti bisa (mendapatkan uang tersebut). Bisa survive.

Jadi kita lihat berapa uangnya (yang bisa didapatkan), dan ide (untuk implementasi) yang ada, (kalau siap) sudah Pak Indra (harus segera) pergi ke Jepang.

Kebetulan duta besarnya (Jepang) itu adalah ipar saya (yang) namanya Drs. Puji Sutarjo (?), waktu itu.

Itu suami dari adik saya. Adik saya perempuan menikah dengan pak Puji Kutarjo itu.

A: Bukan, tapi kakak iparnya. Suami dari kakak iparnya. Kakaknya om Diki. Jadi suami dari kakaknya.

W: Kakaknya suami dari adik saya.

A: Jadi kakak ipar.

W: Jadi kebetulan itu. Pokoknya nanti kalau Pak Indra (Djati Sidi) kalau ada kesulitan pergi ke duta besar (ke saudaranya Pak Wiranto) bilang (saya) Pembantu Rektor 3 ITB.

Yang Rektornya Pak Wiranto itu, gitu-gitu aja.

Ya itu jadi perjuangannya, juga tidak mudah. Cari dana pembangunan itu begitu caranya. Cari uang dulu.

Tapi saya tidak pergi sendiri karena nanti saya Rektor kalau nanti ditolak menjadi kurang enak. Kalau dianggap tidak tahu prosedur tidak enak. Jadi memang saya tidak tahu prosedur. Bagaimana cari uang itu?

Jadi saya minta Pak Indra Djati yang kebetulan memang saya kenal baik. Dan badannya besar kuat. Jadi tidak mudah (dan) pasti tidak gampang dipermainkan orang lah. Bisa mengatasi keadaan darurat. Jadi kalau misalnya tidak ada hotel ya tidur di airport pada waktu itu bisa. Jadi begitu.

Jadi akhirnya Pak Indra Djati itu juga adalah satu-satunya mungkin yang pernah datang ke kantor OEJF(?) itu. Kantor yang memberikan bantuan pembangunan ekonomi untuk Indonesia itu. Overseas Economic Coperation Develompent (?).

Itu (tulisan lembaga yang menyumbang) ada di prasasti saya itu ada disana ya lembaga bantuan itu. Yang akhirnya dia (Pak Indra Djati) datang ke kantor itu dan cari informasi, bagaimana cara cari uang.

Jadi itu nggak mudah itu (cari uang untuk pembangunan ITB). Jadi cari uang oh gini caranya ternyata.

Untung saja prosedurnya enggak begitu. Prosedurnya adalah kita membuat usulan kepada pemerintah kita. Membuat proposal lalu ditawarkan ya, masuk Bappenas ditawarkan kepada negara-negara maju.

Ini ada permintaan (misal pembangunan ITB) seperti ini. Siapa yang bisa (dan) mau ikut dalam program (pembangunan ITB) itu. Ternyata begitu.

Jadi itu kita usul dulu, ditawarkan kepada pemerintah luar negeri. Lalu adanya usul (dari pihak lain yang berwenang) supaya siapa yang disetujui oleh pemerintah baru akan mendapat (proyek atau program) itu.

Tapi kita beda. Kita usul dulu. Cari uangya dulu. Yang begitu (yang malah kita lakukan).

Jadi kalau saya kan tidak enak ya (karena seorang rektor). Ini contoh karena Pak Indra Djati bukan rektor. Jadi kalau tidak ngerti prosedur oke-oke ajalah. Jadi itu. Jadi ada akal-akal bulusnya juga.

Jadi akhirnya Pak Indra Djati kembali kesini dan kita lalu cepat-cepat membuat master plan ITB. Jadi pembangunan ITB ini adalah didasarkan pada implementasi dari master plan (baru) yang dibuat oleh ITB sendiri. Ini satu-satunya (master plan kampus negeri) yang begitu. Ndak ada lagi (kampus lain yang begini).

Kita cepat-cepat membuat master plan. Disetujui oleh senat (akademik) lalu kita pakai prosedur (yang diceritakan sebelumnya) yang harusnya tadi itu. Lalu ya dapat itu (yang kita lihat sekarang, labtek kembar dsb).

Jadi begitu (prosesnya), enggak gampang, semua dengan perjuangan, lalu karena yang memutuskan itu Bappenas dia kita dekati Bappenas. Jadi kita cari namanya Professor Saleh Afif.

Itu yang mengurusi (prosedur master plan untuk pembangunan ITB). Jadi kita berkenalan baik dengan Pak Saleh Afif. Kita ajak main tenis dan sebagainya. Jadi ITB kenal baik. Jadi ada hubungan baik, itu yang penting. Jadi kita itu tidak boleh mentang-mentang (kita ITB dll). Kita harus baik sama (semua) orang.

Kalau kita baik sama orang (kemudian) bergaul yang baik (maka) orang itu (yang) sedang (mau) membantu tuh senang ya.

Maka dari situ jadilah kita mendapatkan biaya. Untuk biaya bantuan pembangunan ITB.

Lalu kita buat perencanaan pembangunan itu. Jadi kita merencanakan sendiri juga.

U: Itu pembangunannya berapa gedung saat itu Pak? Yang bantuan dari Jepang untuk membackup untuk berapa gedung.

W: Wah banyak sekali. Saya tidak tahu detailnya. Dalam arti administrasi ya. Saya nggak ngurusi itu. Saya hanya ide-idenya. Arahan-arahannya. Pak Indra Djati itu kemudian kita tunjuk menjadi koordinator pembangunan ITB.

Itu nanti saya tanya Pak Indra Djati detailnya. Tanya sendiri.

Ya tapi saya senang, saya senang dengan engineering. Jadi meskipun saya dari mesin tapi saya senang belajar arsitektur, belajar teknik sipil, itu saya menyenangi itu.

Iya jadi dalam rapat-rapat pembicaraan tentang perencanaan itu juga bisa ikut dalam judul yang saya ikuti di lapangan karena saya memang menyenangi Saya senang pekerjaan itu.

Wah nggak tahu tuh. Potret-potretnya masih ada. Tapi saya bukan yang nyimpen (foto potret pembangunan). Jadi gak bisa. Nanti tanya Pak Indra saja detailnya. Tapi pokoknya saya senang. Saya senang bekerja membangun. Saya senang pekerjaan engineering. Jadi memang saya menyenangi pekerjaan di lapangan itu.

U: Saat itu saya pernah dengar juga jadi bapak juga turun tangan langsung dengan bangunin (gedung-gedung tsb) pakai HT. Jadi bapak dan para pembantu Rektor yang lain tuh berkomunikasi pakai HT saat membangun gedung.

W: Kok kamu tahu? Diceritakan siapa?

U: Saya diceritakan oleh Pak Mubiar Purwasasmita.

W: Pak Mubiar kan sudah meninggal?

U: Saya bertemu beliau 3 bulan sebelum meninggal saya pernah wawancara.

W: Oh, kamu beruntung kalau begitu. Pak Mubiar itu yang menangani administrasinya. Jjadi semua arsip-arsip itu ada di Pak Mubiar. Wah beruntung sekali. Itu ada orang yang bisa mendekati saya dan membuat catatan-catatan itu Pak Mubiar. Itu kalau (saya) ke lapangan saya didampingi Pak Mubiar. Potret-potretnya (pembangunan) banyak dengan Pak Mubiar.

Kamu nggak pernah ditunjukkan fotonya?

U: Belum pak, baru wawancara. Baru cerita saja beliau tentang proses pembangunan itu. Katanya beliau dan juga pimpinan PD saat itu langsung turun tangan.

W: Saya sampai kalau kepanasan buka baju juga pernah di lapangan itu. Dan saya merasa beruntung bahwa saya bisa membangun sarana olahraga (Saraga) ITB. Itu yang penting itu.

Karena dari situ, interpersonal skill itu lebih gampang dikembangkan melalui olahraga. Pergaulan melalui olahraga itu paling gampang. Paling gampang kenalan orang itu, (lalu) semua orang gembira (melalui olahraga).

Karena sehat dan kuat itu tidak cukup. Harus gembira. Kalau gembira ya tadi (bergaul melalui olahraga). Enterpreneur itu harus gembira.

Kalau mau bergaul sama orang ya harus gembira. Kalau kita nggak gembira, nggak seneng orangnya, nggak mungkin ini teori-teorinya (hanya) biasa-biasa aja.

Tapi tim itu, tim yang benar-benar bergaul satu sama lain. Bekerja secara sinergis. Kita saling membantu sama satu sama lain.

Itu contoh itu. Jadi kalau kita lihat kumpulan orang-orang pinter itu baik. Asal enggak sendiri-sendiri. Yang tidak maunya sendiri. Tidak menang-menangan. Tapi saling mengisi, (sehingga) hasilnya pasti baik.

Itu kemudian yang saya katakan dengan emotional intelegence. Itu saya kumandangkan pada waktu (pembukaan Labtek kembar).

Nanti tanya Pak Indra. Bagaimana pak Indra kumpulkan orang, yang dulu hidupnya di lapangan olahraga itu (warga lebak siliwangi). Bagaimana Pak Indra Djati pidato di depan orang-orang itu supaya orang-orang tahu semua mau (di) pindah (rumahnya).

Oh, itu juga gak gampang itu.

Itu setelah dana bantuan itu disetujui, itu yang enggak gampang itu, karena harus ngumpulin uang dulu untuk memindahkan orang itu (warga lebak siliwangi) untuk berpindah dari situ. Itu Pak Indra Djati bisa cerita itu. Bagaimana kita mengumpulkan orang yang bertanggung jawab di situ dari dinas (yang bertanggungjawab) Kotamadya Bandung.

Oh, ya itu juga baik untuk kita. Kebetulan sekali kita baik hubungannya dengan wali kota siapa dulu namanya.

A&P: Ateng Wahyudi bukan?

W: Ateng Wahyudi (walikota Bandung). Kita baik sekali hubungannya. Jadi Pak Ateng membantu. Lalu saya katakana “Indra, kalau orang ini nggak ketemu, uang itu nggak bisa turun dan hangus. Itu urgent sekali. Pada waktu deadline itu Pak Indra Djati Itu ditelepon sama orang yang itu, yang menguasai ijinnya itu.

Jadi pemerintah terpaksa, bukan tepaksa tapi dengan senang hati bisa mengeluarkan uang untuk menjauhkan orang itu (preman pembangunan Sabuga, Saraga, dsb).

Nah, orang-orang yang dulu tinggal di situ (bekas Sabuga dan Saraga). Itu diberi pesangon yang cukup untuk membikin, membuat rumah sendiri. Bojongkoneng (tempat mereka membeli rumah baru) itu tempatnya itu dulu.

Yah jadi kita.ngusir orang itu ngasih uang tapi dengan syarat membangun rumah sendiri. Jadi bisa (dilakukan dengan aman) semua itu.

Pada waktu pembukaan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) itu bekas penduduk disitu (warga terdampak pembangunan Sabuga dan Saraga) datang semua. Dan mereka merasa bahagia, (karena) sudah punya rumah. Iya luar biasa itu. Disitu saya katakana “Emotional Intelegence penting, untuk dipelajari dan diterapkan. Karena itu adalah. usaha kita untuk sukses dalam kehidupan.”

Jadi IQ juga nggak cukup. Tanpa EQ nggak bisa. EQ itu yang penting dalam kehidupan. Bisa bergaul, bisa menghayati kegiatan atau keahlian orang lain. Bisa menghargai dan kita tunjukan perhatian kita kepada orang lain. Ini penting. Jadi kita nggak boleh sendiri-sendiri.

Seperti tadi saya (yang) katakan itu (tentang izin pembangunan Sabuga dan Saraga) adalah yang mengizinkan (oleh Pak Walikota, Pak Ateng, dll). Oke dikasih (izinnya).

Bantuan itu ada yang namanya Pak Saleh Afif (?) itu. Ketua Bappenas itu dulu. Itu kita baikan, baik-baik (dengan Pak Saleh Afif), kalau nggak (baik) mungkin juga (dapat izinnya). Ya kira-kira begitulah. Ya semua hanya seperti itu, tapi kita berbuat sampai begitu (yang dilakukan).

Jadi itu, nanti tanya Pak Indra baru bisa menghayati itu, bagaimana Pak Indra itu pidato di depan banyak orang (warga Lebaksiliwangi yang terdampak Sabuga dan Saraga).

Yang diminta untuk mau pindah. Wah gak gampang itu. Itu mata air seorang (menjadi) 400 kepala keluarga itu sekarang jadi Sabuga.

Itu baru punya rumah. Mereka (yang) punya rumah sendiri datang ke waktu pembukaan, peresmian Sasana Budaya Ganesha itu datang, senang saya pikir (mereka). Duduk mereka di panggung itu.

Lah di sana saya menganjurkan baca buku Daniel Goldman namanya itu. Ahli dari Emotional Intelegence, ilmu itu (EI) ada bukunya. Waktu itu saya nyatakan, wajib ini untuk (dibaca) dosen ITB, harus dipakai ini.

Itu jadi. Sekali lagi saya merasa, ternyata saya senang menjadi dosen. Dan mungkin Allah juga menunjukkan saya ini jalannya (saya bermanfaat di dunia).

Ya jadi emang begitu. Jadi kalau saya benar-benar dalam mengajarkan sesuatu ya karena saya senang.

Saya senang membuat orang mengerti. Dari enggak bisa menjadi bisa. Itu yang penting. Dan setelah bisa, dia bagaimana mencapai keberhasilan dalam pekerjaannya.

U: Tadi Pak Wiranto mengatakan, (dan) menekankan ini kecerdasan emosional. Nah disini saya baca-baca saat Pak Wiranto menjadi Rektor ada berapa program yang dikatakan banyak orang sebagai hal yang sukses. Itu salah satunya, Pak Wiranto ini pencetus pertama semester pendek. Terus mata kuliah olahraga dan juga ada program namanya friendly ITB. Apakah semua itu dilandasi dari apa yang bapak katakana?

W: Oleh karena itu pidato Rektor pertama kali itu, friendly ITB itu, adalah pidato waktu saya pertama kali menjadi Rektor ITB.

Friendly ITB itu bisa dibaca di prasasti, di Widya Nusantara.

Jadi itu (Plaza Widya Nusantara) adalah hal yang saya katakan pada waktu sambutan saya, pada waktu sambutan saya saat peresmian, Plaza Widya Nusantara.

Itu sebelum itu (pidato sambutan pertama Rektor), ada rapat-rapat pimpinan ITB. Ini namanya apa ini (prasasti dari Pak Wiranto).

Ya dalam rapat ditentukan. Wah ini ini apa (peserta rapat memberi usulan). Lalu Pak Soeharto (?) dari mesin mengatakan, “Pokoknya harus ada Widyanya”, “Apa itu Wdiya?”. Widya itu katanya pendidikan. Aku percaya aja. Nggak ngerti. Padahal aku (sebenarnya) nggak ngerti itu apa widya, itu pendidikan, jadi ada itu. Kalau gitu namanya Plaza Widya Nusantara.

Oleh karena itu, lalu saya katakan dalam satu acara, “Tempat ini diberi nama Plaza Widya Nusantara. Supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, seni, dan teknologi. Supaya kampus ini menjadi tempat bertanya, dan harus ada jawabnya.”

Seba saya tulis itu, saya katakan itu, apa yang ditulis disitu adalah apa yang saya katakan. Lupa sekarang mungkin ya (tapi Pak Wiranto tadi benar menyebutkan setengahnya tanpa ada salah kata apapun).

Jadi tempat ini harus menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya.

Jadi jangan, masyarakat di dalam kampus tanya nggak dilengkapi jawaban. Nggak boleh begitu.

Lalu saya katakan “Supaya kampus ini, membentuk watak, dan kepribadian. Supaya kehidupan kampus ini membentuk watak dan kepribadian. Supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan tapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.” Ini yang saya katakan. Coba nanti dicek deh (benar semua bapak). Mungkin masih ada disitu (di buku tentang Pak Wiranto).

U: Saat itu juga pas saat Pak Wiranto jadi Rektor, bapak dikenal dekat dengan dosen, mahasiswa tadi ceritakan saat itu. Bisa diceritakan bapak saat itu bagaimana Bapak beraktifitas lama jadi Rektor?

W: Ya saya aktif disemua unit dong.

U: Jadi setiap hari datang terus keliling-keliling (ITB)?

W: Iya, jadi karena saya senang juga. Saya senang. Karena di dalam kegiatan kemahasiswaan itu, mahasiswa dihadapkan pada masalah-masalah yang riil. Meskipun itu hanya paduan suara tapi itu riil. Meski itu marching band tapi riil. Itu bener. Ada fungsi organisasi, ada fungsi bisnisnya. Harus ada fungsi keberhasilan, ada (fungsi) efektivitas, (ada fungsi) efisiensi, (dan hal lain) macam-macam. Seperti dalam bisnis, juga pokoknya itu urusannya itu (ada manajemen dan konflik). Masalahnya ada dan riil. Masalahnya juga menghadapi orang-orang, mahasiswa itu (dalam organisasi, seperti bisnis).

Yang hari ini aja (contoh kasusnya), kan tidak ada hierarki ya (dalam struktur organisasi mahasiswa) itu gak ada pemimpin sama yang dipimpin nggak ada. Nggak ada pekerja. Yang begitu (organisasi mahasiswa) saya direktur itu yang menjadi pekerja (hal seperti ini gak ada, karena relawan). Maka gak ada hubungan seperti itu. Karena organisasi mahasiswa adalah sukarela. Semua hal dengan bujukan-bujukan.

Nah itu jadi lebih susah. Itu kalau semua orang sudah bekerja ada gajinya. Kalau nggak mau dulu (dengan gajinya) ya dipecat. Ini kemahasiswaan nggak ada yang gitu. Mahasiswa mana yang dipecat.

Yang di dalam (periode) saya (menjadi) Rektor itu saya juga mencetus Zero Drop Out. Itu bukan mahasiswa itu dibiarkan semua lulus begitu saja. Bukan. Tapi mahasiswa dengan potensi yang tinggi, tidak ada yang boleh Drop Out. Kalau Drop Out sampai terjadi, itu salahnya dosen.

Saya nanya dosen. “Kemampuan setinggi itu kok Drop Out?”. Salahnya dosen itu. Ya mungkin nggak bisa menarik, membuat mata kuliah yang menarik.

Karena prinsip saya itu, kuliah itu harus menyenangkan. Harus gembira.

Ya, jadi kuliah itu harus menyenangkan. Kok nggak menyenangkan, salah dosennya. Sebab kalau tidak menyenangkan itu, mahasiswa itu (yang) sudah belajar tuh, itu (jadi) menderita itu.

Jadi kalau di Drop Out itu bukan berarti, dilulus-luluskan. Bukan. Tapi dosennya harus mengerti, orang ini mengapa sampai gak lulus. (Caranya) ya harus ditingkatkan pengetahuannya. Supaya dia lulus. Supaya dia memenuhi syaratnya.

Itu Zero Drop Out. Jadi banyak orang yang nggak ngerti. Banyak yang nggak ngerti itu, tapi maksudnya (Zero Drop Out).

U: Itu kan tadi kembali (tentang) yang Bapak dekat dengan mahasiswa dan dosen kan istilahnya kan blusukan. Sekarang lagi di kenal blusukan. Dulu mungkin istilahnya berbeda. Blusukan itu yang turun ke bawah.

W: Kalau saya itu, blusukan sudah dari dulu. Makanya saya senang. Nggak ada masalah. Nggakl ada.

U: Jadi apa yang Bapak dapatkan saat blusukan itu? Untuk kepentingan untuk kepentingan Bapak saat menjadi Rektor itu. Barangkali ada kebijakan-kebijakan yang diinspirasi dari situ.

W: Artinya, kalau saya dekati mahasiswa itu, masih sayang merasa dekat dengan saya itu, (akhirnya) malu kalau nggak lulus. Mereka itu masih malu nggak lulus.

“Jadi kamu gimana belajarnya?”. “Wah, dapat D, Pak”. Malu dia (dapat D).

Jadi makin senang (mahasiswa didekati), saya juga makin senang. Malah saya misalnya kalau paduan suara. Itu yang saya inginkan itu anggota paduan suara itu (jumlahnya) ada 400 orang menyanyi bersama-sama. 400 orang.

Kalau Marching Band itu, lapangan bola itu penuh. Dari barisan itu sampai harus begitu. Sebab kalau Marching Band itu, saya itu, waktu saya sekolah di Amerika ada yang namanya Purdue Marching Band (almamater Pak Wiranto di Purdue, AS), Purdue All American Marching Band. Jadi dia paling bagus (di Amerika). Jadi saya tahu referensi Marching Band yang paling bagus. Jadi saya ingin begitu (seperti Purdue).

Tapi dulu Itu kan belum banyak uang. Jadi peralatan Marching Band kita pinjam semua. Pinjam. Bagaimana caranya pinjam? Yang punya siapa? Yang punya itu PGT (?) di TNI AU. Ya sudah, kita baik-baikan saja sama TNI AU.

Baik-baik kan. Dia mau melatih. Dia menjamin alat. Jadi begitu caranya. Nggak pakai modal. Karena nggak punya.

Kalau sekarang sudah enak. Banyak uangnya. Mau beli terompet aja bisa berapa (pun jumlahnya).

Sorry ya kalau saya capek ya.

Saya memang menyenangi selesai kerja sampai malam karena saya menyenangi. Kebetulan para pembantu rektor sama dengan saya (suka kerja sampai malam). Jadi sama pandangannya. Sama senangnya. Jadi meskipun pekerjaannya sampai malam-malam gak ada masalah. Senang, semua senang.

U: Kalau ini Pak Wiranto, saya juga pernah membaca saat zaman bapak dulu ya, itu seringkali ada pameran teknologi di ITB. Bisa bapak ceritakan? Jadi saat itu ada pameran di Gedung Serbaguna. Itu ada teknologi tepat guna dan Teknologi yang dikembangkan ITB. Itu dipamerkan di sana dan dihadiri oleh Honda di Jakarta, dari pemerintah, dari Kemendikbud saat itu. Nah, bisa bapak ceritakan saat itu kegiatan pengembangan teknologi zaman Bapak, ITB khususnya, kayak gimana?

W: Sebenarnya, yang saya dulu lakukan itu, tadinya kegiatan kemahasiswaan. Kirim mahasiswa. “Oh, kamu mau bikin apa?”, “Oh pak, mau bikin lomba desain mobil, lomba Go-kart”. Kalau Go-kart tuh, saya belum menjabat sebagai rektor itu.

A: Trus, Pembantu Rektor 3 yang dulu itu. Yang pertandingan Go-kart di ITB.

W: Ya saya sebelum menjadi rektor, saya menjadi pembantu Rektor 3 tentang kemahasiswaan. Jadi setelah menjadi pembantu Rektor 3 itu menjadi Rektor senang-senang aja. Yang paling susah, yang ngurus mahasiswa itu. Karena dia nggak digaji. Tapi nurut, harus nurut. Jadi mahasiswa itu dibiarkan mengambil Prakarsa. Tidak semuanya dari atas (dari rektorat). Dia dipicu untuk mengambil prakarsa, inisiatif.

Ya, (contohnya) tim bola di ITB kita bmbing. Oh, kayak gini caranya. Kita cari dosen pembimbing yang mau membimbing mahasiswa. Nggak ada bayaran itu. Semua itu sukarela.

Jadi saat saya (jadi) Rektor (ini cerita saat jadi pembantu rektor). Juga begitu. Tidak banyak uang tapi semua (harus) mau kerja.

Itu masalahnya. Jadi ya agak kesulitan. Tapi caranya ya begitu. Jadi mau membentuk, Marching Band mau hebat tapi nggak punya apa-apa. (Caranya) ya baikan sama orang.

PGT yang ngelatih. PGT yang minjemin alatnya. Dan saat itu, dibawa ke pembukaan PON, ITB yang maju, Marching Band ITB. PON atau Asian Games pokoknya. Bukan Asian Games, (tapi kayaknya) Asean Games.

P&U: Sea Games? 1994?

W: Itu jadi pakai alat pinjaman. Tapi tampil internasional, tampil sombong, padahal semuanya pinjem. Tapi semua dengan modal pinjam itu. Sekarang serba lancar. Kita dikasih uang, sudah jalan semua. Itu untungnya. Tapi kalau nggak ini uangnya banyak yang mubazir. Tapi untung dulu itu (Marching Band) banyak latihannya. Jadi setelah ada dana, tambah bagus.

Ya jadi kegiatan kemahasiswaan, selain dari himpunan-himpunan, orang (mahasiswa) diajar untuk berteman dengan mahasiswa yang bukan dari jurusan yang sama. Jadi ini penting. Sebab, kita ini kalau membangun itu untuk manusia. Jadi kita harus tahu tentang masyarakat, tentang banyak orang, tentang kepentingan orang banyak.

Jadi itu, dari segi itu, banyak pertimbangan, tidak sendiri-sendiri. Jadi ya, untuk membuat sesuatu itu, pertimbangannya dari ini, faktor ini, dan faktor ini. Jadi lebih menyeluruh. Jadi menyangkut tentang manusia yang utuh. Jadi hasilnya adalah kurikulum yang lebih ramah. Itu yang penting itu.

Jadi ada himpunan-himpunan, ada yang approachnya hobi (unit kegiatan mahasiswa), ya yang bentuknya kesenangan.

U: Kembali lagi, saya baca juga bapak, salah satu bangunan yang bapak bangun itu adalah sunken court, tempat kemahasiswaan. Tempat mahasiswa, di unit-unit, di hobi-hobi yang mendalami hobi itu.

W: Oh, yang dibawah?

U: Iya bapak. Apakah itu dulu peruntukannya untuk memang kesitu (ke kemahasiswaan)?

W: Oh iya, untuk itu. Itu memang di desain untuk itu (kemahasiswaan). Jadi kan kita lihat. Jadi kan pembangunan kampus itu juga kita set ada lorong yang terowongan itu. Terowongan yang menyambungkan kampus dengan Saraga. Itu adalah terowongan pejalan kaki. Maksudnya ya supaya orang itu kalau lewat situ berjalan dan bertemu teman-temannya banyak. Berjalan kaki. Tapi kalau dengan mobil kan nggak mau berhenti. Tapi kalau jalan kaki kan terpaksa ngobrol. Itu juga.

Jadi kebetulan kita dan teman-teman itu mendesain seperti itu. Jadi tempat kuliah ditaruh disana, tempat kuliah ditaruh disana. Itu kalau mau pindah tempat, ketemu sama banyak orang. Jadi terpaksa (saling) menegur. Terpaksa bicara. Terpaksa baik-baikan. Terpaksa sopan santun. Ya itu, jadi macem-macem (caranya).

U: Kalau yang sekarang Pak Wiranto amati tentang ITB. Apa yang masih kurang di ITB?

W: Yang kurang adalah tidak ada gambaran untuk membawa ITB itu peduli sama kota. Itu saja. Saya kira semua sudah bagus. (Seperti) rangking dunia, semua bagus. Tapi kalau sudah menginjak kota seperti tidak ada sentuhan dari ITB. Sama dengan Jakarta, jadi bukan ITB saja. Itu banjir, belum yang lain. Masa ada UI, ada ITB, kok masih ada banjir. Nggak betul itu. Sini (bandung) ada ITB, (malah) macet sekali lalu lintasnya. Wah, nggak boleh itu.

Padahal disini ada pusat (Pendidikan) transportasi. Kenapa kok transportasi kota (bandung) masih begini. Itu yang gak ada (sentuhan ITB). Jadi itu yang terlihat pertama kali, jadi bukan Bandung aja, tapi Jakarta juga.

Banjir terus menerus. Bagaimana? Masa nggak bisa mengatasi banjir. Oleh karena itu permasalahan Bandung ada disini.

ITB (harusnya) usul kepada Menteri PUPR. Kita selenggarakan pertemuan untuk memecahkan masalah-masalah banjir Jakarta. Karena itu mungkin harus antar provinsi ya. Jadi kita bicarakan dulu aja. Kita jangan ambil oper. Bukan kita yang melaksanakan. Tapi kita mempelajari dan memberikan saran-saran. Apa yang harus dikerjakan.

Ini yang disini (Bandung) juga sama saja. Bagaimana memecahkan permasalahan lalu lintas di kota Bandung. Kok nggak ada sentuhannya ITB. Padahal ada pusat transportasi yang hebat, orangnya hebat-hebat itu. Oleh karena itu, waktu itu saya katakan, ITB itu maju berkembang, tapi tidak terkenal. Aku bilang tidak terkenal tuh artinya yang dilakukan dan dihasilkan ITB itu barang-barang yang wah, yang orang takut, takut mendekat, takut menyentuh.

Kalau dulu kemahasiswaan ada namanya Ganesha Intervisity Games(?). Itu pertandingan basket antar mahasiswa se-Indonesia. Di lapangan basket kampus. Jadi rame kampus itu. Rame bukan hanya sekedar karena pengetahuan yang hebat, bukan karena teknologi yang hebat saja, tapi karena ada bagian-bagian yang masyarakat juga menyenangi. Itu penting itu (bagian ini Pak Wiranto matanya berkaca-kaca dengan suara yang sembab).

Kok nggak ada yang menyenangi gini (sekarang). Ya waktu, pada pertunjukan awal basket, banyak orang datang, seneng, jadi terkenal (ITB). Itu saya bilang terkenal. Jadi sekarang (kedengarannya) maju, ITB yang hebat, tapi nggak terkenal. Nggak ada hal-hal yang masyarakat itu “ah, ini (relevan dengan) saya”.

Tapi itu sudah saya katakan ke Pak Kadarsah (Rektor ITB sekarang). Ini bukan ngomong dibelakang. Saya sudah mengatakan semua, tapi belum mengatakan (bagian) yang bikin nggak terkenal itu apa. Ya pasti nggak terkenal. Kalau misalnya juara basket. Juara main bola. Pasti terkenal (di masyarakat). Juara renang. Wong ada kolam renang (Saraga). Juara menyelam.

Pasti terkenal itu. Tapi ini belum terkenal karena bagian-bagian yang masyarakat “Oh, ini yang aku bisa (relevan. Aku ngerti”. Ya kan sekarang rangking nomor sekian. ITB itu hebat. Nggak ada masalah terhadap rangking. Tapi disini, dimana masyarakat itu mengerti.

Tapi gak ada itu. Coba ITB juara sepakbola, basketnya juara, pasti terkenal. (Harus) se-Indonesia. Dengan itu (lomba basket tadi) semua mahasiswa Indonesia kumpul di kampus main basket di kejuaraan basket itu, namanya Ganesha Intervisity Games (?).

Ya, tapi saya ingin itu diperhatikan dan kembali lagi, tapi susah karena seolah-olah gak ada sentuhan. Tidak ada sentuhannya ITB. Kok masih ada kali yang kotor. Wong Bandung kok banjir itu gimana. Padahal dataran tinggi. Kalau Jakarta banjir masih bisa dimengerti. Tapi kita juga harus mengerti juga, kok hal itu ada terus. Kok nggak bisa diselesaikan. Ada masalah polusi.

Kenapa hal itu terjadi. Ya itu bukan salahnya rektor. Kita semua juga bersalah. Karena kita tidak ikut (memikirkan). Kenapa kok tidak mau ikut (berpikir), padahal walikotanya itu dulu alumni ITB. Kenapa dia juga tidak mendekat ke ITB. Jadi masalahnya itu.

Hubungan baik, kerjasama, itu kita harus memelopori di jaman teknologi maju. Supaya hasilnya lebih banyak. Jadi kita yang proaktif. Jangan kita menyalahkan orang lain. Kita harus proaktif. Mulai dari mahasiswanya, semua (elemen kampus). Mahasiswa (harus) yang ramah juga kepada masyarakat balubur, cisitu, itu (harus) begitu. Nanti pasti dilindung (oleh masyarakat). Pasti orang bicara tentang ITB.

U: Kalau saat ini kan Pak Wiranto, sempat menjadi rektor kemudian membantu presiden Soeharto jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Maka tadi gagasan yang bapak yang sampaikan yaitu kecedasan emosional, itu (apakah) di scale up, diperluas cakupannya ketika menjadi Menteri?

W: Tapi itu saya juga bicara dengan universitas karena saya juga anggota Dewan Penyantun Unpad. Saya juga berbicara dengan rektor dan (hasilnya) hampir semua begitu. Tapi ITB harus mempelopori.

Jadi semua orang itu ingin kerjasama. Semua ingin, masyarakat bandung ingin. Jadi ITB mempelopori supaya melihat (bahwa) kerjasama itu penting. Itu yang harus terjadi. Jadi kita memicu (untuk) kerjasama. Itu jadi semua mahasiswa ikut mendorong kejasama, bergaul sama unpad, main, jangan di kampus saja.

Dan ini baik, Karena paling tidak saling silaturahmi. Silaturahmi pasti bermanfaat. Bagi sendiri juga bagi semua orang. Kita makin terlatih (kerjasama), makin cerdas. Sebab melihat banyak persoalan. Dari-dari pembicara-pembicaraan itu kita lihat (ketika bergaul). Oh, ada persoalan ini ya, oh ada permasalahan ini, ada soal ini, soal ini, dst. Kita (menyelesaikannya) tidak sendiri saja.

Kalau tentang jadi Menteri itu, diangkatnya jadi Menteri yang susah. Soal jadi menterinya gampang. Ada dirjen (yang membantu) dan yang lain. Selain punya visi, tapi kalau sudah menjadi tugas punya kekuasaan atau authority itu nggak ada masalah. Tapi diangkatnya jadi Menteri yang susah.

Saya sejujurnya nggak ngerti, itupun aku nggak minta, nggak pernah deket-deket. Ya itu diangkatnya.

U: Berarti setelah Pak Daoed Joesoef (jadi Menteri Pendidikan) ya Pak?

W: Jadi saya sudah kurang deket dengan Pak Daoed Joesoef. Jadi mungkin Daoed Joesoef juga tidak tahu banyak tentang saya. Kan saya tahu (tentang) beliau.

U: Selanjutnya pertanyaan paling terakhir Pak Wiranto untuk saat ini, di tahun depan, tahun 2020, ITB akan memperingati 100 trahun PTTI, atau Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia. Apa pesan Pak Wiranto pada ITB dan juga Indonesia, khususnya perguruan tinggi Teknik?

W: Tapi nggak ada titipan. ITB itu sudah maju, sangat maju sekali. Saya ingin bahwa ITB itu harus lebih bermanfaat. Itu yang harus terjadi (dilakukan). ITB must be useful. Useful ini yang paling penting. Harus bermanfaat ITB itu.

Tapi ya tadi sekali lagi, kerjasama harus dipelopori. Karena itu adalah sesuatu yang kalau dilaksanakan pasti makin bermanfaat kemajuan teknologi makin bermanfaat. Dengan kerjasama makin bermanfaat.

Oleh karena itu, semangat kerjasama itu kita pancarkan. Kita harus pancarkan semangat kerjasama. Antar universitas, antar universitas dengan masyarakat, antar universitas dengan pemerintah, antar universitas dan semua. Itu yang penting.

1. 1 Jam Bersama Prof. Wiranto Arismunandar dari ITB, Mahasiswa Harus Gaul sampai Perguruan Tinggi yang dekat dengan Masyarakat.
Foto Bersama Prof. Wiranto Arismunandar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *