7 Peristiwa Olahraga Paling Bersejarah di Indonesia

7 Peristiwa Olahraga Paling Bersejarah di Indonesia – Olahraga di Indonesia awalnya berkembang dari kegiatan fisik untuk kebugaran, seni, dan ritual. Di akhir penjajahan Belanda, Indonesia mulai mengikuti beberapa turnamen olahraga dunia dengan membawa nama Dutch Indies. Ada banyak sekali peristiwa olahraga Indonesia bersejarah yang membanggakan, mencengangkan, dan menarik. Berikut 7 Peristiwa yang Menjadi Berita Olahraga Paling Bersejarah di Indonesia.

Setidaknya ada 7 Kejadian di Olahraga Indonesia yang Cukup Bersejarah:

  1. Keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia Sepakbola 1938
  2. Penyelenggaraan PON Pertama 1946
  3. Indonesia Juara All England Pertama Kali 1959
  4. Penyelenggaraan Asian Games 1962 di Jakarta Indonesia
  5. Kontroversi Ganefo di Indonesia
  6. Keikutsertaan dan Kejayaan Indonesia di SEA Games
  7. Keikutsertaan, Medali, dan Emas Pertama Indonesia di Olimpiade

Mari kita simak beberapa cerita peristiwa bersejarah Indonesia di bidang olahraga berikut ini:

Keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia Sepakbola 1938

Indonesia dengan nama Dutch Indies atau Hindia Belanda mengikuti piala dunia sepakbola di tahun 1938 yang dilangsungkan di Perancis. Saat itu di berbagai belahan dunia sedang mengalami kecamuk perang. Awalnya banyak negara memutuskan untuk tidak ikut piala dunia ini. Seperti beberapa negara di benua amerika yang menganggap harusnya piala dunia dilaksanakan bergantian antara di Eropa kemudian Amerika.

Situasi politik pun menjadi alasan lain ketidakikutsertaan negara lain. Hal ini dikarenakan pengaruh kolonialisme negara Eropa yang masih mencengkram tidak baik negara jajahannya. Pengeculian tentu Indonesia atau Hindia Belanda saat itu.

Bahkan hanya Brasil dan Kuba sebagai perwakilan Amerika Selatan yang kemudian menjadi calon kuat juara di piala dunia 1938. Uruguay dan Argentina yang menguasai periode piala dunia dua edisi sebelumnya memutuskan untuk absen dengan alasan pada paragraf sebelum ini.

Tiga kali penyelenggaraan piala dunia akhirnya tetap tidak mampu merepresentasikan kata “dunia” atau “world” karena tidak diwakili oleh tim negara terbaik. Saat itu peserta piala dunia 1938 berjumlah 15 negara yaitu: Dutch Indies atau Hindia Belanda (Indonesia), Belanda, Hongaria, Italia, Jerman, Brasil, Kuba, Polandia, Swedia, Swiss, Rumania, Cekoslowakia, Belgia, Norwegia, dan tuan rumah Perancis.

Sebenarnya untuk lolos ke Piala Dunia saat itu ada kualifikasi dahulu di tingkat Asia. Di Asia saat itu sepakbola belum menjadi olahraga yang dimainkan secara luas. Kondisi perang dan dijajah oleh bangsa barat adalah alasan lain. Saat itu hanya Jepang dan Hindia Belanda yang harusnya mengikuti kualifikasi. Namun Hindia Belanda akhirnya lolos otomatis karena Jepang sedang menahan gencatan perang dengan Cina.

Sepak Bola Indonesia di Piala Dunia 1938

Saat itu ada permasalahan dualisme tim sepakbola Indonesia. Orang republik seperti Soeratin Sosrosugondo sebagai pendiri dan ketua PSSI 1930 menolak membawa pemain di bawah naungan badan PSSI untuk membela Hindia Belanda. Soeratin meminta ada pertandingan yang mengadu pemain di bawah PSSI dan Hindia Belanda untuk menunjukkan pemain terbaik.

Akhirnya tim yang berangkat di Piala Dunia 1938 diwakili oleh sebagian besar orang Belanda, keturunan pemain Tionghoa, dan sedikit pribumi.

Di tanggal 5 Juni 1938 menghadapi tim kuat calon juara saat itu, Hongaria di Stade Velodrome, Reims, Perancis. Pertandingan yang dilihat langsung oleh 9000an orang itu berjalan tidak seimbang dengan kemenangan Hongaria 6-0. Hongaria di turnamen ini menjadi finalis setelah dikalahkan 2-4 oleh Italia.

Namun ini tetap prestasi Indonesia dengan membawa nama Hindia Belanda karena menjadi peserta Piala Dunia pertama dari Asia. Semoga kita bisa mengulangi lagi ya prestasi ini~

Penyelenggaraan PON Pertama 1946

Setelah merdeka Indonesia giat membangun infrastruktur olahraganya kembali. Hal itu salah satunya dengan ikut serta dalam Olimpiade, acara olahraga terbesar sejagad bumi. Namun permasalahannya banyak negara belum mengakui keberadaan Indonesia. Selain itu Indonesia belum dianggap sebagai anggota IOC (International Olympic Committee).

Olimpiade London di tahun 1948 menjadi acara olahraga Olimpiade pertama yang ingin diikuti dengan membawa nama Indonesia. Namun dengan dua alasan diatas Indonesia belum bisa mengikuti turnamen ini. Hal ini tentu mengecewakan karena lewat kompetisi ini Indonesia berharap mendapat keuntungan politik yaitu semakin dikenalnya Indonesia di ranah dunia.

Untuk mengobati kekecewaan itu, pemerintah Indonesia salah satunya mengadakan turnamen nasional pertama dengan format seperti Olimpiade. Turnamen ini di kenal sebagai PON (Pekan Olahraga Nasional). PON pertama kali iselenggarakan di tahun 1948 di kota Solo.

Dengan adanya PON I 1948 Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia ini benar-benar ada, memiliki pemerintahan yang berdaulat, dan didukung oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal ini tidak mungkin terwujud apabila kegatan olahraga tingkat nasional tanpa ada dukungan dan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Sungguh sarat akan perjuangan ya penyelenggaran PON pertama ini~

Indonesia Juara All England Pertama Kali 1959

Penyelanggaran cabang olahraga badminton sebagai salah satu olahraga favorit masyarakat Indonesia baru ada di Olimpiade tahun 1992. Sebelumnya salah satu turnamen tingkat dunia yang diakui dan mengadakan cabang Badminton adalah All England.

Indonesia pertama kali mendapat juara All England di tahun 1959. Juara ini dipersembahkan dari nomor tunggal putra atas nama Tan Joe Hong. Sangat istimewa karena saat itu Tan Joe Hong di final mengalahkan wakil dari Indonesia juga, Ferry Sonneville.

Perjuangan dan Kejayaan Indonesia di Badminton All England

Setelah itu Indonesia mengalami pasang surut dalam perebutan juara. Indonesia mendapat juara dan kejayaan lagi di tahun 1968 lewat tunggal putra, Rudi Hartono (yang kemudian juara 7x berturut turut) dan ganda putri, Minarni Soedaryanto dan Retno Koestijah. Di masa setelah reformasi Indonesia sempat kosong gelar di tahun 2004-2011. Di All England ini menjadi negara yang paling sering juara dengan perolehan 48 juara selama penyelenggaran.

Penyelenggaraan Asian Games 1962 di Jakarta Indonesia

Sejak tahun 1951 Indonesia selalu ikut perayaan Asian Games. Indonesia selalu ikut setiap turnamennya dan menjadi tuan rumah di penyelenggaraannya yang keempat saat tahun 1962. Presiden Soekarno lewat berbagai lobbynya sangat mengharapkan Indonesia menjadi tuan rumah.

Lawan politik Bung Karno saat itu menolak mentah usulan Presiden dengan mengatakan bahwa negara yang sedang membangun tidak memerlukan keberadaan Asian Games ini. Harusnya uang besar yang dikeluarkan bisa digunakan untuk manfaat lainnya.

Namun Bung Karno tetap bersikukuh bahwa keberadaan Asian Games ini untuk keuntungan politik pengaruh, ekonomi, dan kesejahteraan Indonesia di masa depan yang nilainya sangat lebih besar dari modal yang akan dikeluarkan.

Setelah terpilih sebagai tuan rumah di tahun 1960, Indonesia segera mempersiapkan banyak infrastruktur pendukung. Di mulai dari fasilitas olahraga sampai jaringan distribusi informasi berupa televisi di bangun saat itu. Bisa dianggap tahun 1960 terjadi salah satu lompatan besar Indonesia dalam kehidupan bernegara.

Asian Games 1962 di Jakarta Indonesia

Stadion super megah Stadion Gelora Bung Karno di bangun dengan jumlah kursi saat itu menjadi salah satu yang terbesar di dunia, bisa menampung lebih dari 100 ribu kursi. Jaringan televisi TVRI diudarakan agar informasi dari Asian Games ini bisa disaksikan oleh seluruh anak bangsa di setiap jengkal negeri.

Prestasi Indonesia saat itu juga sangat membanggakan dan sulit diulangi kembali. Di akhir penyelenggaraan Indonesia mendapat peringkat dua dengan sumbangsih 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Beberapa cabang olahraga penyumbang emas tersebut berasal dari bulu tangkis, balap sepeda, dan lompat indah di kolam renang.

Prestasi terdekat Indonesia adalah menjadi peringkat empat Asian Games ketika penyelenggarannya ada di Jakarta Palembang di tahun 2018 kemariin. Setengah dari jumlah emas yang ada disumbangkan dari cabang olahraga silat. Sudah barang tentu setiap penyelenggara turnamen di beri hak khusus menyelenggarakan cabang olahraga unggulan yang bisa jadi belum pernah terselenggarakan sebelumnya

Semoga kejayaan Indonesia di Asian Games bisa terjadi lagi walau bukan tuan rumah ya~

Kontroversi Ganefo di Indonesia

Setelah turnamen Asian Games 1962 yang dianggap sukses oleh berbagai negara di dunia, Preside Soekarno ternyata masih menghadapi berbagai kecaman. Hal ini berasal dari keputusan untuk menolak keikutsertaan Taiwan dan Israel saat Asian Games dengan alasan politik. Saat itu politik Indonesia yang non blok memberi simpati kepada negara Arab dan Tiongkok. Akhirnya, Indonesia mendapat kecaman untuk dikeluarkan dari anggotan IOC (International Olympic Committee).

Presiden Soekarno membalas kecaman tersebut dengan melepas keanggotan IOC (International Olympic Committee) kemudian membentuk organisasi tandingan dengan berbagai negara ketiga dan nonblok bernama GANEFO (Games of the New Emerging Forces). Idenya menyelenggarakan turnamen olahraga banyak cabang setiap dua tahun sekali.

GANEFO pertama dilaksanakan di Indonesia di tahun 1963. Turnamen ini diikuti oleh 51 negara dengan wakil lebih dari 2700 atlet berlaga. Indonesia mampu mendapat tempat ketiga untuk perolehan medali dengan 17 emas, 24 perak, dan 30 perunggu. Indonesia hanya kalah dari negara Tiongkok dan Uni Soviet di tempat pertama dan kedua.

GANEFO akhirnya hanya bertahan dalam dua edisi penyelenggaraan. Ketika GANEFO III di tahun 1970 akan dilaksanakan ternyata akhirnya terbatalkan atas beberapa sebab. Setelah gagal penyelenggaraannya, GANEFO akhirnya bubar, tinggal kenangan.

Keikutsertaan dan Kejayaan Indonesia di SEA Games

Awalnya kompetisi ini dimulai di tahun 1959 dengan nama SEAP (Southeast Asian Peninsular Games). Diusulkan oleh Laung Sukhumnaipradit sebagai wapres komite olimpiade Thailand. Hanya diikuti 6 negara di semenanjung Asia Tenggara, pesta olahraga ini pertama dilaksanakan di Thailand pada tanggal 12-17 Desember 1959.

Indonesia baru diundang kemudian mengikuti turnamen ini di tahun 1977. Di tahun itu juga namanya berubah jadi SEGF (Southeast Asian Games Federation) kemudian jadi SEA Games yang kita kenal sekarang.

Sejak awal keikutsertaannya dari tahun 1977 sampai tahun 2001, Indonesia sangat menunjukkan kejayaannya di level SEA Games. Tercatat di periode tersebut Indonesia meraih peringkat pertama tabel perolehan medali sebanyak 9 kali dari 13 penyelenggaraan.

Sayang sekali setelah tahun 2001 Indonesia cukup memble prestasinya dengan sekali juara pertama saat jadi tuan rumah 2011, 2 kali juara tiga, sisanya bergantian juara empat dan lima saja.

Semoga prestasi Indonesia kembali menjadi yang terbaik dan mengembalikan kejayaannya ya~

Keikutsertaan, Medali, dan Emas Pertama Indonesia di Olimpiade

Setelah merdeka Indonesia membentuk Komite Olimpiade Nasional di tahun 1946. Namun karena baru diakui oleh dunia di tahun 1952. Olimpiade pertama yang diikuti oleh Indonesia yaitu Olimpiade pada tahun 1952 di Helsinki, Finlandia.

Di tahun itu Indonesia hanya mengirim 3 atlet dari 3 cabang olahraga berbeda. Baru pada edisi Olimpiade Melbourne 1956, Indonesia dikenal dunia olahraga karena di cabang olahraga sepak bola mampu menahan imbang calon juara, Uni Soviet, yang diperkuar kiper legendaris Lev Yasin.

Skuad Indonesia dipuji besar oleh banyak media internasional, walau kualitasnya memang mumpuni karena berhasil menjadi semifinalis Asian Games di tahun yang sama.

Indonesia sempat tidak ikut pada penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 1964 karena permasalahan dengan IOC terkait GANEFO dan Olimpiade Moskwa 1980 karena ikut serta boikot atas perang Soviet-Afganistan.

Setelah kosong medali selama puluhan tahun, akhirnya medali pertama itu hadir di Olimpiade Seoul 1988. Lewat cabang olahraga panahan Indonesia hadir mengejutkan dunia. Tiga srikandi Indonesia: Lilies Handayani, Nurfitriana, dan Kusuma Wardhani meraih medali perak untuk beregu putri. Sebuah prestasi dan loncatan yang tinggi untuk Indonesia di penyelenggaraan selanjutnya.

Di periode Olimpiade selanjutnya di Barcelona 1992, medali emas yang sangat ditunggu itu akhirnya hadir. Susi Susanti lewat tungal puteri cabang olahraga Badminton menegaskan Indonesia tidak bisa dianggap remeh di kompetisi dunia.

Foto dan video epik Susi Susanti yang bercucur tangis haru menaikkan bendera merah putih Indonesia menjadi headline di koran Indonesia dan dunia.

Indonesia di Olimpiade dari 1952-2016

Bukan hanya satu medali emas, namun dua medali emas Indonesia bisa dapatkan di Olimpiade Seoul 1992 ini lewat tambahan Alan Budi Kusuma dari tunggal putra di cabang olahraga lagi-lagi badminton. Alan kelak menjadi pasangan suami istri dengan Susi Susanti, power couple versi medali emas Indonesia di Olimpiade.

Hasil tersebut membawa Indonesia terbang tinggi menempati peringkat 24 dengan total 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Dari Barcelona 1992, Indonesia selalu mendapat 1 emas kecuali pada edisi London 2012.

Yuk kita doakan kejayaan dan prestasi lebih baik dapat didapatkan atlet Indonesia di ajang Olimpiade dan acara olahraga bergengsi lain selanjutnya~

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment