Apa Itu Risk Tolerance? Perbedaan dengan Risk Appetite

Apa Itu Risk Tolerance? Perbedaan dengan Risk Appetite – Ramadan #18 – Ini series ketiga mengenai apa itu risk tolerance. Bagaimana perbedaannya dengan risk appetite. Bagaimana pentingnya pemahamannya di manajemen risiko, bahkan di dalam manajemen proyek.

Series ini bagian dari series Ramadan yang sedan giat saya tulis. Semoga banyak baiknya diterima. Silahkan sitasi apabila membutuhkan. Saya sertakan sumbernya di akhir series tulisan.

Apa Itu Risk Tolerance? Perbedaan dengan Risk Appetite

Risk tolerance biasanya dikenal juga sebagai risk appetite adalah besarnya risiko sebuah organisasi yang dapat ditoleransi di dalam proyek. Di dalam konteks manajemen risiko korporasi ada perbedaan kecil antara istilah risk tolerance dan risk appetite.

Bagi Manajer Proyek Bisa Menganggap Sama

Tetapi untuk tujuan kita sebagai manajer proyek, kita tidak perlu takut terhadap perbedaan tersebut. Kita bisa menganggap kedua istilah tersebut sebagai sesuatu yang sama.

Apa Itu Risiko?

Kita pahami dahulu apa itu risiko. Risiko adalah ketidakpastian yang dapat mempengaruhi hasil outcome dari proyek. Kita menggambarkan risiko dengan grafik, dimana besar kemungkinan (atau ketidakpastian) di sumbu X dan pengaruhnya terhadap hasil (outcome dari proyek) di sumbu Y.

Bagaimana Menggambarkan Risk Tolerance?

Kita menggambarkan risk tolerance dengan wilayah yang ada di grafik, dimana kita tidak siap untuk menerima risiko. Ini akan menjadi batasan dari grafik yang kita buat.

Apabila sebuah proyek memiliki risiko di dalam wilayah risk tolerance dan kita tidak dapat membawa risiko tersebut keluar, maka tidak ada tindakan yang bisa mengurangi kemungkinan dan akibat terjadinya risiko tersebut.

Related:   Apa itu Manajemen Proyek Berdasarkan PMBOK?

Di luar batas wilayahnya, kita tidak dapat menolelir risikatau kita tidak mengerjakan proyek tersebut apabila kita tidak dapat mengendalikan risiko yang bisa terjadi.

Hanya sedikit sekali organisasi yang dapat melakukan pendekatan dengan baik dengan risiko yang bisa terjadi. Seringnya mreka akan menolelir risiko diluar garis batas dari wilayah risk tolerance.

Organisasi dan Cara Mengendalikan Risiko

Organisasi dapat mengadopsi sejumlah postur risiko strategis yang berbeda. Ini akan memberi hasil yang berbeda dari yang menghindari risiko yang tinggi dengan pendekatan konservatif yang berhati-hati sampai dengan pendekatan yang lebih terbuka yang menghasilkan batas risiko yang lebih besar untuk diterima.

Dimana dalam kasus terakhir, organisasi sangat membutuhkan inovasi, kreativitas, dan tetap menerima kemungkinan risiko untuk mendapat kemungkinan pengembalian yang tinggi di dalam proyek.

Risk Appetite yang Berbeda di Setiap Proyek

Organisasi sejujurnya tidak hanya memiliki risk appetite tunggal untuk semua portofolio proyek. Setiap proyek memiliki profil risiko proyek yang berbeda yang harus dipersiapkan seberapa besar risiko yang mampu ditanggung setiap proyeknya.

Tetapi untuk proyek penting, dimana kegagalan memiliki ancaman yang serius terhadap keberjalanan, operasional, penjualan organisasi, maka diperlukan toleransi risiko yang lebih rendah untuk risk appetite.

Kesimpulan

Risk tolerance yaitu seberapa besar risiko yang dipersiapkan untuk diterima di dalam proyek kita. Kita menggambarkannya secara visual dengan sebuah grafik besar kemungkinan vs besar akibat dari risiko proyek kita.

Kita dapat mengatur seberapa besar risk rolerance untuk setiap proyek berdasar potensi manfaat proyek yang berakibat terhadap kegagalan, budaya, besar inovasi, dan distribusi risiko yang ada di dalam portfolio proyek kita.

Apa Itu Risk Tolerance? Perbedaan dengan Risk Appetite

Referensi

  1. Online PM Courses – Mike Clayton (2021, April 23). What is Risk Tolerance? Project Management in Under 5 [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=2WJA1I4lPls
Related:   Introduction to Value Engineering

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment