Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Bangkrutnya Startup?

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Bangkrutnya Startup? – Bangkrutnya banyak startup, termasuk yang terbaru, Sorabel, makin menguatkan hipotesis saya terhadap faktor fundamental yang menjadi penyebabnya. Sebenarnya dalam dunia stratup, bangktut dan sukses untuk exit dan mempunyai bisnis yang berkelanjutan merupakan hal yang biasa. Bahkan dalam riset oleh CBInsights dikatakan bahwa hanya 10% strartup yang mampu bertahan di tahun pertamanya.

Penyebab Banyak Startup Bangkrut

10 Besar Hal yang Menyebabkan Startup Bangkrut:

  1. Pasar tidak membutuhkan produknya: 42%
  2. Tidak punya pengelolaan cash perusahaan yang baik: 29%
  3. Tidak punya tim yang baik: 23%
  4. Tidak kompeten dengan produknya: 19%
  5. Isu berkaitan harga: 18%
  6. Mengeluarkanroduk yang tidak ramah pengguna 17%
  7. Mengeluarkan produk yang tidak punya model bisnis yang jelas: 17%
  8. Pengiklanan yang buruk: 14%
  9. Dilupakan pembeli: 14%
  10. Mengeluarkan produk disaat yang tidak tepat: 13%

Keserakahan

Keinginan untuk menguasai market sebesar-besarnya, membuat para startup ini mengejar growth yang sangat masif. Sehingga daya ungkit berupa modal cash dipakai habis-habisan untuk hal sekunder berupa subsidi, engineering, etc, bukannya untuk riset hal utama, yaitu product atau service yang diberikan.

Keserakahan ini pula-lah yang melahirkan kompetisi tidak sehat, menghancurkan kompetitor bermodal cekak dengan subsidi. Padahal jika bertanding fair, maka inovasi dalam kualitas product atau service akan muncul. Subsidi itu bukan inovasi. Kompetisi yang fair juga akan membuat distribusi kekayaan lebih merata, tidak dikuasai segelintir orang.

Lebih Terfokus Pada Business Model daripada Product Quality.

Coba bandingkan, hal-hal di bawah ini dan cermati hal yang tidak logis mengenainya:

  1. Anda mengikuti persis business model McD, sementara rasa masakan ayam anda biasa saja.
  2. Anda punya resep ayam yang rasanya melebihi McD, namun business model anda kurang tepat.

Saya berani bilang, bahwa probabilistically, part 2 tetap membuat anda kaya (produk tetap laku), hanya saja beda levelnya dibandingkan jika business model anda tepat. Sedangkan part 1, lebih besar kemungkinan anda bangkrut.

Contoh Google. Google di awal memiliki algoritma search engine yang jauh melebihi kompetitornya, menggunakan mathematics, tepatnya adalah markov chain. Hak paten mereka ada di karya intelektual pendirinya, algoritma tersebut.

Banyak sekali search engine sebelum google, atau sesudah google, dengan business model yang mirip, tapi hancur semua dilibas oleh kekuatan algoritma google. McD, KFC, Coca Cola, unggul pada kualitas produknya (rasanya sangat lezat). Jadi, business model penting, tapi kalah penting dibandingkan kualitas product atau service yang menjadi inti “jualan” perusahaan.

Glorifikasi Media

Media dan publik mengglorifikasi startup, karena fokus kepada growth yang massif. Akhirnya terjadi rebutan talent. Talent pun dihargai overpriced, tidak sebanding dengan skillnya. Pengolahan data fokus pada prediksi dan prediksi, bukan pada inference.

Kenapa? Sebab melakukan prediksi itu, secara umum, statistically lebih mudah daripada inference. Inference dasarnya ‘why’, prediksi dasarnya ‘how’. Sedang why lahir dari framework berpikir yang didasari rigorous mathematical thinking.

Umumnya dimiliki oleh orang-orang yang mencapai PhD level. Karena fokus pada prediksi dan engineering, akhirnya dicari talent-talent yang sekedar “good enough” (misal lulusan Master Computer Science yang menjadi Data Scientist), bukan talent yang excellent pada inference (misal PhD statistics). Overhyped pada data science. Belum lagi dominasi lulusan MBA, yang tentunya overrated & overpriced juga.

Sumber

Diskusi bersama Pak Choy

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment