Kemarin ternyata keos sekali melakukan beberapa hal yang sudah terencanakan. Selain menggarap UAS sehabis dhuhur, ternyata saya baru ingat kalau menjanjikan untuk badminton di GOR Cisitu dan Buka Bersama dengan kawan sepaguyuban GANONG angkatan 2015. Ide badminton pasti jadi karena sejak Februari awal sepertinya setiap minggu selalu main di tempat yang sama. Untuk buber ini yang menginisiasi Annas, karena ya memang sejak 2015 masuk kuliah kita belum pernah foto lengkap dalam satu frame. Kalau nggak Zacky yang sibuk dengan asrama sekolah Pribadi, Vidi aktivis himpunan, atau Ucup yang di Jatinangor, dan Tegar yang ngajar OSN di luar pulau.

Setelah duhur saya berusaha mengelarkan UAS seefektif dan seefisien mungkin karena cheatsheet yang isinya hanya algoritma pengerjaan tanpa materi definisi dll. Eh satu dari soal keluar yang gak ada itungannya, keoslah pengerjaan saya mengingat-ingat hal yang saya sebenernya juga gak ingat, hehe. 

Setelah UAS saya segera keluar melihat ke Warung SS di Bandung yang baru buka sebulan dua bulan ini buat buka bersama, karena biasanya kalau gak puasa Senin itu jadwalnya tutup. Eh, buka tapi tapi gak bisa reservasi. Akhirnya ada yang mau ngalah, Vidi yang laptop TAnya habis jatuh dan tidak terselamatkan, mau datang pukul 16.30. Saya akhirnya bisa balik untuk sholat dan badminton dulu.


Ganong ITB 2015
Ganong ITB 2015

Sedikit impresi tentang mereka yang menyempatkan di awal sebuah akhir perjalanan keluarga kecil di masa kuliah ini.

Dari kiri ke kanan,

Tegar, Tegar Satria Nur Huda

Sudah kenal Tegar sejak SMP. Pekerja keras dan menyayangi keluarga, halah. Cerita menarik dulu ketika Tegar masih SMP, selain doi jadi Ketua OSIS yaitu ditelepon jam 5 pagi masih di sawah bersama Bapaknya, hehe.

Dulu pernah menjalani seleksi masuk SMAN 10 Malang bareng walau akhirnya yang lolos Tegar, jelas, hehe. Pernah berminggu-minggu sekamar pelatihan bareng Tegar, duh.

Kesibukan doi cukup banyak, selain himpunan, unit, dkk masih ngajar OSN di berbagai daerah di Indonesia. Ratenya cukup tinggi. Seharinya kalau ada intensif OSN yang menginap bisa buat kita berenam makan Hanamasa sepuasnya dengan rate April 2019. Ya, paling berduit dan paling banyak bolos mungkin Tegar, hehe.

Keinginan habis kuliah Tegar sebenernya selalu mengajak untuk bikin-bikin perusahaan atau startup di pertanian atau peternakan, entah itu di Lembang atau Ponorogo. Selain untuk cuan pribadi dan bersama, juga ada kegelisahan untuk mensejahterakan lingkungan sekitar. Sungguh mulia niatnya, hehe. 

Sayang ketika saya diajak diskusi untuk mulai bareng, saya belum punya greget besar karena butuh tahu hulu-hilir yang ada di industri ini. Selain itu, Tegar punya keterbatasan harapan orang tua yang berharap lulusan ITB ini nanti bekerja seperti kebanyakan orang lain, menjadi pegawai di korporasi besar. Ya semoga Tegar tetep bisa gan, siapa tahu saya bisa bantu juga dengan sebelumnya tercerahkan dengan industri ini.

Jaki, Achmad Zacky Fairuza

Orang paling lama mungkin yang saya kenal diantara 5 orang lain. Saya sudah kenal Zacky, sejak SD, hehe. Maklum semua lomba akademik Jaki pernah ikut waktu SD, saya juga ikut. Hebatnya lagi, Jaki adalah yang nomor 1 di SDnya. Bahkan kayaknya di angkatan doi, lomba-lomba gede akademik, seringnya cuma doi doang perwakilan SDnya yang menang.

SD doi, SD Maarif, yang letaknya cuma 100 m dari SD saya, SD Muhammadiyah. Selain panas karena persaingan di lomba-lomba gitu, persaingan 2 organisasi massa besar yang menyokong yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kalau anak Muhipo, sebutan SD Muhammadiyah, lewat pasti ricuh rame gak jelas kayak anak kecil, ya emang anak SD sih.

Seumur hidupnya untuk masalah sekolah, mungkin Zacky hanya bermasalah dalam hal pelajaran olahraga. Kalau nggak ada mata kuliah olahraga di ITB, IP Zacky dah 4 terus pas tahun pertama atau di TPB, sekaligus dapet Mapres Utama minimal di Fakultas. Kalau dapet, dari ngobrol dengan alumni, terakhir anak Ponorogo dapet itu di tahun 1997. Doi malah dapet Mapres Utama se ITB, hehe. Tapi sayang Mapres di ITB lebih gede porsi di IP sih menurut saya, bukan di kontribusi dll.

Mimpi Zacky ini paling beyond dan beda dari orang lain. Dengan sederet prestasi mentereng, juga akademik yang lancar, harusnya keinginan berbanding lurus. Impian yang bakal kasih duit, dunia, dll yang banyak besar. Impian yang bakal kasih priviledge dan jabatan tinggi. Tapi Zacky beda, dari SMP cita-citanya jadi Guru.

Saya langsung gak percaya, begitu juga Bapak saya yang sudah kenal lama. Pasti ya Guru itu, guru besar, alias jadi Profesor. Ya mana mungkin orang dengan akademik se lancar Zacky, jadi guru biasa saja. Tapi kalau ditanya jawabnya bahkan dia terima kalau cuma jadi Guru Olimpiade seperti Bu Fina. Beliau sosok yang menginspirasi Zacky, untuk terus mencari hakikat fisika dari SMP sampai kuliah ini.

Aktivitas Zacky setelah menjadi ketua angkatan PSTK 2015 dan membangun awal paguyuban lain yaitu Ukawangi Banyuwangi yaitu menjadi Abi atau kakak di asrama SMA Pribadi. Sebuah sekolah yang satu yayasan dengan SMA nya dulu. SMA yang dulu berafiliasi dengan yayasan asalnya di Turki dengan keunggulan ada fokus untuk olimpiade akademik ini, yayasan asalnya di blokir di Indonesia.

Setelah lulus ini Zacky adalah orang yang paling siap untuk segera mengambil S2. Dia berharap untuk mengambil master di Jepang. Kalau sama dengan TA yang diambilnya sekarang, maka pekerjaan Zacky bisa berkutat di ruang computer vision dan berbagai material elektronika di sekitarnya.Ya, saya cukup yakin sih Zacky bisa mendapat kesempatan ini. 

Annas, Annas Fatkhurrohman

Saya dah kenal Annas sejak SMP. Berawal dari rangking masuk SMP untuk jalur RSBI. Saya yang rangking 6 saat itu melihat siapa saja yang masuk 10 besar, hehe. Disitu ada Annas yang rangking 3 atau 7, lupa. Saya samar ingat karena masuk RSBI dulu unik sekali membagi kelasnya. Untuk rangking 1 masuk kelas A, rangking 2 ke kelas B, dan seterusnya.

Annas juga sangat pekerja keras, walau latar belakang keluarganya gak bakal saya ceritakan. Saya pastikan Annas adalah sosok yang mengambil kesempatan pendidikan tinggi untuk mengubah nasib yang lebih baik. Tentu hal ini lewat usaha keras doi yang masuk SMP 1 dulu kayaknya sendiri dari SDnya.

Annas adalah satu-satunya yang lolos SNMPTN angkatan saya yang mengambil pilihan ke ITB, dari 7 yang mengambil pilihan kesana. Bisa diartikan ya Annas adalah salah satu anak dengan akademik terbaik di SMA. Di SMA Annas juga menang banyak hal yang menyakinkan dalam bidang statistika dan LKTI.

Di kuliah Annas masih aktif jadi ketua Gamifti muslim FTI, asisten lab, dan di koperasi ITB. Selain doi eksis bersama teman-teman FTI. Ya dah jadi alpha male Bandung.

Setelah kuliah Annas berharap ada di Top korporasi di bidang FGMC dan sekitarnya. Sayangnya doi cerita kalau masuk situ, cara paling mudah yaitu ambil intern sebelumnya, dan doi belum melakukan. Saya kira bisa sih Annas, orangnya teliti dan fokus terhadap apa yang dikerjakan. Selain itu doi suka dengan old industry. Saya tawarkan suruh coba startup gitu doi kurang tertarik soalnya.

Saya, gak usah lah ya

Gak ada yang bikin penasaran. Saya dah sering curhat lewat banyak tulisan. Minta didoakan saja, ilmu dan umurnya semakin bermanfaat dunia akhirat.

Ucup, Yusuf Muhammad Wibisono

Ucup adalah kepingan terakhir dari 6 anak ITB dari Ponorogo. Doi baru ketemu dan berkontak di Desember 2015 saat menjadi salah satu staff di Aku Masuk ITB 2016. Yaiyalah, doi alumni sebenernya. Lulus SMA 2014, dari SMAN 1 Babadan. Sebelumnya kuliah biologi di Unsoed. Jadi doi sah paling tua diantara kita berenam.

Waktu SMA, Ucup juga ikut OSK dan OSP. Doi dapet nomer 2 saat itu. Dimana yang nomer 1 sekarang kating saya di Kedokteran UI #cmiiw. Maka sah-sah aja, kalau Ucup ya sangat pantas sebenarnya dari awal masuk ITB.

Tapi pilihan Ucup 2x ikut SBM pun sebenarnya bukan ITB, melainkan FK, wkwk. FK UGM dan FK Unair, duh susah juga. ITB hanya pilihan terakhir, hehe. Tapi pas dapet SITH-R di kesempatan kedua, doi langsung ambil walau tahu perkuliahannya bukan di ITB Ganesa di Bandung, melainkan di Jatinangor, ̶B̶a̶n̶d̶u̶n̶g̶ Sumedang. Sudah menjadi obrolan internal beberapa orang kurang sreg awal-awal, kalau jauh-jauh kuliah ITB kok gak kuliah di Bandung, malah kuliah di Sumedang.

Dulu sebelum ketemu Ucup ini, saya merasa sebagai anak Ponorogo terasingkan. Ya karena 4 orang lain ini berada di asrama karena mendapat bidikmisi. Walaupun saya seringkali mampir ikut belajar di asrama saat h-1 ujian tpb yang soalnya sama seangkatan, hehe.

Perkuliahan Ucup ini juga lancar, bahkan di tingkat jurusan semakin moncer dan aktif di beberapa hal. Setahu saya selain menjadi BP di himpunannya, Agrapana, Ucup sering ikut lomba karya tulis, dan juaranya juara 1, nggak maen maen sob.

Selain menang lomba, Ucup kemarin inter startup di Malaysia. Mantap kali. Awalnya katanya mau intern 3 bulan, dengan 1 bulan bolos kuliah. Tapi ternyata gak dibolehin bolos jadi cuma 2 bulan. Pengalaman yang enak banget cuy.

Sebenernya habis lulus ini Ucup ambil fastrack S2, eh kebijakannya berubah di tengah perjalanan. Yang boleh lanjutin, hanya yang IPnya 3.5, akhirnya Ucup keluar dari program ini.

Setelah lulus Ucup kayaknya mau masuk di BUMN atau di FGMC atau masih membuka peluang kuliah lagi.

Vidi, Vidiani Setyaningrum

Satu-satunya cewek dalam pergumulan ̶d̶i̶s̶e̶b̶u̶t̶a̶p̶a̶ 6orangan ini. Merupakan back to back anak SMAN 2 Ponorogo yang bisa kembali ada di ITB. Dulu sih kalau cerita dengan alumni, banyak juga lho yang dari SMAN 2. Tapi ya itu sekali dua kali gak masuk, banyak yang menganggap susah karena gak ada alumni. 

Bahkan ada kebijakan SMAN 2, 4 tahun terakhir ini yang gak ngebolehin promosi atau pemberian wawasan Univ kalau yang menyampaikan bukan alumni SMADA. Hal ini jadi sulit, karena 2 tahun terakhir pas ke SMA-SMA di Ponorogo, Vidi pas lagi gak bisa, entah karena kegiatan aktivis terpusat, OS jurusan Oseanografi, atau panggilan magang, hehe. Kami jadi gak bisa masuk sebagai paguyuban. Mungkin proteksi dari sekolah biar gak gede-gede bikin PHP murid, mungkin.

Vidi ini dari awal paling aktif di terpusat, unit, maupun himpunan. Kegiatan terpusat dari wisudaan sampai OSKM ikut terus jadi keamanan. Unitnya secara kuantitas juga paling banyak diantara 5 orang lain. Kalau gak salah ada PSTK, Pramuka, KMPA (?), dst. Di himpunan Vidi jadi Sekretaris Jenderal, sebuah jabatan dibawah Ketua harusnya, hehe. Aktif sekali.

Keaktifan ini juga tercermin dari konsistensi Vidi ketika lagi kumpul paguyuban atau hal lain yang kebetulan saya juga ikut. Vidi selalu datang tepat waktu, tidak pernah telat tanpa alasan yang jelas. Sangat memuaskan kinerja Vidi seperti ini.

Mungkin hanya Vidi, rumah aslinya di Ponorogo saya belum pernah kunjungi atau tahu tepatnya dibanding yang lain. Semoga sebelum lulus bisa mampir-mampir.

Setelah lulus ini Vidi pengen langsung bekerja, mungkin di konsultan Oseanografi atau disekitarnya. Saya yakin sih dengan attitude juara seperti ini, Vidi pasti bisa lancar menjalani karirnya di pekerjaan.


Ada diskusi menarik ketika kumpul ini yaitu ketika Tegar menawarkan ide untuk membuat semacama Foundation dari Alumni ITB Ponorogo. Targetnya anak SMP yang berprestasi dan kurang mampu. Bantuannya berupa uang sekolah dan coaching oleh yang muda-muda baru lulus.

Manfaat adanya semacam beasiswa ini ada banyak salah satunya yaitu kita sebagai alumni jadi ada bahasan ketika kumpul bersama. Selain itu meneruskan manfaat dari nikmat berkuliah ITB itu hal yang tidak bisa dipungkiri. Bentuk beasiswanya sendiri mungkin mencontoh dari apa yang didapatkan Tegar ketika lulus SMP kemudian ditawarkan di SMAN 1 Ponorogo, atau ketika Tegar bersama alumni SMAN 10 Malang sekarang membuat hal tersebut 2 tahun terakhir, atau bisa juga sama dengan apa yang saya sendiri dapatkan dari beasiswa alumni HMS 3 tahun terakhir.

Semoga ini bukan wacana ya gaes. Semoga apapun bentuknya bisa tepat sasaran dan bermanfaat sesuai tujuan awal niatan ini.


Mungkin itu dulu sedikit impresi dan beberapa hal yang saya dengar dari pertemuan yang singkat dibalut Buka Bersama, hehe. Semoga semua harapan dan doa yang baik diterima dan dikuatkan oleh Allah SWT. 

Semoga ini menjadi awal di akhir pertemuan di ITB, semoga jalan kita lancar dan suatu saat bisa sedikit-sedikit membantu Ponorogo dalam berbagai bidang. 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *