Bagaimana Memahami Al-Quran di Era Media Sosial?


Beberapa hari ini Google Books lagi diskon gila-gilaan. Pas saya buka ada beberapa buku wishlist yang harganya cuma puluhan rupiah. Mantap. Sayapun langsung beli buku ini pakai pulsa hp. Buku tujuan saya pertama jelas: Tafsir Al-Quran di Medsos yang ditulis oleh Gus Nadir alias Nadirsyah Hosen. Ketua PCINU Australia, Profesor Hukum dan Syariah di Monash University, serta putra dari Prof. KH Ibrahim Hosen, seorang cendekiawan di kalangan NU.

Mengapa harus baca buku Tafsir Al-Quran di Medsos?

Mengapa saya penasaran banget baca buku ini, apalagi di Google Books? Pertama platform bacanya cukup menyenangkan karena memakai Google Books. Pengalaman UI/UX nya mirip dengan Kindle, namun gak ada fitur semacam e-paper display atau glare-free. Tapi pencahayaannya masih enak kok dengan tampilan buku/majalah.

Kedua, di era post-truth ini kebenaran semakin samar, apalagi yang dibungkus dengan “agama”. Kita butuh dari sekadar paham situasi dan memahami lebih dalam lagi seluruh isu yang beredar di medsos.

Ketiga, kedudukan tafsir Al-Quran selalu menjadi perdebatan tidak berujung dengan klaim satu sama lain yang merasa terbaik. Diam kemudian belajar dari buku yang ditulis Gus Nadir yang punya hierarki ilmu yang jelas, tentu pilihan yang baik bagi saya.

Keempat, murah, haha, kalau beli harganya 40–60an ribu, hehe. Silahkan tambahi aja pengalaman teman-teman bergsinggungan dengan buku ini.

Saya pengen berbagi di bab pertama saja tentang buku ini. Hal-hal yang menjadi latar belakang penulis mengapa merasa penting menuliskan hal ini. Selain itu dijelaskan kedudukan yang penting bagaimana tafsir menjadi perdebatan tak berujung di medsos dengan pedoman kitab klasik dan modern.

Hal yang saya suka dari Gus Nadir ini adalah membeberkan seluruh perbedaan pendapat apabila memang ada. Hal ini menunjukkan di kalangan cendekiawan muslim dengan metode yang berbeda pun masih dimungkinkan untuk berbeda pendapat. Namun pelajaran untuk kita untuk menjadikan hal tersebut sebagai tantangan dalam meraih ilmu. Apalagi untuk kita yang masih sedikit berilmu.

Download buku Tafsir Al-Quran di Medsos

Beli buku Tafsir Al-Quran di Medsos via Google Books

Beli buku Tafsir Al-Quran di Medsos via MizanStore


tafsir al quran di medsos
Cover Buku Tafsir Al-Quran di Medsos

Bagian I: Rahasia Menghayati Kitab Suci Al-Quran

Subbab 1: Bagaimana Memahami Al-Quran

Hal pertama yang diungkap Gus Nadir adalah pertanyaan berikut:

Apa yang kita lakukan ketika bersentuhan dengan satu ayat Al-Quran? Kita mungkin akan mencoba membaca, memahami, kemudian menafsirkan maksud dari ayat tersebut.

Namun bagaimana bisa kita sebagai manusia yang lemah membaca kalamullah, “bahasa” Allah, yang bahkan kita tidak tahu bagaimana hakikat bentuk serta jenisnya?

Al-Quran turun tidak serta merta langsung didapat kemudian dipahami oleh umat. Al-Quran turun lewat banyak medium atau lapisan.

Setidaknya Al-Quran melewati 6 medium atau tahap sebelum sampai terdengar oleh kita di zaman sekarang. Tahapan tersebut yaitu,

6 Medium Sebelum Al-Quran Sampai Terdengar oleh Kita di Zaman Sekarang

Pertama, firman Allah SWT yang dikirimkan yang kemudian diterima dan dipahami oleh Jibril.

Kedua, penyampaian wahyu apa adanya oleh malaikat Jibril dengan medium bahasa Arab yang dipahami Rasulullah. Kedua proses diatas tidak ada perdebatan akan adanya distorsi makna yang di terima oleh Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, penyampaian firman Allah SWT oleh Nabi Muhammad SAW kepada sahabatnya. Bukan hanya peyampaian apa adanya seperti malaikat Jibril, namun Rasulullah juga memberi penafsiran dan penjelasan, bahkan memberi contoh riil bagaimana ayat tersebut diterapkan. 

Keempat, ayat Al-Quran yang dihafal dan ditulis dalam beberapa bentuk kemudian disatukan. Proses ini terjadi setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Hal ini melwati banyak perbedaan pendapat diantara para sahabat, pembentukan panitia pengumpul, dan proses persaksian.

Kelima, proses memperbanyak mushaf dengan berbagai perbedaan pendapat dalam menentukan qiraat (bacaan), penambahan tanda baca, dan pedoman dalam menghadapi perbedaan tersebut. 

Keenam atau yang terakhir yaitu penerjemahan Al-Quran keseluruh bahasa yang ada di dunia. Sebagus apapun tafsir yang dilakukan, pastilah berbeda kualitasnya sebagaimana proses pertama dan kedua.

Ayat Al-Quran tidak turun sekaligus, namun turun berangsur selama 20an tahun yang dalam prosesnya Allah SWT berdialog dengan hambanya dengan medium bahasa Nabi Muhammad SAW sebagai penjelas. Proses yang berangsur ini untuk mengomentari suatu peristiwa khusus yang kita sebut sekarang sebagai asbabun nuzul, sebagian cerita tentang manusia yang lalu, sebagian lagi yaitu tentang pernyataan ketuhanan yang berkaitan dengan aspek kemanusiaan (tauhid, hukum, akhlak, dkk).

Proses pertama dan kedua diatas tidak ada perdebatan akan adanya distorsi makna yang di terima oleh Nabi Muhammad SAW. Umat islam juga menyakini bahwa dalam proses ketiga, Nabi Muhammad SAW dengan kema’shumanya tidak mungkin membuat distorsi makna. Namun beberapa ahli kalam (teolog) mempertanyakan hal ini:

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment

1 thought on “Bagaimana Memahami Al-Quran di Era Media Sosial?”