Di malam tahun baru, ibukota tercinta Jakarta dan beberapa daerah lain di Indonesia di guyur hujan dengan intensitas yang tinggi. Hujan ini mengguyur hampir seharian dari pagi hingga pagi besoknya. 

Kapasitas infiltrasi/penyerapan air ke tanah tidak lagi mampu membendung volume air hujan yang turun dari langit. Sejumlah air yang tidak mampu terserap ke tanah mengalir ke tanah kemudian masuk ke saluran alami atau buatan disekitarnya. Volume air permukaan yang melebih kapasitas tampung saluran mengakibatkan air meluber kemudian banjir menggenangi area sekitarnya.

Diagram Alir Proses Terjadinya Banjir. Kredit oleh Mas Hafiz @MethodologistID

Hal menarik yang menjadi perhatian yaitu curah hujan yang turun sangatlah ekstrim. Di titik tempat terjadinya banjir bahkan curah hujan mencapai >200mm. Sebagai perbandingan desain saluran drainase biasa saat saya kuliah Teknik Sipil dahulu dengan periode 5/10 tahunan hanya sekita 80–140mm. 

Data dari BNPB untuk curah hujan ekstrim 20 tahunan kebelakang, memberi kita betapa ekstrimnya curah hujan kemarin. Data didapat dari Bu Elisa, Executive Director Rujak Center. 

  1. 1996: 216 mm/hari
  2. 2002: 168 mm/hari
  3. 2007: 340mm/hari
  4. 2008: 250mm/hari
  5. 2013: 100mm/hari
  6. 2015: 277mm/hari
  7. 2016: 100–150 mm/hari
  8. 2020: TNI AU Halim 377 mm, Taman Mini 335 mm, Jatiasih 259 mm
Data Peta Persebaran Hujan Jabodetabek oleh BMKG

Bagaimana membaca data curah hujan tersebut?

Curah hujan misal TNI AU Halim 377 mm berarti data diambil di stasiun hujan TNI AU Halim. 377 mm berarti dalam satu hari satu titik standar alat di TNI AU Halim menampung air setinggi 377 mm. Bayangkan apabila hujan rata diseluruh Jakarta atau suatu kawasan khusus itu diibaratkan sebuah baskom. Maka baskom seluas Jakarta tersebut digenangi air setinggi 377 mm dalam satu hari.


Untuk selanjutnya kita melihat seberapa ekstrim hujan di Jakarta kemarin. Salah satu hal yang paling mudah adalah menghitung seberapa besar periode ulang dari hujan tersebut. Untuk satu titik stasiun data Executive Summary Bappenas menjelaskan hal berikut

Pengamatan Hujan Daerah Timur Jakarta

Dengan data dari Stasiun Halim sebesar 377 mm dan Stasiun TMII sebesar 355 mm. Hal ini berarti hujan daerah di Timur Jakarta mempunyai periode ulang sebesar lebih dari 1000 tahun.

Pengamatan Hujan Daerah Barat Jakarta

Dengan data dari Stasiun Tomang sebesar 225.6 mm dan Stasiun Tomang sebesar 259.6 mm. Hal ini berarti hujan daerah di Barat Jakarta mempunyai periode ulang sebesar sekitar 250 tahun.

Bagaimana cara membaca data periode ulang tersebut?

Periode ulang secara matematis didefiniskan dengan 1/probabilitas atau lebih mudah probabilitas (kemungkinan terjadi) adalah 1/periode ulang. Di daerah Jakarta bagian timur yang mempunyai titik dengan periode ulang lebih dari 1000 tahun akan mempunyai kemungkinan (probabilitas) terjadi hujan dengan intensitas kemarin yaitu sebesar kurang dari 1/1000 atau kurang dari 0.1 %. 

Yang dimaksud dengan kemungkinan ya berarti hitungan statistik, dimana mungkin saja peristiwa akan terjadi lagi hujan yang kurang dari curah hujan di daerah timur Jakarta kemarin 99.9% (100%-0.1%).

Waktu 1000 tahun merupakan siklus yang panjang dalam horizon umur manusia. Manusia di bumi sekarang mungkin bisa hidup 70 tahun. Maka kesempatan merasakan hujan dengan intensitas curah hujan seperti kemarin mungkin hanya akan kita rasakan sekali. Ekstrim sekali bukan 70 tahun dibanding 1000 tahun tersebut.


Data menarik apa saja yang bisa kita amati dari Banjir Jakarta 2020?

Hujan ekstrim teramati oleh Radar BMKG terjadi pada pukul 16.00–18.00 di hari Selasa, 31 Desember 2019 dan diteruskan pukul 01.00–03.00 di hari Rabu, 1 Januari 2020.

Hujan Ekstrim 1 pada pukul 16.00–18.00 di hari Selasa, 31 Desember 2019
Hujan Ekstrim 2 pada pukul 16.00–18.00 di hari Selasa, 31 Desember 2019
Hujan Ekstrim 1 pada pukul 01.00–03.00 di hariRabu, 1 Januari 2020
Hujan Ekstrim 2 pada pukul 01.00–03.00 di hariRabu, 1 Januari 2020

Ekstrimnya hujan ini membuat tingginya muka air di beberapa sungai (Malaka Sari, Cipinang Hilir, dan Ujung Menteng) salah naik secara tiba-tiba, hal tersebut tervisualisasikan oleh grafik di bawah

Seperti penjelasan sebelumnya di awal bahwa volume air permukaan yang melebih kapasitas tampung saluran mengakibatkan air meluber kemudian banjir menggenangi area sekitarnya. Kita tahu juga bahwa wilayah sekitar Jakarta dan Bekasi memiliki topografi yang relatif datar. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa telah terjadi penurunan tanah di berbagai titik.


Pengamatan di Lapangan tentang Luapan Air Sungai

Banjir di Kampung Melayu dengan warna air banjir sama dengan warna air Sungai Ciliwung

Terlihat air banjir limpasan di Kampung Melayu mempunyai warna yang sama keruhnya dengan Sungai Ciliwung disampingnya. Hal ini memberi info bahwa telah terjadi luapan air dari Sungai Ciliwung sendiri. Luapan yang terjadi bisa melalui drainase/saluran buang lokal yang berada di daerah tersebut.

Banjr di Petamburan dengan warna air yang lebih jernih dari BKB

Terlihat air banjir di Petamburan memiliki warna air yang lebih jernih dari BKB. Drainase dari pemukiman masyarakat tidak dapat terbuang ke aliran BKB. Hal ini mungkin terjadi karena pompa drainase yang ada tidak dapat bekerja dengan baik.


Bagaimana Kondisi Pasang Air Laut saat itu?

Kondisi Pasang Air Laut saat Banjir Jakarta 2020

Kondisi air laut di muara sungai di Jakarta sedang pasang rendah. Hal ini untungnya tidak memperparah kejadian banjir yang sedang terjadi. Sebagai catatan banjir besar di tahun 2007 lalu terjadi saat air pasang tertinggi (HHWL).


Bagaimana Korelasi Banjir dengan Peristiwa Land Subsidence (Penurunan Tanah)?

Peta Peristiwa Banjir dan Area Land Subsidence di Jakarta
Legenda Peristiwa Banjir dan Area Land Subsidence di Jakarta

Seperti terlihat pada peta diatas, ada beberapa poin yang bisa kita angkat yaitu

  1. Banjir dengan tinggi > 170 cm terjadi di beberapa tempat yang juga mengalami Land Subsidence Parah, yaitu di Cengkareng, Cilincing, dan Cakung (Jakarta Timur dan Jakarta Barat)
  2. Banjir dengan tinggi > 170 cm juga terjadi di beberapa tempat yang tidak mengalami land subsidence (Jakarta Selatan)

Kesimpualan Awal Apa yang Bisa Kita Ambil?

Ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan atas analisa diatas yaitu

  1. Hujan dengan curah hujan yang ekstrim di wilayah Jakarta dan Bekasi memicu banjir di banyak titik. Menurut analisis hujan regional dari masing-masing sistem terlihat bahwa hujan lokal yang menjadi pemicu terjadinya banjir di sebagian besar wilayah.
  2. Pada DAS Ciliwung, kondisi juga diperparah dengan hujan yang turun di Bogor, Depok dan Jakarta. Akumulasi volume air ini menambah beban di dalam sungai Ciliwung, yang berimbas meluapnya sungai di wilayah sekitar.
  3. Selain akibat tidak cukupnya kapasitas sungai, beberapa sistem drainase permukiman tidak dapat membuang air. Hal ini bisa terjadi karena muka air di outlet (sungai) tinggi dan pompa yang tidak bekerja optimal.
  4. Di kawasan Jakarta Barat dan Timur, penurunan muka tanah juga faktor utama terjadinya genangan.

Jadi Apa yang Menyebebabkan Jakarta Bisa terkena Banjir?

Gambaran Hulu dan Hilir Air Banjir Kumulatif Menuju Jakarta

Beberapa alasannya adalah berikut

Limpasan Air dari Hulu (Kabupaten Bogor dan Kota Bogor)

Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi kebun, rumah pribadi, dan objek wisata mengakibatkan air tidak terserap ke dalam tanah sehingga langsung mengalir ke hilir. Rata-rata, 7 jam hujan secara kontinyu memiliki volume setara dengan 17x Stadion GBK. Kebijakan zero-run off belum terapkan secara optimal.

Ruang Air “Dilanggar” Manusia

Setiap sungai memiliki riparian zone/sempadan dan flood plain yang merupakan zona alami yang akan mengalami banjir setiap ketika debit tinggi. Zona ini kini banyak dihuni dan beralih fungsi. Tak kurang dari ratusan danau dan situ juga menyempit dan mendangkal. Rawa-rawa pun tak luput dari penimbunan dan pengeringan. 80% reservoir di DAS Ciliwung-Cisadane kini dalam kondisi dangkal, rusak, atau telah beralih fungsi.

Perubahan Iklim

Curah hujan ekstrem yang terjadi adalah tanda nyata perubahan iklim. Curah hujan yang tercatat di Halim pada 1 Januari 2020 adalah sebesar 377 mm dan melebihi curah hujan kala ulang 1.000 tahun.

Operasi dan Pemeliharaan Badan Air

Penanganan sampah, limbah, dan sedimen pada badan air, serta operasional pompa dan infrastruktur pengendali banjir perlu dijaga konsistensi dan keprioritasannya. Selain itu, partisipasi masyarakat dan swasta belum optimal dalam hal pengelolaan dan pengembangan sistem drainase lingkungan

Penurunan Muka Tanah (Jakarta)

Penurunan muka tanah di beberapa titik di Jakarta (seperti Kelapa Gading, Cengkareng, Grogol) menyebabkan air terperangkap sehingga genangan cukup tinggi dan sulit mengalir.


Apa saja Solusi Jangka Pendek dan Panjang yang mungkin bisa menjadi Alternatif terhadap Banjir Jakarta?

Solusi yang di tawarkan Urbanpoor

Solusi Banjir Jangka Pendek

Normalisasi di Jakarta

Melakukan normalisasi dengan sodetan dan betonisasi. Normalisasi akan lebih efektif debit alir, curah hujan, dan periode ulang tertentu yang biasanya relatif kecil. Normalisasi punya manfaat untuk mempercepat debit alir sampai hilir dengan mengurangi akibat sedimentasi/pengendapan. Salah satu kekurangannya mengurangi idle/waktu tunggu untuk air terinfiltrasi/masuk ke dalam tanah.

Sodetan yang dimaksud adalah penggantian tepi sungai alami dengan semen yang mengakibatkan peningkatan kecepatan limpasan air ke hilir

Betonisasi yang dimaksud yaitu semen yang dituangkan di sepanjang sungai untuk mencegah penyerapan air dan mengancam ketersediaan air tanah untuk penduduk lokal.

Sampai tahun 2017, 47% atau 9 km sepanjang Sungai Ciliwung sudah dinormalisasi dari 19 km yang di rencanakan.

Total Penggusuran Akibat Penerapan Zona Hijau di Jakarta

Penetapan ‘Zona Hijau” untuk meningkatkan penyerapan air memengaruhi warga miskin, sementara warga kaya dapat membangun di atas waduk dan zona hijau yang telah tersedia.

Dampak yang Disebabkan oleh Pembangunan Reklamasi

Pembuatan pulau artifisial membatasi aliran air dari 13 sungai di Jakarta ke dalam laut, mengakibatkan terkumpulnya sampah dan toksin di air laut. Reklamasi juga membatasi akses nelayan terhadap laut dan mengakibatkan ketinggian muka air laut yang lebih tinggi sehingga meningkatkan risiko banjir.


Apa Solusi Ideal untuk Jangka Panjang Banjir Jakarta?

Jakarta akan dapat mengurangi risiko banjir sementara memelihara kualitas hutan, sungai, pantai, dan komunitasnya.

Peningkatan Area Penyerapan Air di Jakarta

Pembangunan rumah baru dan perubahan penggunaan lahan dimonitor untuk melindungi daerah penyerapan air (yang membantu air terserap ke dalam tanah). Daerah alami -seperti hutan, pinggir sungai, dan danau- serta waduk dirawat untuk menangkap air dan mengisi kembali air tanah. Penduduk mengumulkan dan mendaur ulang air hujan untuk kebutuhan rumah tangga. Perubahan penggunaan lahan tidak diperlukan dan penggusuran dikurangi.

Mengurangi Pembangunan Reklamasi

Reklamasi Teluk Jakarta tidak lagi menghalangi aliran sungai ke laut dan nelayan memiliki akses penuh terhadap teluk dan sumber daya laut. Tanggul pantai dan sungai Jakarta diperkuat sehingga risiko banjir berkurang. Kualitas air di Teluk Jakarta meningkat karena sungai mengalir mengikuti gravitasi ke laut.

Pengurangan Pompa Air Tanah di Jakarta

Infrastruktur pipa air kini melayani area perumahan, bisnis, dan kebutuhan industri. Limbah non kakus didaur ulang. Karena sedimennya secara alami penuh dengan air, penurunan tanah di Jakarta akan melambat. Dengan area tenggelam yang lebih kecil, risiko banjir dapat dikurangi dan rumah serta bisnis menjadi lebih aman seiring waktu.

Pengelolaan Limbah di Jakarta

Jakarta memiliki fasilitas pengolahan limbah yang meningkatkan kualitas di Teluk Jakarta (hanya 2% dari air limbah dikelola pada 2016). Dengan sistem pengelolaan yang lebih baik, sungai akan menjadi bersih dan kualitas air di sepanjang pesisir akan meningkat. Komunitas kecil, seperti kampung, dapat mengelola sendiri sampah mereka untuk mengurangi penumpukan sampah serta membersihkan sungai.


Apakah benar


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *