Melihat Infrastruktur Ponorogo dalam 4 Jam

Berkeliling 4 Jam Melihat Infrastruktur Ponorogo – Sabtu kemarin saya dan teman-teman berencana untuk berkeliling ke tempat wisata baru Ponorogo. Wisata yang akan saya dan teman-teman kunjungi yaitu Wisata Paralayang Gunung Gede Desa Tatung Balong.

Wisata ini baru saja dibuka awal tahun ini. Eh, tapi perjalanan sepanjang Ponorogo-Balong ternyata terlalu berharga untuk tidak diusik kembali. Saya pengen cerita saja berbagai hal infrastruktur yang saya lihat.

Tulisan awalnya ada di instastory saya di hari sabtu dan minggu. Biar ada yang bentuk tulisan dan bisa dibaca lagi, maka saya nulis lagi disini. Oh ya mengapa judulnya 4 jam? Karena saya dan teman-teman mengamati hal di bawah ini dari jam 7 pagi sampai 11 siang, hehe.

1*ZuN5eCEkTBXwmpPHjp2PDg
Perempatan Gajah Mada atau Tonatan dari arah selatan

Memulai Perjalanan Melihat Ponorogo

Perjalanan dimulai melewati perempatan Tonatan atau Gajah Mada. Disebut Tonatan karena masih dianggap ada di kelurahan Tonatan, disebut Gajah Mada karena pendekat, atau jalan masuk dari barat yaitu jalan Gajah Mada.

Bundaran di Ponorogo

Kalau diperhatikan banyak sekali perempatan di Ponorogo apalagi di kecamatan kota yang memiliki roundabout atau bundaran dengan ditambahi patung tari bagian dari kesenian Reyog. Patung tersebut kalau saya gak salah ingat mulai ada sejak bupati Markum 1994–2004.

Bundaran sendiri biasanya berada di persimpangan dimana ada lalu lintas searah yang mengelilingi sebuah pulau. Pulau yang dimaksud adalah bagian jalan yang dibuat lebih tinggi.

Namun disinilah masalahnya, fungsi utama bundaran yang sebelumnya dipatok untuk menyelesaikan beberapa masalah lalu lintas seperti tundaan dan mobilitas berpindah lajur tidak berjalan dengan baik.

Sebaliknya fungsi sebagai ikon kota yang malah lebih kentara. Hal ini dibuktikan lewat beberapa orang yang mampir ke Ponorogo yang sering bingung ketika disebutkan jalan yang mengarah ke suatu tempat kemudian disebutkan kalau harus melewati bundaran tertentu. Lha, bunderan di Ponorogo itu bermacam-macam dan patungnya berbeda-beda.

Selain hal diatas, dari awal dibuat pengalihan arus yang melewati bundara sampai 2016 dibuat persis dengan aturan teknis lalu lintas yaitu MKJI 1997. Aturannya yaitu kendaraan yang melewati bundaran ya harus berputar mengelilingi bundaran tersebut sebelum berpindah arah.

Sedangkan mulai tahun 2016 kemarin, rekayasa lalu lintas yang dilakukan pihak terkait membuat sebuah hasil dari kajiannya bahwa kalau harus berputar kendaraan yang ada akan susah, karena sudut putar dan lebar simpang yang sempit.

Saya lihat dan membuat thesis, mungkin saja ketika mendesain diawal dulu, pointing dan penempatan pendekat atau lajur masuk kendaraan ke bundaran ini sudah salah. Desain yang sangat mungkin bisa mudah digunakan tanpa tahu teknis yang benar ya buatlah bundaran tersebut bisa tegak lurus atau sejajar simetris dengan pendekat, jalan masuk yang ada.

Namun yang ada di lapangan beberapa bundaran dibuat tidak simetris, masukan jalan ke bundaran juga salah fungsi, dan tidak dilengkapi dengan marka yang benar. Saya jadi ragu di zaman itu ada seseorang yang tahu cara mendesain bundaran ini. Ya pertama aturan MKJI ada sah di tahun 1997 dan aturan aslinya masih dari AHCM Amerika.

1*5FYM3rDPSw7mh1TB7hN7XQ
Penduduk sekitar yang menyiapkan Taman Bunga baru disekitar jalan naik ke Gunung Gede Tatung

Intinya perjalanan menuju Gunung Gede Tatung ini sesuai dengan apa yang ada di Google Maps. Jalannya ketika masuk Desa Ngampel dan Muneng memang masih beberapa makadam dan beton yang belum halus. Namun secara keseluruhan sudah lebih baik daripada beberapa tahun lalu.

Beberapa tahun terakhir Ponorogo sedang giat membangun sektor pariwisatanya. Hal tersebut menurut saya ditunjang oleh beberapa hal:

  1. Pertama akses internet yang semakin luas sehingga melahirkan berbagai komunitas sosial media yang peduli terhadap potensi lokal.
  2. Kedua, gerakan duta wisata, yang di Ponorogo di sekarang masih diketuai oleh Mas Najih yang semakin agresif.
  3. Ketiga, terpacunya pemerintah menaikkan potensi lokal sebagai sumber pendapatan daerah.

Ya gimana ya, di Ponorogo sulit untuk menemui UKM atau perusahaan lokal yang berjaya dan berkesinambungan dengan pendapatan bersih misal diatas 1 M gitu, hehe.

Setahu saya dari teman yang kerja di DJP alias kantor pajak, penghasilan tertinggi orang yang menyerahkan pajak di kantor pajak ponorogo setahun sebesar 1 M “cuma” 2 orang. Orang tersebut pemilik dealer terkenal dan direktur kantor cabang sebuah bank.

Wisata Gunung Gede Tatung

Oke langsung menuju ke tempat ya. Kebanyakan tempat wisata baru di Ponorogo termasuk di Gunung Gede Tatung ini belum memungut retribusi. Seperti jalan tol yang berlaku fungsional, sekalian mengenalkan secara luas adanya pariwisata baru ini, pemerintah, eh warga lokal masih membangun sarana dan prasarana pendukung untuk mempercantik tempat ini.

Hal yang saya temukan seperti gambar diatas tadi, warga secara sukarela dengan tambahan dana yang berasal dari DAK Kementrian Pariwisata (Pemda Ponorogo belum menyanggupi membantu kata bapaknya, hehe) 2018 menata pembuatan taman baru di arean pintu masuk.

Hal yang dilakukan warga lain yaitu menanam bengkoang di area terasering. Hal tersebut disinergiskan secara kolektif antar warga secara gotong royong agar tercapai manfaat sebaik mungkin.

Sungguh pemandangan kearifan lokal yang cukup baik dan bisa jadi sumber inspirasi penataan daerah Ponorogo di masa depan terkait gotong royong ini.

1*EPDeN K3U
Panorama diatas Gunung Gede Tatung, Titik Paralayang satu-satunya di Ponorogo

Sampai diatas gunung, eh bukit, kita disambut hamparan sawah yang terlihat sangat dekat, gunung-gunung besar yang mengitari Ponorogo, dan langit biru yang cerah. Sayang karena baru sampai sana diatas jam 7 pagi saya tidak mendapat spot garis-garis awan di bawah bukit. Yhaa.

Tempatnya yang masih bersih cukup menyenangkan untuk sekadar foto atau merasakan semilir angin. Saat itu tidak saya temui aktifitas paralayang sayangnya. Berdasar info, barat dari bukit ini adalah Gunung Prau, sebelah yang lain saya kurang tahu infonya.

1*wDR NX4nUqfvRntfrvc3rA
Dam atau Bendung Asem Tropong di Desa Muneng

DAM Bendung Asem Tropong

Ketika balik dan lewa desa Muneng saya berhenti sebentar melihat Dam atau bendung Asem Tropong. Di papan beton bendung tertulis bahwa bendung ini difungsikan untuk memenuhi air baku irigasi 149 Ha sawah.

Angka yang lumayan, tetapi bila dilihat kenyataannya bendung ini sangat kering. Bahkan di cuaca yang saya rasa hampir setiap hari Ponorogo diguyur hujan walah dengan intensitas tinggi, bendung ini tetap kering tanpa volume dasar.

Harusnya kalau sesuai fungsi dan desain yang benar masih tetap ada air yang bisa dinaikkan atau dibelokkan ke sawah warga. Dari penuturan masyarakat sekitar, mau tidak mau menggunakan bor untuk memompa air tanah adalah sebuah pilihan yang paling rasional. Padahal penggunaan air tanah mulau di tahun 2017 sudah ada aturan lebih ketat.

1*8felALS2mAaRM42 PIg0 w
Dijk atau Tanggul di sepanjang Sungai yang membelah Desa Muneng

Terlihat di sebelah kiri foto terdapat bagian dari tanggul yang sudah dibuat dinding penahan tanah baru. Kata orang baru dibuat 3 bulan lalu. Kelihatan juga sih kalau belum setahun secara mata telanjang karena belum tergurat garis muka air banjir yang membujur dengan warna sedimen tanah. Artinya belum pernah ada banjir yang kena tanggul baru tersebut.

Di sebelah kanan foto, di bawah akar dan bagian pohon bambu yang banyak tersangkut plastik sampah ada bagian tanggul yang DPT atau penahan tanah betonnya yang nggak ada dan kaki tanggulnya dalam kondisi kritis. Daerah tersebut sangat berpotensi untuk hanyut bersama sedimen ketika air limpasan berdebit lumayan menerjang.

Melihat dari arah yang berhadapan dengan foto didapat garis membujur coklat yang menunjukkan muka air banjir daerah tersebut hanya setengah meter dari bibir tanggul yang bersebelahan jalan.

Hal ini tentu riskan, kalau tidak diberi pengarahan lebih lanjut, entah dengan membuat normalisasi dengan mengangkut sedimen di sungai ketika kering atau dengan mengatasi masalah di hulu mengenai distribusi air dan meninjau ulang desain Daerah Aliran Sungainya. Padahal kan daerah sini masih bukit dan diatas +99 m dpl, dari stasiun kereta non aktif Balong.

1*6 L4dWrVTQa blCnJqhbjg
Perbaikan Perkerasan Jalan

Perjalanan balik dilanjutkan melewati jalan raya Pacitan-Ponorogo. Saya berhenti kembali di depan bagian trase jalan yang lagi ditambal.

Jalan Raya Pacitan Ponorogo

Melihat banyaknya protes atas rusaknya jalan lewat berbagai forum sosial media di Ponorogo seperti ICWP (Info Cegatan Wilayah Ponorogo) di facebook membuat saya berfikir dalam. Tambal perkerasan seperti di jalan dengan kelas jalan bukan provinsi atau kota besar yang ditambal sendiri oleh masyarakat harusnya mendapat perhatian lebih.

Penambalan perkerasan jalan sendiri oleh masyarakat biasanya karena protes mereka tidak mendapat jawaban serius dari pemerintah atau di tingkatan desa, lurahnya males membuat proposal pengajuan, hehe.

Selain itu hasil dari penambalannya pun tidak terawasi sehingga gronjal, tidak rata. Ini membahayakan secara keselamatan karena jalan merupakan prasarana yang digunakan oleh publik walaupun hanya di lingkup kecil seperti desa atau pemukiman.

Hal yang harus diperhatikan dengan tidak benarnya proses penambalan biasanya menjadikan masa layan jalan semakin muda. Akhirnya jadilah jalan tersebut harus diperbaiki hampir setiap tahun atau lebih cepat lagi.

Seperti di foto diatas, dengan kelas jalan provinsi, cara yang lebih baik ketika muncul crack atau lubang di jalan yaitu dengan mengangkat lapisan aspal sampai tebal tertentu. Kemudian, satu area tersebut ditambal dengan tebal dan komposisi.

Harusnya kalau pemerintah, dalam hal ini daerah, kalau gak punya duit dan susah menganggarkan untuk urusan tambal menambal jalan, mending sebarkan pengetahuan sesederhana ini tentang cara menambal atau istilah kerennya membuat overlay jalan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat dengan kearifan lokal, bergotong royong, dapat memperbaiki jalan sekitarnya sendiri, tentu dengan material disekitarnya.

Bukan seperti masa dekat pemilu sebelum-belumnya, dimana banyak caleg yang menawarkan bantuan untuk memperbaiki infrastruktur seperti jalan dan jembatan desa dengan syarat agar dipilih nanti.

Eh, harusnya dengan semakin masifnya distribusi dana desa di Indonesia, perbuatan cari muka seperti ini semakin tergerus di 2019 nanti karena desa kan sekarang kan dah punya lebih bayak duit, hehe.

Dan lagi, caleg tuh ntar tugasnya buat UU yang mengatur kehidupan berbangsa bernegara, bukan ngurusin bangun infrastruktur coy, itu kan tugasnya eksekutif, hehe, sekadar mengingatkan.

Dah itu aja dulu, sebenernya dah punya kontak dari Pak Jamus selaku Kepala Dinas PU Kabupaten Ponorogo. Tinggal cari waktu dan massa untuk srawung bersama mengenai berbagai hal tentang infrastruktur Ponorogo.

Okelah kopi ntar saya yang traktir. Diskusi plus kopi gratis, kurang apalagi coba? Ada yang mau bantu bareng-bareng mewujudkan Srawung Infrastruktur Ponorogo ini cah? Ditunggu!

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment