Berikut ulasan lengkap hasil wawancara dengan reporter Uruqul Nadhif Dzakiy (U) dan Susanto Imam Rahayu (SIR).

U             : Bisa diceritakan awal mula Pak SIR di FIPIA UI saat itu gedungnya di rektorat itu ya?

SIR          : Dulu kantor dekannya disitu, ruang kuliah dibelakangnya itu, ada laboraturium, ada adminitrasi, dll.

U             : Bisa diceritakan ITB saat periode dari THS, FIPIA UI, menjadi ITB dst?

SIR          : Saat sebelum perang dunia kedua, ITB hanya ada jurusan sipil saja. Setelah itu mereka baru membuat Teknik kimia. Selang 2 tahun Jepang masuk. Setelah itu, sebagian staff ITB pergi ke Jogja mendirikan UGM. Lalu tahun 1947 dibukalah FIPIA UI, karena belum ada Pendidikan tinggi untuk sains. Yang ada hanyalah Teknik dan kedokteran.

Barulah tahun 1958 atau 1959 disatukan Pendidikan Teknik itu menjadi ITB, lepas dari UI. Kalau sebelum itu universitas di Indonesia ya hanya UI. UI punya cabang, di Jakarta yang ada kedokteran hukum, dan bogor pertanian, Teknik ada di ITB, satu lagi di Surabaya yaitu kedokteran. Kemudian mereka mulai buka di Makassar.

Kemudian mereka dipisahkan satu persatu. Di Surabaya sudah ada kedokteran, kedokteran gigi, sebelum kemerdekaan. Kedokteran gigi hanya ada di Surabaya. Di Jakarta dan Surabaya, sistem dan fakultasnya berbeda. Di Surabaya sistem kedokterannya mendekati apa yang disebut dengan dokter jawa. Dokter bangsawan. Jakarta statusnya lebih tinggi.

Saat di FIPIA itu dekannya sudah masing-masing. Di Jakarta Namanya Prof. Sutejo, sedangkan di FIPA dari Belanda yaitu Prof. —-. Mengenai pendidikannya, saat itu tidak ada departemen, semua pembelajaran dibawah Fakultas. Kita di FIPIA langsung mengambil jurusan-jurusan. 3 tahun pertama adalah masa sarjana muda, 2 tahun setelahnya apabila lulus kita mendapat gelar Drs.

Gak jelas isinya apa

Sebenarnya dahulu Pendidikan FIPIA itu untuk menjadi guru SMA, sebelum ada IKIP. Disana dipilih pelajaran deduktif. Gak jelas isinya apa.

Asal kata doctorandus adalah doctor yang belum mempertahankan desertasi. Makanya di aturan lama tertulis “dapat menjadi doctor asalkan mempertahankan desertasi”. Oleh karena itu, kita yang doctorandus tinggal bikin saja desertasi atau penelitian, kemudian dipertahankan. Makanya doctor itu yang menjadi asisten di perguruan tinggi karena tempat risetnya. Jadi kesimpulannya, 2 tahun sarjana muda, 3 tahun doktorandus, kalau meneruskan bisa jadi doctor.

Fasilitas saat itu macam-macam, kalau kimia punya 3 laboraturium. Yang pertama ada di jalan kartini, jalan sunda belok kiri. Dahulu ada kompleks besar, APD, Pendidikan jasmani. Laboraturium khusus kimia anorganik dan fisik. Disitu untuk pembelajaran kimia, khusus pembelajaran mata kuliah pokok.

Kemudian di Ganesha ada lab kimia organik, juga untuk pembelajaran mata kuliah pokok, yang dipakai bersama dengan TK (Teknik Kimia). Ada juga lab di tamansari ada laboraturium, tapi untuk mata pelajaran tambahan. Seperti biologi dan geologi.

Jadi dulu kalau di Jalan Kartini, kita masuk jurusan kimia, kita langsung masuk, tanpa ujian masuk. Saya bawa ijazah SMA langsung diterima. Saat itu jumlah SMA sangat sedikit. Di Jawa Timur tahun 1955, SMA hanya ada di Surabaya. Saat tahun itu juga, yang mengambil mata pelajaran kimia cuma 13 orang karena ya rumahnya jauh-jauh. Baru 3-4 tahun kemudian mulai banyak SMA. ITB memulai membuka tes masuk untuk menyaring mahasiswanya.

Kalau di Kartini saat itu, Kepalanya Guru Besar, Prof. Van Dijk. Kalau di tamansari ada What Crouse. Kalau dahulu di Kartini, kita anak kimia, pelajarannya bebas, diserahkan kita mau apa. Pokoknya kalau mau kuliah, boleh pergi, tapi nanti harus kembali lagi. Tugas-tugas juga tidak ada petunjuk praktikum. Tugasnya hanya bilang, kamu tugasnya ini, cari sendiri bahannya di perpustakaan. Kita mengerjakan semua sendiri.

U             : Kalau dahulu dosennya juga dari Belanda, Bapak?

SIR          : Saat itu Guru Besarnya memang dari Belanda semua. Ketika praktikum pun, tidak ada petunjuk praktikum karena waktunya terserah kita. Pokoknya kita diberi waktu seminggu, ya harus selesai seminggu itu. Kalau gagal, ya berarti diulang. Dari awal kita dilatih independen. Kamu dikasih tugas A, bagaimana caranya ya kamu harus cari sendiri. Lalu kita bahas dengan asisten, kalau sudah betul, kita boleh mengerjakan.

Di kartini itu ada 3 laboraturium. Lab A, B, dan C. Pengerjaan praktikum bisa dari siang sampai malam. Setiap hari disitu untuk kerja. Setelah beberapa tahun kemudian datanglah farmasi.

U             : Tahun berapa datangnya farmasi itu Pak?

SIR          : Farmasi itu beda dengan lain. Awalnya adalah kimia farmasi. Kemudian menjadi apoteker. Apoteker awal dulu dasar kimianya sangat tinggi. Tapi jumlahnya sedikit.

Sekitar tahun 1957/1958, Pemerintah meminta lebih banyak apoteker. Apoteker sebelumnya sudah ada. Waktu itu apoteker jarang sekali karena perjalanan jadi apoteker panjang sekali. Dimulai dari IAP kemudian langsung jadi Apoteker, tidak lewat kimia. Mulai dari itu kebanjiranlah pendaftar, sekitar 300 orang. Apoteker saat itu gajinya tinggi. Sekarang kan gajinya lebih rendah relative zaman itu. Makanya terpaksa ada ujian karena yang daftar ada ratusan. Setelah itu perjalanannya berubah. Dari awalnya harus kimia dahulu 5 tahun. Kemudian 2 tahun apoteker. Setelah itu jadi 4 tahun lalu apoteker, lalu tambah 2 tahun profesi.

Tahun 1958/1959 orang Belanda pulang, datanglah orang lain. Kalau di Teknik banyak mendatangkan dari Jerman. Tapi jadinya banyak yang kacau juga. Lalu datanglah bantuan dari Amerika. Dosen-dosen dari sana dikontrak selama 10 tahunan. Dibantu dari kita beberapa orang.

Kehadiran mereka, membuat kita memulai menata ulang perkuliahan. Ada 2 kebijakan dasar, salah satunya mereka nggak mau kalau jam praktikum tidak terbatas. Dikasih jadwal kuliah. Selain itu mulai ada petunjuk praktikum. Dirubah sekali.

Dahulunya tidak ada departemen, sekarang harus ada departemen. Setiap fakultas akhirnya dibagi-bagi. Ada yang fisika, kimia, biologi. Kemudian mulai diperkenalkan, menghitung waktu kredit (sks). Kalau Eropa kan nggak ada, mau lama terserah, mau cepat terserah.

U             : Berarti Bapak dahulu kuliah berapa lama?

SIR          : Saya 6 tahun.

U             : Itu normal ya Bapak?

SIR          : Biasanya 5 tahunlah. Saya saat itu malas saja. Saat itu saya langsung ke Amerika. 5 tahun saya disana. Ya pokoknya saat itu mulai berubah banyak. Mulai dibagi-bagi fakultas dan departemennya. Kita pernah bareng-bareng biologi, pernah bareng TK (Teknik Kimia). Dahulu kita tahun pertama diberi pilihan, pilih kimia atau TK. Saat itu semua orang pilih TK.

U             : Saat Bapak sarjana berarti Bapak hanya mengalami kurikulum Belanda saja?

SIR          : Ya, ya, kurikulum yang lama saat itu persis dengan kurikulum Utrecht (TU, Belanda). Sekarang pun masih mirip-mirip. Bahkan digelari sama Bachelor. Kita dulu jiplak gitu aja kurikulumnya. Sistem Belanda yang Utrecht dipakai disini.

Tahun 1973, Pendidikan di ITB mengalami perubahan besar lagi. Pendidikan yang sebelumnya 5 tahun dijadikan 4.5 tahun ditambah matrikulasi. Matrikulasi tersebut digunakan karena mutu SMA masih rendah. Jadi perlu dilatih, dengan total ditambah matrikulasi jadi 5 tahun.

Kemudian matrikulasi dihilangkan. Jadilah kuliah tinggal 4 tahun. Mengap dihilangkan? Ternyata yang masuk ITB saat itu sudah terlalu bagus. Awalnya matrikulasi yang mengajar itu guru SMA, supaya peralihan dari guru SMA itu cepet. Tapi kemudian, pas tes awal anaknya balik-balik, pada protes. Kok anak SMA 3 (Bandung) kok diajar guru SMA 8. Gengsi. Sehingga ada yang nakal. Ada dosen perempuan dilempar kucing.

Saat awal matrikulasi kita ada pelatihan menggunakan komputer, sekarang kan sudah tidak diperlukan lagi. Ya pokoknya seperti itu.

Saat itu juga mulailah ITB di bagi 3 Fakultas. Saat itu bagus karena dijadikan 3, Fakultas SIpil, Fakultas MIPA, Fakultas Industri. Fakultas MIPA berkaitan dengan semua ilmu dasar. Fakultas industri menyangkut semua kebutuhan industri. Fakultas sipil yang membangun perumahan dan jalan. Tapi lama-lama orang merasa beda-beda akhirnya pecah-pecah lagi seperti itu.

Yang kedua saat itu sistem berubah lagi. Nggak ada pembantu rektor, adanya sekretaris. Sekretaris kekuasaanya setara dibawah rektor.

U             : Dahulu yang dapat matrikulasi itu adalah semua mahasiswa ITB termasuk FMIPA?

SIR          : Ya masuk, dapat, karena begini ya, dahulu ujian masuk itu dibuka 2 kali. Ambillah 1000 terbaik. Yang pertama yaitu dari Jawa. Mereka pengetahuannya sudah merata. Tapi setelah itu ketika dibuka yang luar Jawa, mereka cuma ambil Teknik Sipil dan Teknik Mesin, karena ya itu saja yang mereka tahu.

Wah ini gak betul ini. Lalu kita ambil 1000, lalu baru memilih jurusan. Itu alasannya, reformasi Pendidikan.

U             : Yang menarik saat masa peralihan, bisa diceritakan kurikulumnya, terutama gejolaknya?

SIR          : Ya saat itu ada masa persiapan. Persiapan 1, persiapan 2, lalu sarjana muda, lalu sarjana madya, lalu sarjana.

Saat itu kita benar-benar rebut sana-sini. Saat itu ketika ikut Eropa kita gak ada petunjuk praktikum. Kalau Amerika harus.

Contoh praktikum kimia organik, kalau yang lama 3 bulan non stop setiap hari praktikum. Kalau praktikum yang lain bisa bebas, tidak dikasih waktu batasan. Saat itu karena tidak ada batasan waktu, kita harus cari alat dan bahannya sendiri di gudang. Kita pelajari sendiri, kita lakukan sendiri, seperti orang yang betul-betul melakukan penelitian.

Kalau kurikulum Amerika, praktikum itu diajari, kalau yang kita lakukan sebelumnya yaitu mandiri, karena mempersiapkan semua sendiri. Praktikumnya apa, alatnya kita cari sendiri, kita rangkai sendiri, kita lakukan pengamatan sendiri. Kalau Amerika gak bisa, satu praktikum baru selesai dalam satu periode seperti itu. Kita akhirnya yang harus mengubah. Karena gak bisa bebas, sekarang harus dijadwalkan. Sekian jam disini, sekian jam disini, dan seterusnya.

Kalau kimia analitik kan kita titrasi. Diberi larutan asam kemudian dikasih basa. Dulu kita timbang sendiri dan seterusnya. Kesalahan kita hanya sekitar 1%, kalau salah harus mengulang dari awal. Kalau sekarang sudah ada analis.

Dulu saya di Amerika kuliah, gak perlu juga ternyata dari awal. Kita cuma pengamatan seperti sekarang. Tanpa laporan awal.

Kalau cara Amerika, alatnya tersedia, kerjakan dengan cara ini. Kalau saya dulu bebas sebebas-bebasnya agar mandiri.

Kita dilatih untuk jadi peneliti. Yang sebenarnya peneliti, tapi ya ada trade off untuk waktu. Terus tidak efektif dan efisien ketika banyak orang dan waktu yang t

erbatas.

U             : Kalau dari FMIPA banyak dosen Amerika atau di ITB secara keseluruhan?

SIR          : Saya gak tahu, tapi sebelumnya ada banyak dari Jerman. Kalau Amerika, mereka dari guru besar beneran. Mereka cuti 2 tahun. Sedangkan mereka yang dari Jerman itu mungkin saja bukan guru atau bahkan hanya orang biasa, kemudian disini malah jadi guru besar.

Dahulu juga tidak ada ujian. Ujian itu terserah kita. Kalau kita sudah siap, maka kita menghadap dosen. Setelah itu kita diberi surat keterangan lulus dengan angka sekian. Lalu itu dikumpulkan ke TU. Orang TU semua tahu kita mengambil apa dan mengurus urusan tersebut. Agar lulus sarjana muda kita harus mengumpulkan seluruh surat keterangan lulus. Sangat mandiri.

Sistem Amerika terdaftar seperti sekarnag. Bedanya disini dan Amerika saat itu. Disana tidak ada kurikulum. Adanya pembimbing. Semuanya adalah pilihan, mau sekolah atau tidak, mau ambil atau tidak. Disini digantikan fungsinya dengan dosen wali.

Bagusnya di Amerika, kalau saya ingin ambil kimia, ada program penyetaraan. Karena seperti kimia dasar dan lain-lain mereka sudah dapat saat SMA. Kalau kita tidak ada program penyetaraan seperti itu jadi harus ambil lagi ketika kuliah. Disana kalau ujian masuk yang diuji bukan pengetahuannya, tapi kemampuan umum nalarnya. Mereka ijazah SMA tidak ada artinya, karena sudah bisa memilih konsentrasi bahkan sebelum SMA. Pokoknya mereka bisa ambil kuliah sesuai keinginannya, seperti konsep liberal arts.

Contohnya ketika di Amerika dahulu saya ambil kimia, tapi saya suka fisika. Kuliah kimia saya sedikit, sebagian besar adalah fisika dan matematika. Di matematika saya ambil semua. Ketika itu saya berfikit, kalau saya bisa fisika maka kimia bisa terkuasai. Setiap orang menentukan dirinya sendiri. Kalau filosofinya begitu.

Kalau di Eropa ada kurikulum. Di Eropa intinya membentuk sesuatu menjadi apa. Jadi perguruan tinggi kayak kafetaria. Kamu milih mana, cocok apa tidak. Jadi filsafatnya berbeda. Jadi kurikulum Eropa ya ada banyak hal yang sama dengan kita, ada kurikulum. Kalau Eropa filsafat universitas itu membuat seseorang menjadi apa.

 U            : Kalau sekarang ITB campur-campur ya Bapak. Baik kurikulum dan aturannya.

SIR          : Kalau itu kan aturan pusat ya.

U             : Iya Bapak, dosen wali hanya teken sks ketika semesteran. Bapak curhat, hehe.

SIR          : Iya benar, kalau di lain tempatkan hal itu jadi pilihan serta keberadaan dosen wali menjadi wajib. Sekarang kan ada pilihan. ITB mengaharuskan harus ada mata kuliah pilihan 15%. Bukan wajib ya, kalau wajib ya bukan pilihan. Waktu itu sulit meminta farmasi. Karea farmasi Pendidikan profesi. Jadi gak bisa ada mata kuliah pilihan. Kayak dokter juga profesi. Gak bisa gak ambil mata dan lainnya.

Mata kuliah pilihan ditaruh ke tahun terakhir. Saat itu mahasiswa sudah mau turun ke masyarakat. Karena dia sudah tahu keinginannya di masyarakat seperti itu.

ITB saat itu sudah sangat maju dengan kurikulum seperti itu. Kalau di UI gak bisa. Saat itu masuk kuliah saja sudah sangat luar biasa. Anak fisika kalau pengen tahu manajemen, tidak bisa tinggal masuk kelas saja.  Harus kenal sama orang disitu atau harus dalam fakultas yang sama. Hal ini karena diatur dengan fakultas.

Kalau di ITB semua itu bisa, anak kimia ingin belajar seni rupa tinggal masuk saja. Di tempat lain gak bisa. Saat itu fakultas masih menguasai kalau di UI. Anak UI kalau di tanya masuk mana. Jawabnya misal masuk kedokteran. Kalau di ITB ditanya ya masuk ITB saat itu. Tidak ada Batasan fakultas soalnya. Saat itu fakultas di ITB ya ada satu saja. Di UI antar fakultas jauh-jauh gedungnya.

Kalau di Amerika, lebih beda lagi, di sana per fakultas itu adalah masing-masing pemikirnya. Matematik, filsafat, fisika, dan Bahasa saja jadi satu fakultas. Jadi departemen sampai ada 20-30. Karena fisika, kimia, filsafat tidak perlu belajar mengerti tentang keuntungan, tapi mencari kebenaran. Pembagiannya seperti itu.

Bisa college of science, isinya macam-macam, sejarah, seni rupa, filsafat, dll. College of engineering isinya bisa Teknik semua. College of agriculture. Kalau disini yang disatukan itu garapannya, misal tambang dengan Teknik kimia. Padahalkan, filsafatnya sama, memproduksi barang untuk keuntungan. Tapi akhirnya semua rebutan. Penyakitnya dari dahulu yaitu rebutan. Saya sudah sarankan ITB kembali ke dahulu lagi, kembali ke departemen, bisa lebih maju.

U             : ITB bisa dianggap kombinasi ya Bapak? Dianggap Amerika bukan, Eropa bukan.

SIR          : Sekarang mungkin kontaknya lebih banyak ke Amerika, tapi dosennya sekarang sudah beda-beda, ada Jerman, Australia, Jepang. Tapi tokohnya sekarang masih tetap cara berpikir Amerika.

Saya pernah ke Berlin, saya tanya fakultas tekniknya, apakah anak Teknik boleh ambil filsafat. Kalau disini kan boleh. Kalau di Amerika juga boleh.

U             : Kok rasanya kontradiktif ya Bapak. Padahal filsafat kontemporer itu berkembang di Perancis dan Jerman. Tapi kurikulumnya kok tidak mengizinkan untuk bebas mengambil filsafat dan lainnya.

SIR          : Memang fakultas filsafat sendiri, sastra sendiri, Teknik sendiri. Cara berpikirnya tetap ada yang beda. Mereka punya beda yang khas. Misal di Belanda malah ada fakultas sastra. Di Amerika kan nggak ada.

Untungnya kalau ada kombinasi, misal matematika biologi, yang mengerjakan ya orang matematika. Saya tanya apakah boleh. Ternyata boleh. Malah tidak perlu bikin jurusan atau fakultas baru. Kombinasi saja.

U             : Saat orde baru kan ada banyak gejolak politik, apakah Bapak mengalaminya?

SIR          : Orde baru kalau masalah akademik malah gak ada masalah. Tapi saya kan dulu di BMK (Badan Masalah Kemahasiswaan). Membantu Pak Wiranto Rektor. Makanya saya tahu yang dulu kacau di sipil sekarang kacau di pusat. Sekarang yang jadi DPR itu orang ITB semua. Saya kenal. Beberapa ada yang kelompok Student Centre sekarang di pusat.

Sebelum 78 mahasiswa itu bebas. Mau apa aja boleh. Saya dulu lama di mahasiswa. Kalau dulu bikin kegiatan gak ada ijin gak papa. Setelah turun NKK BKK. Setelah itu baru ada aturan, harus ijin dahulu. Semuanya harus punya dasar kegiatan, mau kegiatan apa alasannya. Harus dipertanggungjawabkan. Akibatnya banyak ketua himpunan jadi ketua jurusan. Waktu ketua jurusan berpikir seperti.

U             : Kalau yang TNI dahulu sempat masuk ITB bagaimana Bapak? Tentara masuk kampus.

SIR          : Saat itu karena mahasiswa menduduki kampus. Kita tetap kuliah. Mahasiswa bawa bamboo runcing di bawah jam gadang dll. Kan pemerintah gak bisa membiarkan seperti itu. Gak boleh ada yang rusak lah kampus dan isinya. Sore itu saya ada disitu. Gak ada kuliah, adanya praktikum.

Saat itu tentara masuk semuanya. Keluar, keluar, keluar, TNI pada menggerebek seperti itu. Dikumpulkam di luar saat itu. Praktkum kan HB HB dimana-mana. TNI kan gak tahu itu apa, kebanyakan juga baru balik dari Timor-timor.

Saat itu ada Pak Suharno, dia itu dosen luar biasa, setingkat mayor tentara. Baru dia. Tantara lain nodong saya. Ayo keluar, keluar, dia bilang begitu. Gak mau saya. Nggak bisa. Akhirnya dibantu Pak Suharno itu nunjukin kartu Mayor Tentaranya.

Sebenarnya salah Pak Suharno juga, mau melindungi kampus, tapi malah melarang orang luar masuk. Dosen saja masuk malah diperiksa. Jadi sebenarnya bukan salah tantara, tapi salah kita sendiri. Pak Suha itu mengikuti aturan yang ada saja.

Waktu itu kita lihat budaya Amerika itu seperti apa, mereka bebas. Kita tiru hierarki mereka, jadilah UKM UKM itu. Unit kegiatan.

Biasanya penyakit lain di ITB, kalau penggantian kepemimpinan, garapan pemimpin sebelumnya tidak diketahui oleh penggantinya. Makanya kalau di UKM itu kita bentuk Pembina-pembina. Itu pernah saya kerjakan. Bukan mengatur. Agar penggantian pengurus, gak kacau.

Adanya Pembina biar menggolkan dana. Itu paling minimal. Kalau mahasiswa di biarkan gitu saja, malah gak karuan. Kenyataan.

U             : Perkembangan ilmu kimia yang dicapai di ITB itu sejauh apa?

SIR          : Saya bisa hanya kimia teori. Disini repotnya kalau di Amerika, suatu saat ingin belajar persamaan differensial, tinggal daftar kan. Memang ada saran dari dosen, tapi itu kan hanya saran. Tapi disini malah jadi syarat, ya ini malah nggak betul. Itu mengganggu. Jarang yang bisa ambil matematika yang advance. Padahal bisa belajar sendiri kan ya. Kalau di Amerika terserah kamu. Karena itu mereka itu cepat sekali maju karena Batasan ilmu itu tidak menjadi permasalahan.

Makanya itu peraih nobel banyak dari sana. Perguruan tinggi kan mikirnya purpose. Disini mikirnya penelitian harus menghasilkan barang. Itu bukan penelitian, itu development, litbang. Penelitian dipersulit karena tidak menghasilkan. Kita bisa kalah dari Malaysia karena itu. Disini semua harus paten dll. Malaysia malah lebih bagus, lebih bebas.

Sekarang kan dosen Malaysia banyak yang memberikan seminar disnini. Kita itu terlalu dituntung semuanya harus applied. Suatu ketika saya takut kita harus mendatangkan orang ahli matematika dari luar. Yang maju-maju gak ada disini. Kita doktor dalam quantum gak ada. Suatu ketika harus mengambil dari luar. Dananya untuk penelitian juga gak ada.

Mereka juga dikejar-kejar dari Pusat. Harus menghasilkan sesuatu. Menghasilkan barang bukan tugas univeristas, itu tugas dari lab-lab departemen itu. Universitas tugasnya da diluar, menjadi pelopor dalam pengembangan ilmu. Karena orang luar tahunya bikin barang. Kalau penelitian ekonomi itu katanya cuma bikin paper. Kalau cuma paper mana ada kemajuan. Gak ngerti mereka.

Orang diatas itu ngga ngertian. Mereka ngurus dana penelitian, tapi gak pernah merasakan meneliti. Sehingga jadinya birokratis. Selama itu masih ada ya repot. Pendekatan birokratis itu terlalu riskan. Di Indonesia semuanya jadi applied. Tanya DPR juga gak jalan, rapat aja gak pernah. Kelemahannya disitu.

Potensi itu tinggi. Maka orang kita di luar negeri, banyak yang maju-maju. India itu bondo nekat. Sekarang banyak yang jadi guru besar di Universitas besar, pada saatnya dipanggil. Banyak sekali orang India. Mereka juga ada yang sudah dapat hadiah Nobel.

Coba Jepang itu pemenang Nobelnya lebih sedikit daripada Amerika, karena yang dia buat itu applied, bukan riset. Biasanya yang dikasih nobel itu mereka yang membuat rancangan yang baru. Bukan poduk. Kuantum, matematika, sesuatu yang membuka ilmu. India majunya karena itu.

Kalau disini kan kebingungan, DPR mintanya menghasilkan produk. Jadi kacau balau. Kalau diaspora itu dikumpulkan, saya rasa bagus. Tapi ide Menteri mendatangkan rektor asing, ya dia goblok sekali. Bukan masalah rektornya. Rektor gak bisa apa-apa disini.

U             : Apa hal yang bisa diambil ITB untuk jadi pelajaran di depan?

SIR          : ITB harus kembali kepada pembuka basics sciences, itu saja. Kalau nggak gitu ya nggak ada. Harus kembali situ.

Contoh sekarang, sekarang kan semua pake Google. Apa itu Google? Mengapa bisa ada Google? Kan ada matriks itu. Dulu pembimbingnya Pak Mukhlis. Dia yang mengembangkan Matriks. Itu penggunaannya di Google.

Orang mengembangkan matematika awalnya bukan untuk Google. Matematika dikembangkan sendiri. Penggunaannya terserah.

Kalau ITB mau maju ya harus kembali ke kittahnya. Sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Itu saja. Dengan pengembangan ilmu maka yang lain akan mengikuti. Akhirnya bisa menemukan vitamin ini, vitamin ini. Penggunaannya kan pada orang luar. Gak bisa ITB menjadi pabrik. Itu memerlukan dana.

Seperti gini, kemarin katanya orang Kalimantan menemukan obat kanker. Itu kan andaikan betul, walau saya percaya tidak betul. Itu kan diambil dari pohon. Kalau diambil banyak, apa mau menebangi pohon? Nggak kan. Kita lihat senyawanya apa, struktur kimianya apa, terus disintesis industri. Itu pengembangan sendiri. sintesis itu.

Jadi hal seperti itu kita harus lupakan karena semuanya berkibar. Tapi kita harus melepas dari mengibarkan bendara, kembali ke institusi pengembangan ilmu. Nggak bisa nggak. Otomatis kita akan mengusai ilmu itu tadi. Jadi ITB harus kembali ke institusi ilmiah. Kita terbalik, yang tampil idenya, ilmunya lupa.

Reporter: Uruqul Nadhif Dzakiy

Transkrip: Reza Prama Arviandi


2 Komentar

ibrahim · 3 Oktober 2019 pada 10:14

saya ingat saat melamar kerja mas, deg deg kan saat proses wawancara, tapi akhirnya selesai dengan harapan, salam kenal ya

    Reza Prama Arviandi · 3 Oktober 2019 pada 14:47

    wah melamar kerja bersama Prof. Susanto Imam Rahayu ya mas? Salam kenal juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *