Dilema Energi Terbarukan: Pertamina vs PLN

Dilema Energi Terbarukan: Pertamina vs PLN – Ceritanya beberapa bulan lalu lagi kumpul dengan alumni. Alumni yang saya maksud yaitu alumni ITB yang kok bisa bisanya berasal dari kota kelahiran tercinta yang jumlah sangat sedikit, Ponorogo.

Pertamina vs PLN

Salah satu cerita yang sangat berkesan yaitu tentang perkembangan bisnis dua raksasa BUMN di Indonesia di masa sekarang. Saya sebut raksasa mungkin untuk menggambarkan begitu perkasanya mereka di masa lalu. Dua raksasa BUMN itu adalah PLN dan Pertamina.

Sebelum abad 21 dimulai di tahun 2000, seringkali kita melihat dan mendengar betapa sejahteranya menjadi buruh intelektuil di kedua korporat tersebut, khususnya Pertamina. Jadi seorang fresh graduate gaji pokoknya di masa itu katanya bisa sama dengan pejabat eselon II di provinsi, yang tentu diraih belasan atau puluhan tahun.

Menjadi seorang karyawan, syukur-syukur punya jabatan agak tinggi disitu, menjadi rebutan banyak orang atau para lulusan perguruan tinggi manapun.

Lini Bisnis yang Saling Mendisrupsi

Kedua korporasi tersebut, PLN dan Pertamina, memang mempunyai lini bisnis yang sungguh sangat rekat dan beririsan. Energi yang menjadi sumber penopang roda berbagai lini kehidupan agar terus bergerak memang kebutuhan yang harusnya berada di atas kebutuhan primer, yang kita diajari di bangku sekolah yaitu hanya sandang pangan papan, kalau ada istilahnya sendiri.

Oleh karena itu di perundang-undangan negara di seluruh dunia, juga ditetapkan oleh PBB, energi adalah komponen sumber daya yang harus dimonopoli oleh negara bersangkutan.

Energi Terbarukan
Energi Terbarukan

Mencari Energi Terbarukan

Namun perkembangan manusia mencari sumber energi terbarukan menjadikan peta bisnis energi berubah. PLN yang sebelumnya kita kenal awam hanya sebagai pendistribusi di hilir produk energi dan Pertamina yang sebelumnya kita kenal awam hanya sebagai penambang sumber daya yang jelas tidak terbarukan, harus segera berbenah.

Produk renewable energy atau kita kenal sebagai energi terbarukan sudah digenjot negara maju ketika masa harga minyak dunia lagi bagusnya, yang menjadikan Pertamina dan akhirnya PLN mendapat laba sungguh besar, belum kita urusi secara serius dan berkelanjutan.

Produksi Energi Indonesia Terkini 

Menurut pendapat alumni dalam diskusi kali ini, kebetulan orangnya juga sudah 20 tahun di Pertamina dan satunya 15 tahun di PLN, konsumsi energi nasional yang terus naik, tetapi produksi lini primer energi berupa minyak dan batu bara yang terus menurun secara eksponen dapat menjadikan Pertamina sebagai korporasi mahabesar Indonesia bisa kolaps 20-30 tahun mendatang.

Ini artinya energi terbarukan harus segera diurus dengan perencanaan yang sistematis dan berkelanjutan agar meningkatkan produksi energi nasional dan mengurangi beban negara di masa selanjutya.

Persaingan Menjadi Pemenang Pasar Energi Terbarukan

Namun karena hal itu juga muncullah permasalahan ketika PLN yang di awal millenium mencoba masuk menjadi pemain di arah hulu sektor energi terbarukan lewat mikrohidro dan kini merambah ke tenaga bayu atau angin.

Pertamina yang sebelumnya bermain di lini gas alam sebagai energi terbarukan mulai terusik dengan keberadapan PLN. Hal ini dkarenakan lahan untuk bermain di sektor energi terbarukan contohnya tenaga surya sangatlah menjanjikan di Indonesia.

Ditunjang juga oleh fakta bahwa sektor utama Pertamina berupa minyak turunnya di tren yang cukup mengkhawatirkan untuk tetap bisa sustainable di masa mendatang.

Coal pit coal in hand fuel mine mining 900
Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment

2 thoughts on “Dilema Energi Terbarukan: Pertamina vs PLN”