Dilema Energi Terbarukan: Pertamina vs PLN

Skenario Bisnis Energi BUMN

Skenario yang terjadi mengerucut menjadi beberapa hal, salah satunya apabila Pertamina tidak bisa mengambil sektor energi terbarukan menjadi lini bisnis utama di masa depan, maka kita boleh mengucap sayonara untuk Pertamina di masa sekarang.

Untuk PLN, skenario yang terjadi sungguhlah menguntungkan, dengan masih bermain di wilayah hilir, tanpa bermain di hulu energi terbarukan pun PLN diyakini masih mampu bertahan dengan masa depan yang lebih cerah.

Peran Pemerintah di Sektor Energi

Pemerintah lewat Kementerian ESDM memang telah membentuk satuan kerja yaitu EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) untuk mengurus segala bentuk birokrasi yang diharapkan memudahkan untuk menangani sektor energi terbarukan ke depan.

Namun upaya yang ada harus didukung dan di genjot lebih lagi terutama untuk memberikan kebijakan terbaik, dengan “menyelamatkan” Pertamina dari jurang kekolapsan, atau memberikan kelonggaran ke PLN yang kita tahu sekarang kondisi perputaran duit dll begitu sehat dan mengesankan, atau menjadikan kompetisi yang kompetitif untuk PLN dan Pertamina memberikan kekuatan yang dimilikinya untuk bertarung memberikan produk energi terbarukan berkualitas.

14200222031867811241

Refleksi Atas Bisnis Energi Korporasi

Hal ini tentunya menjadi hal yang mafhum untuk segala bisnis di masa sekarang. Kalau saya boleh didengarkan usulnya, saya usulkan agar kedua korporasi tersebut belajar mengkoreksi dirinya untuk mendisrupsi segala hal disekitarnya.

Bahkan kalau perlu mendisrupsi dirinya sendiri, agar mampu tetap bertahan dan keluar dari masa yang sulit, khususnya Pertamina. Cepat atau lambat korporasi negara yang besar, selama ini dikritik oleh banyak pakar ekonomi dirasa terlalu nyaman di daerahnya sendiri, akan terdisrupsi dengan segala perkembangan bisnis dan sains yang tak mengenal ampun.

Mendorong Kembali Sharing Economy di Energi Terbarukan

Pertamina dan PLN harus bekerja sama dan menggunakan prinsip sharing economy dan sharing bussiness, yang lazim di zaman Gojek dan AirBnb ini, untuk mengurangi biaya produksi dan menggenjot banyak produknya di bidang renewable energy.

Apabila presentase energi terbarukan yang digunakan bisa mengimbangi energi tidak terbarukan semacam minyak, maka setidaknya Pertamina dan unit kerja yang berhubungan di dalamnya bisa kita lihat kiprahnya untuk tetap bernafas lebih lama lagi.

Apakah hanya memanfaatkan energi terbarukan saja cukup? Jawaban saya mengamini status facebook yang ditulis bapak Pekik Argo Dahono selaku dosen Power atau Teknik Tenaga Listrik ITB, yaitu tidak cukup. Mengapa tidak cukup? Nantikan episode selanjutnya.

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

2 thoughts on “Dilema Energi Terbarukan: Pertamina vs PLN”

Leave a Comment