Diskusi Buku Misykat dan Gejolak Pemikiran Islam

Diskusi Buku Misykat dan Gejolak Pemikiran Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi oleh Mentoring Sabana – Setiap minggu mentoring sabana melakukan kegiatan melingkar untuk saling mengingatkan hal yang baik. Karena hanya kelompok kecil dan teman sewaktu kuliah sarjana ditambah kehadiran Kang/Mas Teddy sebagai kakak dalam lingkaran, maka diskusi yang ada sangatlah ringan dan membahas hal sehari hari.

Diskusi Buku Misykat di Mentoring Sabana

Pada kesempatan tiga minggu terakhir ini kami membahas dua kali mengenai nukilan kecil dari buku Misykat. Konsep lingkaran kami selalu diawali mengaji dan kadang ada pembacaan hikmah. Setelah itu diskusi yang dibawakan salah satu secara bergiliran oleh teman dalam lingkaran ini.

Sinopsis Buku Misykat

Buku Misykat sendiri terdiri dari dua bab besar yaitu De-Westernisasi dan De-Liberalisasi. Secara singkat saya kira ini adalah buku penting dalam diskusi keagamaan di Indonesia dekade ini. Hal ini dikarenakan kutub polarisasi dan adu pemikiran tanpa mengenal batas negara dan bahkan agama di Indonesia sudah sangat cepat juga bisa jadi berbahaya.

Gaya Bahasa dan Isi Buku Misykat

Gus Hamid menuliskan kata di dalam buku ini menjadi sangat ringan, walau topik yang dibahas menurut saya berat. Jika ditimbang dari sisi akademis, buku ini menurut saya sangat akademis. Bisa dilihat sitasi buku ini di google scholar dan lainnya.

Jika buku ini dianggap sebagai populer, maka buku ini menyajikan hal tersebut juga. Hal ini dikarenakan Gus Hamid mampu menceritakan permasalahan umat saat ini dengan bahasa populer dan contoh yang dekat.

Buku Misykat, Pemikiran Islam, dan Gus Hamid

Buku Misykat sebenarnya adalah bentuk mutakhir dari tulisan dan pemikiran Gus Hamid mengenai fenomena pemikiran Islam di abad 21. Gus Hamid melawan pemikiran arus westernisasi dan liberalisasi dengan sebaik-baiknya.

Kumpulan tulisan Gus Hamid mengenai pemikiran Islam yang sudah dimasuki oleh cara berpikir orang “barat” ditulis dalam berbagai media khususnya Republika dan Jurnal Islamia. Selain melawan lewat tulisan, Gus Hamid setahu saya juga mendirikan lembaga think tank, INSIST, sebagai benteng peradaban kemajuan pemikiran Islam.

Gejolak Pemikiran Islam dan Saya

Saya tertarik sekali melihat gejolak pemikiran Islam, apalagi setelah tahu latar belakang Gus Hamid atau di kalangan akademis, Assoc. Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil. Selain beliau adalah putra dari pendiri Pondok Gontor, sebuah pondok besar di kampung halaman saya, Ponorogo, beliau juga memiliki riwayat akademis yang sangat mentereng.

Related:   Membangun Rumah Tahan Gempa di Indonesia: Tantangan dan Solusi

Judul Misykat ini juga sangat indah menurut saya. Apabila melihat diskusi beliau di tempat lain dan apa yang tertulis di buku, Misykat mempunyai arti yaitu lampu yang menempel di lubang dinding.

Diambil dari judul buku tafsir sufistik Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang berjudul mirip: Misykât al-Anwâr. Hal ini mempunyai makna yang dalam yaitu mampu menerangi sebagai lampu di pekatnya perang pemikiran Islam dewasa ini.

Jujur saja, perang pemikiran Islam secara sederhana sebagai orang yang sangat miskin ilmu dari buku populer di masyarakat salah satunya bisa dibedakan menjadi dua, menurut saya. Saya beliau yang memegang tafsir dengan lunak, satu lagi dengan hati-hati.

Gus Hamid, menurut saya sangat berhati-hati dalam memegang dan memperlakukan tafsir. Sebelum membaca buku dari Gus Hamid, saya sendiri sudah membaca banyak buku yang bertipe beliau penulis memegang tafsir dengan lebih lunak.

Salah satunya adalah buku populer dari Gus Nadir, saya menuliskan bahasan di bab awal dari buku Tafsir Al-Quran di Era Medsos. Jadi saya kira akan sangat seru dan beradab sekali apabila suatu saat Gus Hamid dan Gus Nadir bisa berdiskusi dengan cara yang sangat akademis mengenai gejolak pemikiran Islam, berawal dari buku populer yang beliau kedua tuliskan.

Video Diskusi Buku Misykat bersama Mentoring Sabana

Disclaimer: Bahwa banyak sekali hal yang tabu yang disampaikan dalam kedua video di bawah ini. Segala pendapat yang disampaikan adalah pendapat pribadi. Semoga tidak mengurangi dan menambahkan apa yang dimaksud oleh tulisan dari beliau, Gus Hamid dalam buku Misykat ini. Saya dan teman-teman memohon maaf apabila ada salah kata, ucapan, dan pemikiran dalam video ini.

Diskusi Buku Misykat: De-Westernisasi

Bagian 1: De-Westernisasi

  1. Apa, siapa, dan dimana Barat itu?
  2. Inti worldview Barat yang menjadi ciri khas?
  3. Bagaimana hubungan Islam-Barat?
  4. Bagaimana seharusnya hubungan Islam-Barat?
  5. Letak masalah Islam-Barat?
  6. Salah paham Barat terhadap Islam bisa dimaklumi, tapi bagaimana arti salah paham terhadap barat sendiri?
  7. Bagaimna detil muslim yang salah paham terhadap barat?
  8. Dimana letak kesalahan umat Islam sehingga terbagi atas dua kelompok? Akhir akhir ini kecenderungan pelajar muslim belajar di barat cukup tinggi. Mengapa?
  9. Apa kelemahan belajar Islam di Barat?
  10. Apa motivasi Barat serius mengkaji Islam hingga punya Islamic Studies yang bonafit, apa tujuan akhir mereka?
  11. Keilmuan Islam tidak bersumber dari Barat, peradaban Barat bukan peradaban Islam, namun mengapa banyak ilmuwan Muslim bilang “Menemukan Islam” disana?
  12. Mengapa banyak dari mahasiswa Muslim yang belajar di Barat bersemangat membawa ide rasionalisasi, sekularisasi, dan liberalisasi Islam kemudian mengundang kontroversi?
  13. Seberapa salah jika Muslim mengadopsi konsep Barat?
  14. Mengenai pertanyaan sebelumnya, apa contoh konkrit dalam bidang pengambilan hukum?
  15. Sebenarnya pada pihak mana salahnya: Pemahaman Islam para pengkaji Barat, atau cara mahasiswa Muslim mengadopsi pemahaman mereka?
  16. Bagaimana menyikapi Islam ala Barat yang terlanjur tersebar ini?
  17. Apa hal yang penting dilakukan untuk memajukan Pendidikan Islam dan melepaskan diri dari hegemoni konsep dan paham Barat?
Related:   Dilema Energi Terbarukan: Pertamina vs PLN
https://www.youtube.com/watch?v=Eje4fAdrQRc
Diskusi Buku Misykat: De-Westernisasi

Diskusi Buku Misykat: De-Liberalisasi

Bagian 2: De-Liberalisasi

  1. Apakah Liberalisasi Islam itu? Islam yang dipengaruhi cara berpikir liberal dari manusia Barat yang sekular. Bebas dari gereja, modral, agama, bahkan Tuhan.
  2. Bagaimana paham ini bisa masuk ke dalam pemikiran Islam? Melalui sarjana Muslim (yang belum selesai “gelas keislamannya”) yang belajar di Barat.
  3. Apakah Gerakan liberalisasi yang mereka lakukan di Indonesia? Gus Hamid menyebut LSM dan kampus PTI.
  4. Apa standar orang terpengaruh paham liberal? Orang yg memahami teks ajaran agama tanpa mau ikut otoritas ulama dan penggunaan akal sebebas-bebasnya.
  5. Komentar Gus Hamid mengenai fatwa MUI mengharakan pluralism dan liberalism? Kemajuan yg luar biasa. Masih diperlukan penjelasan panjang lebar merujuk bukan hanya kitab fiqih, namun juga aqidah.
  6. Pendapat Gus Hamid mengenai pluralism? Harus dipahami jadi dua konteks: wacana liberal yg sedang marak dan pluralism agama di Barat.
  7. Apa konsep Islam tentang Pluralisme? Jika ada bagaimana pandangan Islam mengenai Pluralisme? Pertanyaan yg tdk tepat. Konsep itu tdk ada dan kompatibel dg Islam. Adanya pandangan thdp pluralitas agama, bukan kebenaran agama agama.
  8. Pendapat Gus Hamid apabila pluralism dikaitkan dengan agama, konteks di Indonesia? Pluralism di Oxford Dict mengandung relativism. Ada dua konsep membedah lewat teologis dan sosiologis.
  9. Bagaimana seharusnya umat Islam (pendapat Gus Hamid) menyikapi pluralism yang ada di Indonesia? Bhineka Tunggal Ika tidak menyentuh bidang teologis. Maka ini yg dimaksud pluralism sosiologis. Islam mengenal hikmah (Islamic Wisdom) dalam perbedaan.
  10. Bagaimana Islam mengenal konsep liberalism? Pandangan Gus Hamid mengenai konsep tersebut? Liberalism tdk ada akarnya di Islam. Asli dari Barat lewat gelombang postmo. Anti liberalism tidak serta merta mendukung absolutism, dan ini cara berpikir khas Barat.
  11. Apa konsep kebebasan dalam Islam? Dikenal Ikhtiyar, memilih baik diantar yg baik dan buruk. Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi liberalism? Apabila menggugat syariat, aqidah, dll Islam maka akan mengakibatkan kekhufuran. Di Barat sejarah Ateism berawal dari sikap liberal. Fatwa MUI sudah sangat tepat.
  12. Pandangan Gus Hamid mengenai ada golongan masyarakat yang menolak MUI? Yg menolak hanya segelintir orang, bukan golongan. Harus diselesaikan dg mengklarifikasi makna definitif dari paham yg ada. Sayang penolakan bukan dari substansi fatwa.
  13. Bagaimana cara agar umat Islam di Indonesia menyikapi banyak perbedaan ini? Bagaimana sikap Rasulullah SAW? Perbedaan adalah sunnatullah. Yg boleh adalah beda dalam penjelasan. Orang liberal pukul rata perbedaan masalah ushul dan furu’.
  14. Bagaimana cara agar persatuan umat Islam di Indonesia tercapai? Merujuk ke al-Qur’an dan Sunnah. Yg menyebabkan perpecahan bukan perbedaan, tapi kemiskinan ilmu. Kurang ilmu menjadikan fanatik buta pada kelompoknya dan memusuhi yang lainnya. Perbedaan didasari ilmu yg benar akan membuat ilmu berkembang.
  15. Bagaimana cara agar umat Islam di Indonesia bisa maju? Harus mengembangkan ilmu Islam yg terdiri dari Syariah (agama) dan kauniyah (umum). Keduanya tdk bisa dipisahkan scr dikotomis.
  16. Menurut Gus Hamid kelompok apa yg terkait dg pemikiran liberal di Indonesia? Apa LSM penyebar liberalis dalam Islam di Indonesia perlu dibubarkan? Tidak efektif. Lebih efektif membubarkan pemikiran konsep serta framework mereka. Perlu kajian intensif.
  17. Dalam batas apa umat Islam harus bertoleransi? Masalah furu’ dalam Islam bisa ditoleransi. Ushul dan aqidah tidak bisa. Secara sederhana perbedaan pendapat itu ada tiga: khata’ dan sawab, haqq dan batil (sesat), dan terakhir Muslim dan Kafir.
  18. Pandangan Gus Hamid terhadap Ahmadiyah? Berdirinya sendiri sudah menimbulkan kecurigaan. Konsep teologinya sudah sangat problematis. Tidak ada kamus toleransi dalam hal ini. Setuju dg MUI.
  19. Mengapa orang liberal gigih membela Ahmadiyah? Karena doktrin liberalism adalah di dunia ini tidak ada yg absolute, yg absolute hanya Tuhan. Agama itu relatif. Allahu A’lam.
  20. Apa komentar Gus Hamid terhadap MUI sebagai Lembaga fatwa banyak dipertanyakan orang liberal? Wajar, ciri liberalism yg jadi anak kandung postmodernism adalah antiotoritas (anti fatwa), anti struktur. Cek pendapat Hustron Smith. Bukan hanya MUI yg dipertanyakan, bahkan Utsman bin Affan dan Imam Syafii juga dipertanyakan.
Related:   Kompetensi Manajer Proyek, Apa Saja?
Diskusi Buku Misykat: De-Liberalisasi
Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment