E-Procurement dan BIM di Industri Konstruksi

E-Procurement dan BIM di Industri Konstruksi – Ramadan #11 – Ini series kedua mengenai apa E-Procurement dan BIM di industri konstruksi terutama yang ada di Indonesia. Bagaimana perkembangan, tantangan, dan hal yang harus diselesaikan untuk integrasinya.

Series ini bagian dari series Ramadan yang sedan giat saya tulis. Semoga banyak baiknya diterima. Silahkan sitasi apabila membutuhkan. Saya sertakan sumbernya di akhir series tulisan.

Penelitian E-Procurement di Industri Konstruksi

Penelitian yang dilakukan oleh Duyshart, dkk. dan Tavares menyatakan bahwa penggunaan e-procurement telah berkontribusi dalam pengurangan lebih dari 3% pengeluaran tanpa adanya pengurangan kualitas.

Manfaat E-Procurement di Industri Konstruksi

Hal ini sangat memungkinkan mengingat e-procurement dapat membantu pengurangan kompleksitas pekerjaan, membuat integrasi lingkungan untuk mengelola dan memonitor proyek, serta meningkatkan keterbukaan informasi.

Solusi yang ditawarkan E-Procurement di Industri Konstruksi

E-procurement sebagai sebuah solusi dapat merampingkan banyak proses pengadaan yang ada di organisasi.

Beberapa proses pengadaan yang bisa dirampingkan dengan e-procurement diantaranya adalah e-payment, e-subsmission, e-decision, e-award, e-ordering, e-invoicing, e-ordering, e-contract, ex-post evaluation, ex-ante e-evaluation, dan e-noticing.

Dalam konteks e-procurement yang bisa sepenuhnya tanpa kertas dan terintegrasi, semua proses diatas harus digabungkan dengan informasi yang relevan dan tersedia secara elektronik.

Related:   Apa itu Manajemen Proyek Berdasarkan PMBOK?

Hal ini akan mengurangi pekerjaan adiministratif, mengotomatisasi proses operasional, dan menawarkan lebih banyak waktu untuk memikirkan hal signifikan lainnya.

Efisiensi yang Ditawarkan E-Procurement di Industri Konstruksi

Di sisi lain, keberadaan e-procurement akan mempercepat efisiensi informasi yang terjadi di pasar serta mengirimkan penyesuaian terhadap keputusan pengadaan seperti strategi negosiasi, metode pengadaan, dan evaluasi proposal pemasok.

Berkembangnya BIM di Industri Konstruksi

BIM telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir dengan munculnya Computer Aided Design (CAD) yang mampu memperkaya model tiga dimensi (3D) dari sebuah bangunan dengan data pelengkapnya semisal karakteristik fisik, detail fabrikasi, biaya per unit, dan lainnya.

Manfaat BIM di Industri Konstruksi

Sebagai sebuah metodologi baru, BIM menawarkan proses kerja yang lebih kolaboratif di berbagai tahap proyek konstruksi dan juga digunakan selama siklus hidup bangunan. Sehingga memungkinkan pengurangan kesalahan akibat kurangnya informasi serta penggunaan sumber daya dan biaya operasional yang lebih efisien.

Penelitian NBS UK terhadap BIM di Industri Konstruksi

National Building Specifications (NBS) di United Kingdom (UK) tahun 2010 melaporkan survei yang mereka lakukan mengenai sikap orang terhadap penggunaan BIM. Survei tersebut menyatakan bahwa 90% pengguna yang menngadopsi proses BIM memerlukan penyesuaian yang signifikan terhadap praktik yang biasa dilakukan di industri.

Beberapa organisasi dan perusahaan arsitektural besar telah diminta untuk menggunakan BIM di dalam penawaran proyek publik yang mereka lakukan. Meskipun biaya menjadi salah satu penghalang, terutama untuk organisasi dan perusahaan dengan skala yang lebih kecil.

Penerapan BIM di Industri Konstruksi Dunia

Namun penerapannya telah mengalami kemajuan yang cukup pesat di Eropa. Penelitian sejenis oleh buildingSMART Australia menyatakan bahwa BIM tidak hanya membutuhkan perubahan di dalam teknologi yang digunakan, namun juga dalam pendekatan kerja sama tim desain dan konstruksi di lapangan.

Related:   Peluang dan Tantangan Membangun Kota Pintar

Hambatan Implementasi BIM di Industri Konstruksi

Di tempat penelitian yang sama Cooperative Research Centre (CRC) melaporkan banyak hambatan dalam implementasi BIM, yang dapat dikaitkan dengan seberapa besar perubahan organisasi yang akan dilakukan dan proses bisnis yang terjadi.

Meskipun BIM memberikan banyak manfaat dan biaya produksi material yang bersaing daripada pengelolaan tradisional, ada banyak faktor yang menghambat proses adopsi terjadi secara luas.

Minat Implementasi BIM di Industri Konstruksi

Asosiasi industri konstruksi di Kanada lewat penelitian lain mengidentifikasi dan memberi kesimpulan pada hambatan proses adaptasi BIM bahwa minat terhadap BIM tinggi, namun penerapan penuh BIM sangat jarang terjadi.

Berkembangnya BIM ternyata membawa informasi bahwa beberapa jenis bisnis akan sulit mengadaptasi sistem dan teknologi yang ada dengan kecepatan yang sama. Proses adaptasi dengan BIM harus melalui proses perubahan yang terkendali, mencakup interfaces organiasi internal dengan klien dan basis pasokan eksternal.

Kematangan BIM di Industri Konstruksi

Kematangan penggunaan BIM ini dikembangkan salah satunya oleh UK Department of Business Innovations and Skills (BIS). BIS mendefinisikan tingkat kematangan pengguna BIM dari level 0 sampai 3.

Saat ini mayoritas pengguna berada di level 1 dan beberapa pengguna terbaik yang merasakan manfaat dengan signifikan berada di level 2.

American Institute of Architects (AIA) mengadopsi Model Progression Specifications (MPS) for BIM (E202-2008) untuk mengukur kematangan penggunaan BIM. MPS digunakan untuk mengatasi hal seperti metode medelegasikan tugas kepada orang terbaik dan permasalahan dalam fase milestones, deliverables, dan outcomes.

Inti dari MPS adalah cara mendefinisikan Level of Detail (LOD) yang menjelaskan langkah yang logis dari setiap elemen yang ada di BIM. Tingkat detail LOD ada dari tingkat terendah (100) yang berupa bentuk konseptual hingga tingkat tertinggi (500) yang berupa bentuk presisi.

Related:   Sejarah Singkat Revolusi Dunia Kontrak Pintar Sampai dengan Hashgraph

Keengganan Implementasi BIM di Industri Konstruksi

Salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi penerapan BIM di organisasi dan perusahaan publik yaitu subjek yang ada enggan, bahkan tidak mampu memaksakan diri menggunakan BIM dengan perangkat lunak yang sesuai standar.

Untuk menjaga informasi tetap terbuka, seperti apa yang dilakukan oleh BIM, dibutuhkan protokol dan bahasa yang sama, dimana perangkat lunak dapat berkomunikasi satu sama lain.

Perkembangan saat ini terdapat banyak protokol untuk mengatasi masalah kemampuan sistem komputer untuk melakukan komunikasi satu sama lain (interoperabilitas).

Protokol yang dimaksud adalah IFC dan the Standard for the Exchange of Product model data (STEP-ISO). IFC adalah protokol yang paling didukung oleh banyak vendor utama perangkat lunak BIM.

Perubahan Peran Akibat BIM di Industri Konstruksi

Hadirnya BIM membuat peran dan hubungan baru dalam tim proyek bermunculan. Pendekatan BIM membutuhkan perubahan dalam pembagian peran dan tanggung jawab.

Beberapa peran lama seperti ahli gambar mungkin menjadi tidak relevan, kemudian digantian oleh ahli model. Peran baru, seperti manajer BIM muncul untuk mendukung koordinasi yang lebih besar lingkupnya dalam mengembangkan dan memelihara model BIM yang lebih terintegrasi.

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment