Terang sudah, menjadi kaya merupakan salah satu pesan mendasar dalam Islam. Kenapa? Karena dengan kekayaan, kita akan lebih mudah dalam beribadah. Sebaliknya dengan kefakiran, kita akan lebih dekat dengan kekufuran.

Adalah Robert Kiyosaki, seorang pengajar ilmu kekayaan yang juga seorang pengusaha, yang menolak mentah-mentah paham religius yang berbunyi,

“Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan.“

Robert Kiyosaki

Terlepas dari itu, menurut saya uang itu seperti pisau. Sayatannya dapat membawa manfaat sekaligus mudharat. Ya, tergantung siapa yang memegangnya.

Sebenarnya dengan adanya uang, kita akan lebih mudah dalam membayar zakat, haji umrah, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, menegakkan ekonomi syariah, membangun sarana umat, berwakaf, dan lain-lain.

Pernah suatu ketika, Nabi menugasi dua sahabatnya yang kaya raya pada dua kesempatan yang berbeda. Masing-masing ditugasi untuk mengimbangi pengaruh kaum Yahudi di pasar-pasar. Lha, tanpa kekayaan, apa mungkin tugas mulia ini dapat ditunaikan dengan baik? Rasa-rasanya mustahil.

Tidak perlu diperdebatkan lagi, kekayaan bukanlah mudharat. Asalkan mampu mempertanggung-jawabkan “dari mana“ dan “kemana“ kekayaan tersebut juga tetap bersikap rendah hati, sederhana, dan dermawan.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa iblis menaruh benci seribu karat terhadap orang yang kaya. Tepatnya orang kaya yang bersyukur. Bukankah itu artinya Yang Maha Kuasa sangat mencintai orang kaya yang bersyukur?

Lalu, apa tanda-tanda syukurnya? Dalam riwayat tersebut dijelaskan, ia mengambil kekayaan pada tempatnya dan mengeluarkan juga pada tempatnya. Dengan kata lain, ia mampu mempertanggungjawabkan “dari mana“ dan “kemana“ kekayaan tersebut.

Nabi, walaupun kaya, namun tetap sederhana. Alih-alih bermewah-mewah, ia malah memanfaatkan hampir seluruh kekayaannya untuk menolong sesama dan memperjuangkan agamanya.

Dengan pola hidup sederhana sedemikian, maka ketika wafat ia tidak meninggalkan warisan, tidak pula meninggalkan utang. Kalaupun ada sesuatu yang ia tinggalkan, itu adalah Al-Qur’an satu-satunya di dunia kitab suci yang bisa dihafal, satu-satunya kitab suci yang masih otentik, dan satu-satunya kitab suci yang hanya tersedia satu versi.

Wallahu a’lam.

Catatan kaki:

  • Ditulis sebagai salah satu feature di buletin media dan dakwah Rohis Al-Kautsar di tahun 2012 dahulu.
  • Di tahun 2013 saya diamanahi sebagai Ketua Departemen Media Dakwah persis yang mengurus salah satunya kanal dakwah dan buletin hasil tulisan ini.
  • Sampai tulisan ini ditulis media yang masih saya amati aktif yaitu instagram untuk Rohis Al-Kautsar. Sayang tulisan-tulisan aktif progresif kok susah untuk saya akses. Dulu kami seringkali menghujani berbagai hal dengan menulis.
  • Saya temukan di personal massage ke mbak Afifah sebagai koorwat yang meminta saya mengirim dan membahas hal ini.
  • Semoga masih banyak manfaat dari apa yang tertuliskan.
Kategori: muhasabah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *