Bertempat di Student Lounge Gedung Sipil, acara Angkringan (Angkatan Bercengkrama Ringan) #1 Kastrat HMS ITB dimulai pada jam 19.04. Mengambil konsep tempat angkringan berupa tempat diskusi masyrakat yang sudah ada di banyak tempat di Indonesia, khususnya Jawa, disediakan juga kopi dan snack untuk menemani jalannya diskusi. Dihadiri sekitar 60an mahasiswa Teknik Sipil ITB dan 4 mahasiswa dari Teknik Geologi, Planologi, dan Desain Interior. Mengambil diskusi menganai kecelakaan infrastruktur yang rame terjadi setahunan terakhir. Pada diskusi kali ini Kastrat HMS ITB, selaku penginisiasi, mengundang pemateri dari Profesional Engineer di PT Wijaya Karya (Wika) Tbk. Kedua orang tersebut yaitu pertama Pak Akhmadi yang bergerak sebagai Project Manager di proyek yang sangat bersentuhan dengan bahasan utama pada saat diskusi. Yang kedua yaitu Pak Yanu sebagai pemegang sertifikat keahlian Heavy Lifting satu-satunya di Asia Pasifik.

Pembahasan diawali dengan nilai yang dibawa oleh Wika dalam berbagai proyek yang dilaksanaka. Materi dilanjutkan dengan berbagai aspek K3 dan lingkungan yang sangat perlu diperhatikan dalam keberjalanan proyek. Memasuki bahasan utama, ditunjukkan berbagai kegagalan proyek infrastruktur, mulai dari LRT Palembang, Tol Bocimi, Girder Tol Paspro, dll. Pemateri juga mengakui bahwa Wika sebagai Perusahaan BUMN plat merah menjadi salah satu pelaku dalam berbagai kasus kecelakaan infrastruktur akhir-akhir ini.

infografis oleh tirto.id

Siapa yang patut disalahkan?

Salah satu ide yang hadir dalam diskusi yaitu siapakah yang pantas disalahkan dalam semua kecelakaan ini? Pak Yanu sebagai engineer yang bagian pekerjaan sangat dekat dengan semua kasus ini mengatakan bahwa tidak bisa secara spesifik kita sebut satu pelaku. Hal ini disebabkan dalam setiap kasus yang ada selalu hadir variabel ganda kesalahan yang dilakukan. Secara spesifik ketika inspeksi proyek kita melihat 5 hal yaitu faktor manusia, pengawasan, alat, sistem, dan metode kerja. Kelima hal tersebut saling berkaitan membentuk helix satu sama lain. Ketika satu hal gagal, satu hal lain juga ikut gagal. Kuncinya pada variabel manusia yang merencanakan karena hanya manusia yang mampu memberi final decision.

Hal yang sangat sering dilakukan pelaku kontruksi di Indonesia adalah ketidakfokusan, ketidakseriusan, dan ketidakdetilan dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi di lapangan. Sejak di bangku sekolah, kita sangat sering kita melihat lingkungan sekitar menyepelekan banyak hal yang ada disekitar. Padahal di lingkup pekerjaan kontruksi, menyepelekan hal yang remeh akan mempertaruhkan nyawa manusia. Mungkin kegagalan berupa materi masih bisa dikejar, namun nyawa manusia siapa yang akan mau bayar?

Mungkin kegagalan berupa materi masih bisa dikejar, namun nyawa manusia siapa yang akan mau bayar?

Infografis oleh PT Wijaya Karya Tbk

Contoh kasus

Dudukan salah sau crane amblas pada saat pengangkatan girder. Sumber oleh PT Wijaya Karya Tbk

Sikap menyepelekan hal yang remeh ini bisa dilihat dalam proyek Tol LRT Palembang. Analisis kegagalan menunjukkan bahwa salah satu faktor kegagalan yaitu tidak dihitungnya pengaruh momen ketika girder bertambah tinggi vertikal ke atas. Hal ini terjadi hanya karena kebiasaan memberi beban yang overload dan alat mampu menahan beban tersebut. Ketika di lapangan dibutuhkan kapasitas menahan beban yang lebih besar, para engineer atau pengawas di lapangan ikut mengijinkan. Hal remeh seperti sangatlah fatal akibatnya

Proyek Tol Pemalang-Batang. Sumber oleh PT Wijaya Karya Tbk

Sikap menyepelakan ini hadir juga dalam kegagalan proyek Tol Pemalang-Batang. Analisis kegagalan menunjukkan bahwa balok yang sangat tipis, panjang, dan secara alami harusnya dihitung kegagalan tekuknya dibiarkan begitu saja. Usaha menanggulangi tekuk hanyalah dengan memasang penguat yang dipasang juga dengan ngawur seperti kebiasaan sebelumnya.

Di akhir diskusi Pak Akhmadi memberikan sedikit wejangan bahwa faktor manusia ini kita kendalikan salah satunya lewat belajar di univeritas maupun kehidupan. Hal tentang manusia itu sendiri yang perlu dibangun yaitu sosok kepemimpinan. Lewat kepemimpinan yang efektif dan efisien oleh setiap orang di lapangan proyek, maka keberjalanan proyek dapat dikendalikan lebih baik. Hal ini dikarenakan perwujudan kepemimpinan akan menjadikan setiap individu di proyek mampu memimpin dirinya sendirinya. Sehingga bendera kewaspadaan terhadap semua kemungkinan kegagalan bisa dihindari.

Peran apapun di suatu memanglah harus dilakukan dengan serius dan profesional. Kegagalan dalam suatu proyek infrastruktur, apalagi menukarnya dengan nyawa tentu tidak diharapkan oleh siapapun. Oleh karena itu pengawasan dalam berbagai proyek yang berjalanan harus kita awasi secara saksama. Tentunya dengan peran yang kita bawa sekarang.

Semoga pembangunan infrastruktur yang kian masif akan semakin menyejahterakan masyarakat bukan menjadi duka sesaat.

Sumber:

  1. Angkringan #1 HMS ITB pada tanggal 19 April 2019.
  2. Mufti Sholih. Daftar Kecelakaan Infrastruktur pada Awal 2018. https://tirto.id/daftar-kecelakaan-proyek-infrastruktur-pada-awal-2018-cE4M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *