Kalau boleh dicatat sepanjang hari kemarin, Selasa 30 April 2019, saya sedang menyepi sambil berdiskusi dengan banyak orang untuk beberapa keputusan, yang bisa jadi mengubah hidup atau bahasa “film avengers” yaitu realitas saya. Ya, mungkin perubahan tersebut kelihatannya hanya mengubah di selang waktu 1 tahun kedepan. Namun, bagi saya harusnya hal tersebut mengubah perjalanan kehidupan selanjutnya.

Sekarang, Rabu 1 Mei 2019, ketika saya menulis ini, saya disibukkan pada beberapa hal yaitu presentasi akhir tugas besar RBTA yang mungkin terlaksana akhir minggu ini, mengasistensi akhir Bangunan Air yang harusnya minggu ini kemudian minggu depan siap UAS, sebagian tugas besar RekSung yang harusnya minggu depan kelar, magang di PPID ITB yang minggu ini adalah minggu terakhir, dan kamis ini ada Engineering Day untuk FTSL ITB sebagai asisten di matkul tersebut, selain itu tanggungan TA bagian geoteknik belum tersentuh untuk dinding penahan tanahnya, dan tugas-tugas komunitas masyarakat yang saya rahasiakan.

Hal kegalauan seminggu ini masih ditambah lagi yaitu permintaan Alam, selaku Menko Sospol terpilih dan teramanahi di kabinet Royyan untuk membantu doi sebagai menteri di kemenkoannya. Permintaan seperti ini sebenarnya sudah berhembus sejak awal tahun, tapi saya saat itu jelas menghindar. Ya karena selain yang didengungkan yaitu ini hanya sebuah isu dan permintaannya menjadi menko di ring 1, saya merasa sangat yakin bahwa ada orang semacam Ibai, Iqbal Ridalta, Demisioner Kahim Patra, atau Gissma, Nadia Gissma, Demisioner Kadept Kastrat Plano yang tahun sebelumnya juga Wamenko di Kementrian di bawah Sospol yang punya kualitas. Walaupun saya masih merindukan sosok menteri yang lebih ideal seperi Bang Obe, Menko Sospol KM ITB 2016, tempat saya bernaung sebentar sebagai staff muda saat TPB. 

Bagi saya sosok Menko ataupun menteri yang ideal di Sospol minimal punya 3 hal +1 tambahan. Kuantitas, kualitas, dan ketulusan + relevan. Kuantitas bisa ditunjukkan dengan salah satunya lewat seberapa banyak tulisan, opini, kegelisahan, dan kontribusi keikutsertaan dalam segala hal yang berkaitan dengan propaganda serta aksi di Sospol. Kualitas bisa dilihat dari seberapa dalam tulisan opini, kajian, diskusi, dan kontribusi yang dihasilkan. Ketulusan bisa diukur lewat seberapa besar komitmen untuk hadir dan menghidupi amanah di Sospol ini. Tambahan relevan yaitu seberapa berkaitan dan bertalian erat kehidupan sehari-hari seseorang mencerminkan dirinya sebagai sebab akibat berada di Sospol. Rumus inipun sebenarnya saya terapkan di tempat lain juga, hehe.

Ketika diberi tahu Sam, Samuel Gerald Marpaung, Kadept Kastrat Plano sekarang, bahwa Menko yang baru itu Alam. Saya sedikit lega dan tentu bertanya-tanya. Lega karena akhirnya ada yang mengisi juga Sospol ini. Kedua bertanya-tanya, ya maaf sebelumnya belum kenal dekat Alam soalnya, hehe. Sehari setelah diberi tahu Sam, saya diajak untuk ketemuan dengan Alam. Dalam hati saya sudah mengira pasti bakal berkaitan dengan Sospol lagi. Benar saya langsung ditawari salah satu posisi sebagai di Jakda, Kebijakan Daerah. Tawaran ini tentu tedeng aling-aling. Alam menawarkan dengan kondisi bahwa selain 3 orang dibawahnya (2 menteri dan 1 wamenko) yang sudah fix. Tawaran kepada saya ini dikarenakan sudah tidak orang lain yang berpotensi untuk mengisi. Kalau tidak ada juga, salah satu kemungkinannya bakal meleburkan beberapa kementrian menjadi satu.

Restu Orang Tua menurut saya paling berat. Dulu di awal tahun 2019, saya sudah samar-samar bertanya ke Orang Tua, bagaimana kalau ada case saya lulus duluan, tapi wisuda di April 2019. Wah, bapak saya yang selama kelas 2 SMP sampai Tingkat 4 (kelas 1 SMP saya gak dibolehin ikut OSIS, alhasil hanya aktif di pramuka dan forum siswa sebagai ketua kelas, haha) selow aja, mendadak langsung bicara tidak setuju. Terlalu berat untuk saya tidak lulus di Juli, selain biaya kuliah (saya dapat beasiswa full untuk hidup dan kuliah), ada beberapa hal lain yang tidak bisa saya ceritakan, dan bapak hanya setuju kalau saya malah S2. Begitupun ibu yang langsung mengamini. Tapi tentu saya masih perlu waktu untuk mantap sekolah lagi. Walau keinginan itu tentu ada. Ternyata di April jawabannya tetap tegas: menolak.

4 hari sejak Alam diskusi mengenai hal tersebut, saya menghubungi beberapa orang kepercayaan untuk berdiskusi sambil mencari alasan/why saya cukup untuk mengarungi samudra bernama KM ITB ini. Setidaknya SWOT saya bisa dikatakan sebagai berikut,

  1. Strength: Visioner, punya bertumpuk kegelisahan mengenai kebijakan terutama di infrastruktur, mandiri, konseptor, dan proaktif.
  2. Weakness: Tidak ada dukungan orang tua, manajerial kelompok, dan egois.
  3. Opportunity: Relevan dengan amanah di kastrat terutama di 4 lembaga di 3 tahun terakhir.
  4. Threat: Belum mendalam turun ke akar rumput dan belum punya kegelisahan serta pengalaman turun aksi.

Dengan semua SWOT pada diri saya kemudian saya benturkan pada realita serta diskusi yang terjadi, saya memilih dengan kepala dingin untuk: belum menerima.

Keputusan yang berat untuk saya yang sebelumya selalu berprinsip bahwa kalau tidak ada yang maju, saya yang akan maju menengguk amanah tersebut.

Mungkin saja dengan sebenarnya apabila saya ikut bergabung banyak kesempatan dan pintu koneksi rezeki yang tersambung. Namun sampai 4 hari kemudian saya belum beranjak menemukan why terbesar untuk bergabung serta tetap tidak adanya restu Orang Tua yang sangat berharga.

Semoga kapal perjalanan Sospol bersandar di dermaga terbaik dan selamat dari berbagai guncangan setahun kedepan. Semoga lancar mengawal hari buruh yang tepat pada hari ini.

  • pesan yang saya kirim ke line Alam sejam yang lalu

Saya bakal tetap membantu Alam, mungkin bukan di dalam sistem bernama KM ITB. Gak papa, kegelisahan saya harus tetap di suarakan dan dituntaskan, walau bukan di jalur formil. Saya akan tetap menulis, saya akan tetap beropini, saya tetap ikut berdiskusi juga berkajian, saya akan tetap nge-chat menteri yang teramanahi mengenai kegelisahan saya, saya akan tetap berada di tengah kesepian yang bernama masyarakat, justru karena saya bagian masyarakat itu sendiri yang sering termarjinalkan oleh berbagai kuasa.

Selamat jalan KM ITB, semoga saya tidak pernah menyesal, walau sering saya mengatakan bahwa kita hanya boleh menyesal di suatu hal yang kita tidak pernah mencoba.

*tambahan: saya masih bercita-cita untuk S2 di Delft, mungkin di kebijakan infrastruktur atau sekalian di bangunan air untuk banjir, kemudian mendedikasikan diri menjadi Sekjen PPI Belanda, semoga.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *