Kekuatan Tekat Melihat Olimpians

kekuatan tekat
Kekuatan Tekat Diambil dari insdrcdn.com

Pulang Kampung

Kemarin pas pulang kampung ke Ponorogo untuk lebaran, saya sowan ke guru dan sosok sosok yang pernah bersentuhan dengan saya ketika SMA. Banyak sekali pengalaman dan cerita yang saya bawa dari perantauan. Begitu juga beliau yang membawa cerita sepanjang setahun saya tidak aktif lagi mengikuti perkembangan sekolah dan berbagai hal di Ponorogo.

Namun saya kali ini akan menulis tentang bertemunya saya dengan beliau beliau yang bersinggungan dengan saya ketika menghabiskan masa setahun terakhir SMA. Dari percakapan yang ngalor ngidul ini saya tercengang pada salah satu hal mengenai olimpians.

Siapa itu Olimpians?

Olimpians yang saya maksud disini adalah anak anak yang dulunya ndelalah -terpaksa- ikut Olimpiade atau lomba-lomba yang berkaitan sewaktu SMA. Olimpians ini saya batasi kepada anak yang mengikuti perlombaan akademik semacam matematika, fisika, kimia, biologi, ataupun perlombaan profesi macam lomba keteknikan, kedokteran, farmasi, dkk.

Seluruh perlombaan itu saya generalisir sama dihadapkan pada fakta bahwa semuanya mengerjakan soal atau melakukan kegiatan semacam praktikum untuk menguji wawasan tentang ilmu pengetahuan yang sebagian kecil didapat di bangku SMA.

Beliau: “Yang lolos undangan angkatan adek kelasmu sedikit sepertinya za.”
Saya: “Tapi banyak yang lolos juga lho bu kalau di jalur tes.”
Beliau: “Yang lolos kebanyakan juga yang dulu sering ikut Olimpiade. Aku punya keyakinan kalau kunci sukses lolos jalur tes itu kalau anaknya punya satu mapel yang bisa. Contohnya Si Anu. Si Anu dulu aku tahu cuma bisa biologi. Si Ana yang lolos di Univ A juga cuma bisa fisika. Si ane yang lolos di Univ B cuma bisa matematika.”

Sekolah dan Nilai Akademis

Kadang saya berfikir, wah kok cara pandang ya kok begitu ya. Waduh kalau begini, pantaslah kalau bersekolah cuma untuk nilai, cuma untuk mencari pekerjaan. Mending sekolah dibubarkan saja. Eh, maaf pemikiran absurd saya, yang ini tidak akan saya sensor, haha.

Saya tegaskan di awal -eh tengah- ini bahwa saya merasa bukan Olimpians. Walaupun di masa SD, SMP, sampai SMA. Ladalah kok di sma saja saya berpuluh puluh kali lolos semifinal, dengan belasan lolos final, dan bisa dihitung jari dapat juara.

Siapa Olimpians Sejati?

Menurut pendapat saya Olimpians sejati untuk konteks Indonesia ya mereka para anggota timnas ataupun anak yang pernah dapat medali di tingkat nasional dari kejuaraan resmi pemerintah. Disebut resmi karena mengundang seluruh bakat atau individu terbaik dari seluruh pelosok negeri.

Walaupun saya juga percaya bahwa ada subjek individu terbaik yang tidak ikut didalamnya karena berbagai macam alasan antara lain biaya, transportasi, kesempatan, dll. Namun bila dibandingkan dengan yang lain perlombaan ini paling fair, paling menantang, dan paling paling yang lain.

Bersenggolan dengan Olimpians

Pandangan saya kali ini didasarkan oleh pengalaman pribadi yang sering bersinggungan dengan para Olimpians. Yap karena sering ikut lomba dan nyatanya sangat sering kalah. Saya cukup tahu sedikit tentang etos belajar mereka.

Semangat belajar, semangat berkompetisi, semangat meningkatkan kualitas diri adalah kata kunci yang mereka genggam. Para Olimpians biasanya sangat berdisiplin dengan pembagian waktu belajar dan bermain. Seringkali kita malah melihatnya tidak istimewa keberadaan mereka.

Mereka dapat mengatur jadwal belajar dan bermain mereka sedemikian rupa. Sehingga ketika teman mereka mengajak bermain mereka ikut bermain.

Namun ketika teman yang lain bermain lebih dan beristirahat mereka belajar dengan giat. Saya mengira bahwa usaha untuk ikhlas dalam belajar inilah yang seringkali tidak disadari oleh banyak orang.

Rahasia Olimpians? Tekat?

Orang dengan mudah mengatakan bahwa olimpians itu sebenarnya tidak istimewa. Mereka cuma dianugerahi bakat yang luar biasa sehingga dapat menjadi seperti. Saya sebenarnya gemas dengan pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut ada poin yang benar namun kesalahannya fatal. Bakat memang penting, namun sepanjang saya bersinggungan dengan mereka. Hal itu hanya nol koma beberapa persen dari seluruh faktor yang ada. Tekatlah yang membuat mereka berdiri dengan identitas yang anda mengenalnya dengan Olimpians.

Tekat Seorang Olimpians

Pertama kali saya melihat video TED di youtube beberapa tahun yang lalu. Saya melihat episode tentang kekuatan tekat oleh Angela Lee Duckworth. Dijelaskan disitu bahwa beliau melihat karakteristik kesuksesan seorang individu dapat dilihat dari tekat.

Tekat adalah semangat dan ketekunan untuk tujuan jangka panjang. Tekat mempunyai stamina yang bekerja bertahun-tahun dengan keras untuk membuat masa depan menjadi lebih gemilang.

Bagaimana Cara Membangun Tekat?

Beliau melakukan penelitian di banyak sekolah di Amerika dan mendapatkan jawaban yaitu dengan sesuatu yang disebut Profesor Carol Duck dari Stanford University “pola pikir yang berkembang“.

Pola pikir yang berkembang ini harus didukung dengan kepercayaan bahwa kemampuan belajar dapat berubah. Bahwa saya yang saat ini pontang panting mengurus akademik maupun non-akademik suatu saat akan merasakan kemudah dengan saya belajar terus menerus.

Kalau anda pernah mengecek psikologi apalagi bab Psikoanalisis tentang tekat yang lebih ini di Youtube, anda dapat menemukan sosok yang memenangkan dua medali olimpiade dari cabang yang berbeda.

Mengapa sosok tersebut mampu meraih medali di cabang yang dia sendiri baru memulai nol setelah mendapat medali cabang lain?

Menurut saya salah satunya tekatlah yang membuat hal itu menjadi sangat nyata.

Potensi dari Tekat

Balik ke permasalahan pertama, di awal saya hadirkan cerita tentang keniscayaan salah satu orang yang pernah bersinggungan ketika kelas dua belas. Anak dalam hal ini Olimpians yang menguasai satu subjek saja akan mudah lolos di jalur tes universitas.

Pernyataan itu bisa jadi benar tapi dengan kalimat yang berbeda yaitu anak itu yang handal di satu subjek telah mengasah kemampuan tekatnya untuk menjadi bahan bakar yang mampu meledakkan potensi dirinya di hal lain.

Tekat yang Terus Diasah

Tekat sebagaimana saya jelaskan diatas haruslah terus diasah agar terus berkambang. Tekat adalah bahan bakar yang optimal untuk meledakkan segala potensi yang kita punya. Dengan tekat segala hal yang tidak mungkin bisa jadi mungkin.

Jadi sudah mengerti mengapa kebanyakan olimpians mampu lolos dari berbagai tes ujian, salah satunya tes ujian masuk universitas? Mari belajar bersama sama, hehe. Tabique

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

4 thoughts on “Kekuatan Tekat Melihat Olimpians”

  1. Oke fix.. sampeyan cocok jadi motivator kak. Tambahan kak.. orang sukses itu juga butuh konsistensi minimal untuk menjaga tekadnya tetap bulat, biar ga alih bentuk jadi kotak atau semacamnya..

    Reply
  2. wah diem-diem jadi pengamat ya. Salut deh sama postnya yang satu ini. Super bangus buat kata-katanya. Apalagi yang ini "Tekad adalah bahan bakar yang optimal untuk meledakkan segala potensi yang kita punya". So inspiring.

    Reply

Leave a Comment