diambil dari indonesiabekerjanews.files.wordpress.com/

Reza Prama Arviandi – 16615184 – FTSL
Diajukan untuk memenuhi tugas OSKM ITB 2015
Ponorogo, merupakan sebuah kabupaten yang berada di barat provinsi Jawa Timur. Merupakan daerah dataran rendah yang berbukit di pinggir-pinggir daerahnya. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan di sebelah utaranya, dengan Kabupaten Kediri di sebelah timurnya, dengan Kabupaten Wonogiri di sebelah baratnya, dan Kabupaten Pacitan di sebelah selatannya. Ponorogo masih terjaga keasrian dan keutuhan hutan serta persawahannya. Namun, selain karena adanya budaya untuk menjaga kedua hal tersebut, kurangnya kreativitas serta ide solusi dari seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat banyak permasalahan di Ponorogo yang bisa menjadi bom waktu sehingga dapat meledak kapan saja.

Masalah pertama di Ponorogo adalah transportasi massal. Di Ponorogo sekarang sudah sangat jarang dijumpai moda transportasi seperti bis ataupun angkodes yang menghubungkan satu daerah desa ke satu daerah desa yang lain. Yang menghubungkan hasil bumi desa ke kota. Yang mengantarkan pelajar untuk sampai di sekolah baik di desa ataupun di kota. Keberadaan angkutan massal ini menghilang sejak beberapa tahun yang lalu. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari umur angkutan yang sudah terlampau tua, kondisi perijinan yang semakin sulit didapat, sampai keberadaan moda transportasi ini yang ditinggalkan penggunanya.

Masalah kedua yaitu jumlah anak yang bersekolah. Masalah klasik ini sebagian besar disebabkan karena akar rumput permasalahan mereka yaitu kemiskinan masih belum ditangani secara keseluruhan oleh pihak yang bertanggungjawab. Alasan lain karena bekerja sebagai tenaga kasar di kota besar atau di luar negeri lebih menjanjikan masa depan yang lebih baik daripada berkarya dengan kreativitas yang ada di daerah sekitar. Selain itu faktor budaya yang masih kental menyebabkan orang tua lebih memilih menikahkan anak gadisnya yang masih baru lulus sd ataupun smp agar tidak menjadi tanggungan keduanya. Ketiadaan lapangan kerja merupakan masalah komopleks di Ponorogo karena UKM masih belum berdaya serta tidak adanya perusahaan besar yang mampu menyerap banyak tenaga kerja dan mempunyai pabrik di Ponorogo.

Masalah ketiga yaitu infrastruktur yang belum memadai. Ponorogo mempunyai banyak tempat wisata yang masih terjaga keasliannya, namun akses menuju tempat tersebut masih sangat sulit. Sudah seringkali pemerintah lepas tangan terhadap hal ini. Pemerintah beralasan tidak adanya dana dan sumber daya manusia yang mampu menangani hal tersebut. Infrakstruktur lain yang selama ini hanya menjadi wacana dan wacana adalah pemugaran dan pengaktifan kembali jalur rel kereta di Ponorogo. Jalur rel kereta di Ponorogo pernah aktif anatara tahun 1960-an sampai 1987. Keberadaan jalur rel kereta ini sebenarnya sangat bermanfaat untuk mobilisasi masyarakat Ponorogo. Infrastruktur tenaga dan bangunan pendidikan juga masih sangat kurang. Masih ditemukan gedung sekolah yang tidak layak pakai serta ketiadaan guru untuk mengajar. Akses infrastruktur pendidikan lebih baik atau kalau tidak mau dikatakan standar hanya ada di kecamatan kota, selebihnya di desa-desa masih sangat mengenaskan nasibnya.

Masalah keempat yaitu kreativitas orang-orang yang ada di Ponorogo. Letak Ponorogo yang jauh dari pusat-pusat pendidikan modern tentang tata kota serta teknologi menyebabkan kondisi Ponorogo dari tahun ke tahun menjadi stagnan. Hampir tidak ada perubahan berarti yang menyebabkan kondisi Ponorogo menjadi lebih baik. Anak-anak terbaik Ponorogo hampir seluruhnya memilih untuk pergi bekerja ataupun mengabdikan diri di luar daerah. Akses untuk berkontribusi seakan-akan tertutup rapat karena maraknya politik praktis dalam pengangkatan sumber daya manusia di pemerintahan ataupun kerjasama swasta bersama pemerintah.

Sebagai salah satu putra daerah yang berkesempatan memperoleh pendidikan tinggi di ITB saya bercita-cita membangun infrastruktur dan kesadaran kreativitas di Ponorogo. Hal ini sebenarnya terinspirasi oleh Bapak Ridwan Kamil, selaku Wali Kota Bandung. Saya berharap dengan adanya kesempatan untuk belajar juga berkuliah di Bandung, saya dapat mengambil segala hal positif termasuk kreativitas dan infrastruktur di sini untuk diterapkan di Ponorogo. Cita-cita saya yang kedua yaitu dapat menjadi pelopor pembangunan dan pengaktifan kembali jalur rel kereta api di Ponorogo. Dikarenakan mobilitas masyarakat Ponorogo yang semakin tinggi, suatu saat pasti akan menjadi masalah. Cita-cita saya yang ketiga yaitu dengan memperoleh ilmu tentang infrastruktur disini saya dapat mewujudkan proyek ambisius, membuat startup infrastruktur eco green masa depan yang akan menyerap banyak tenaga kerja, termasuk masyarakat Ponorogo.

Untuk menuju hal-hal tersebut, maka banyak kegiatan yang akan saya coba ikuti. Pertama yaitu mengikuti PKM. Mengapa harus PKM? Karena saya ingin menyelam lebih dalam untuk memperoleh ide infrastruktur terbaik, efisien, serta efektif. Yang kedua yaitu mengikuti komunitas startup. Saya berharap di komunitas startup saya bisa memperoleh informasi tentang inkubasi startup, sehingga dapat fokus dan dapat jiwa bisnisnya. Yang ketiga ikut himpunan, saya berharap dapat bergabung dengan HMS di tahun kedua. Hal ini penting adanya karena saya butuh relasi, kemampuan berorganisasi, serta pengetahuan keprofesian untuk mewujudkan proyek infrastruktur saya.
Demikian segala mimpi saya. Semoga menjadikan saya semakin bersemangat untuk belajar dan bukan untuk leha-leha.
“ PONOROGO TERLALU BESAR UNTUK DIKECILKAN”

PONOROGO JEGEG!
Kategori: cerita

2 Komentar

agnesia purwita sari · 1 April 2017 pada 12:37

Tak tunggu mas. Ponorogo butuh pembaharu. Sudah lama sekali kota ini mangkrak. Tidak ada perubahan berarti. Melihat keadaan kota kelahiran saya yang masih stagnan seperti ini membuat saya sedih. Sebagai mahasiswa ayo kita gali ilmu kita dan nanti pulang ke kota ini bisa membangun nya menjadi lebih baik lagi

Reza Prama · 16 April 2017 pada 23:27

urun bantu mbak, kebetulan semester kemaren bantu untuk bangun forum baru yang ngumpulin temen temen muda ponorogo se dunia. namanya forum muda ponorogo. btw, saya boleh minta kontaknya mbak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *