Sibades HMS ITB itb.ac.id

Berapa banyak kegiatan berlabel pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa sesuai amanat dari pendahulu negeri?

Menurut artikel berjudul “Meretas Fungsi Tradisional Universitas” oleh Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo memberikan pandangan bahwa asal-usul sosial, wujud, bentuk, dan hakikat pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi di Indonesia sampai sebagian besar dilembagakan etitasnya haruslah dilihat perjalanannya lewat ketentuan undang-undang, sejarah yang berjalan, telaah filosofis dan praktik di lapangan yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang awalnya berfokus terhadap kegiatan akademik belajar-mengajar dalam ruang kecil bernama kuliah berkembang sesuai perkembanganan zaman dengan mulai ikut fokus kepada hal berkaitan penelitian. Namun, akibat pergolakan di sebelum sampai awal kemerdekaan yang menjadikan para intelektual muda kampus keluar dari ruang kecil kuliahnya untuk membantu pergerakan dan pemertahanan kemerdakaan, maka muncullah keinginan dari pemerintah serta institusi perguruan tinggi untuk mengeratkan pendidikan dan penelitian tersebut dalam wadah pengembangan masyarakat. Sedari itu, pemikir Margono Slamet (1985) mengemukakan pendapatnya bahwa institusi perguruan tinggi yang mengamalkan ilmu, teknologi, dan seni kepada masyarakat berfikir bahwa ilmu, teknologi, dan seni dapat memberikan kebahagiaan untuk manusia. Ketiga hal tersebut telah menginspirasi pemerintah membuat “Tri Saka Guru” perguruan tinggi dengan berlakunya UU No 22 tahun 1961 yang menyatakan bahwa Perguruan Tinggi adalah lembaga ilmiah berdasarkan Pancasila yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran tinggi atas dasar kebudayaan kebangsaan dengan cara ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang ditujukan untuk pengamalan kepada kehidupa manusia dan masyarakat. Rumusan tersebut oleh Menteri PTIP (Perguruan Tinggi, Industri, dan Pembangunan Thoyyib Hadiwijaya akhirnya disahkan menjadi Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengadian kepada masyarakat.

Sibades HMS ITB itb.ac.id

Lika-liku panjang romantisme proses pengabdian masyarakat yang luhur di zaman dahulu memang sangat heroik. Namun, apabila melihat kenyataannya di masa sekarang suka atau tidak suka rasanya nilai tersebut menghilang dari budaya mahasiswa ataupun perguruan tinggi sendri. Tidak usah saling tunjuk menyalahkan, tapi lihat berapa banyak kegiatan berlabel pengabdian masyarakat yang cuma maknai sebagi kegiatan memberi bantuan dari yang lebih ke yang papa, tidak punya apa-apa, tidak punya kebahagian, tidak punya harapan akan hidup yang panjang ini. Betapa kegiatan berlabel pengabdian masyarakat adalah euforia mereka yang mengerjakan tugas wajib untuk lulus kuliah, lulus kaderisasi, dan ajang dolan bermain di taman bernama masyarakat. Betapa kegiatan berlabel masyrakat dimaknai sebagai waktu liburan semester dengan berangkat dari kota membawa kemewahan berupa mobil, motor gedhe, baju parlente lalu dengan bangga bisa memberi sesuatu kepada mereka, masyarakat, yang terkadang salah alamat, salah kebutuhan, dan salah yang lain.

Melihat data dan diskusi pada edisi ILC (Indoensia Lawyer Club) Ulang Tahun TVOne ke 9 yang mengambil tema “Merekatkan Bangsa”, Februari 2017, saya bisa membei sedikit kesimpulan bahwa sebagian besar bangsa ini sebenarnya tidak merasa kebahagiannya terenggut dengan angka dan statistik yang menjadi bayangan mereka sendiri hingga di beri label miskin. Namun, sebagian besar bangsa ini tidak suka apabila ketimpangan satu dan sama lain yang sangat tinggi. Jadi mereka “ikhlas” untuk miskin asalkan yang lain juga miskin. Mereka ikhlas tidak bisa membeli barang yang benar-benar mereka butuhkan asalkan tetangga di samping rumah, para aktor di layar kaca, konglomerat di tembok batas gedung yang maha tinggi merasakan hal yang kurang lebihb sama. Kurang lebih begitu sedikit narasi yang saya dapatkan.

Kembali ke pertanyaan berapa banyak kegiatan berlabel pengabdian masyarakat yang sudah lurus kita lihat seperti apa yang awalnya di”kanon”kan oleh pendahulu bangsa kita?

Sibades HMS ITB itb.ac.id

Salut dan salam terbaik saya layangkan kepada orang-orang yang sudah melakukan pengabdian masyarakat dengan sebaik-baiknya, seikhlasnya-ikhlasnya, sebesar-besarnya manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat. Pesan saya kepada teman-teman yang sedang ataupun mau menjalankan kegiatan berlabel masyarakat yaitu janganlah mensterotype bahwa dengan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat maka teman-teman merasa bahwa teman-teman adalah orang yang super, bahwa diatas tingkatan sosial berupa masyarakat ada tingkatan yang lebih tinggi yang sekarang teman-teman tempati. Janganlah memaksa apabila rencana awal yang teman-teman persiapkan untuk mendayagunakan warga masyarakat pada akhirnya setelah diteliti tidak bermanfaat bagi yang bersangkutan.

Sibades HMS ITB itb.ac.id

Bayangan indah saya pribadi terhadap pengabdian masyarakat yaitu kita sebagai entitas berlabel mahasiswa bukanlah golongan orang yang lebih hebat dari entitas bernama masyarakat. Kita mungkin punya kelebihan dari segi waktu, lingkungan ilmu pengetahuan, kesempatan untuk melakukan penelitian mendalam, serta dekat dengan guru-guru kehidupan. Oleh karena itu, kegiatan berlabel pengabdian masyarakat cukuplah kita jadikan wahana untuk belajar, merasakan, meniyentuh hal-hal yang tidak bisa kita sentuh karena terhalang tembok intelektual kampus. Kita merasakan dahulu dengan hadir ditengah-tengah mereka tanpa memberi janji manis apapun. Lalu kita benturkan segala permasalahan yang ada dengan air mancur pengetahuan yang ada di keran-keran kampus. Sedari itu saya sangat suka apabila kegiatan berlabel pengabdian masyarakat didahului survei yang cukup, entah itu berbentuk home visit berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, atau dengan cara yang lain.

Dengan sedikit usaha begitu, selayaknya kita akan lebih bangga ketika dipanggil kedepan atas nama masyarakat, jiwa kita hadir merasa menjadi bagian dari satu dua di dalamnya.

Pengabdian terbaik adalah pengadian yang dilaksanakan

Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai – Anis Baswedan