Memaknai Hidup di Dunia sebagai Proyek Seumur Hidup

Memaknai Hidup di Dunia sebagai Proyek Seumur Hidup – Baru saja mendengarkan sebuah pengantar kuliah mengenai sistem rekayasa. Seperti beberapa profesor yang saya kenal memberi banyak petuah yang filosofis. Salah satu petuahnya adalah memberi analogi bahwa sebuah proyek bisa jadi contoh nyatanya adalah hidup kita sendiri.

Proyek Seumur Hidup yang Unik

Proyek secara singkat mempunyai definisi sesuatu hal yang mempunyai awal dan akhir, menghasilkan sesuatu yang unik, dan memiliki tujuan yang khusus. Mirip sekali dengan hidup masing-masing orang bukan kedua kata kuncinya: unik, punya awal dan akhir.

Setiap proyek apapun, baik kontruksi, pengembangan web, sistem, jaringan, perencanaan ibukota, dan lainnya menghasilkan sesuatu yang unik. Sesuatu yang unik ini bisa berupa jasa, barang fisik, hasil, atau bahkan kombinasi diantaranya. Manusiapun menghasilkan sesuatu yang unik selama hidupnya. Tidak ada satupun manusia dari sejak manusia pertama hadir, bahkan dalam bentuk satuan sel kemudian DNA terkecil mempunyai potongan cerita yang sama.

The Universe is made of storiesnot of atoms

Muriel Rukeyser

Alam semesta adalah sesuatu yang tercipta dari cerita bukan atom. Potongan puisi Rukeyser ini merujuk pada sesuatu yang unik, tidak bisa diciptakan secara mirip, berbeda-beda setiap satuannya, ya karena alam semesta tercipta dari “cerita”.

Cerita ini apabila dihubungkan dengan manusia bisa jadi tentang jaringan DNA di tubuh kita, yang tertanam di kode kode U,A,G,C dan lainnya. Kemudian manusia lahir, bersentuhan, kemudian satu manusia dengan keunikan DNA nya bertabrakan, membuat konflik dengan manusia lain yang mempunya lekukan DNA “cerita” yang berbeda lagi. Begitu seterusnya.

Hidup yang Berawal juga Berakhir

Sebagai manusia salah satu ketakutan bepuluhribu tahun lalu adalah kematian setelah hadir di dunia lewat kelahiran. Kematian menjadi bahasan seumur hidup dan menjadikan manusia terus mencari cara bagaimana cara mempertahankan hidup. Dimulai dari menjadi masyarakat “kuat” pemburu pengumpul. Kemudian mampu menyelesaikan permasalahan yang lebih kompleks dengan berkoloni, membentuk komunitas yang lebih besar ketika sudah mengenal pertanian.

Hingga kini, impian untuk menjadi immortal, tidak mati juga masih menjadi perdebatan, baik secara ethics maupun filosofis. Secara ethics, bagaimana bisa mempertahankan manusia yang sudah hidup terlalu lama, namun energi dan sumber daya semakin terbatas. Mana yang akan dikorbankan?

Secara filosofis, salah satu pertanyaannya, kalau hidup hanya dimaknai fisik tubuh yang masih berjalan denyut nadi, lalu betapa banyak “manusia tidak berguna manfaat ke alam semesta” di dunia ini?

Kita kemudian kembali kepada pertanyaan, “Apa itu hidup?”, “Bagaimana bisa kita menyebut kita hidup?”, “Apa syarat yang menjadikan sesuatu hidup?”.

Hidup Berarti sebagai Muslim

Sebagai muslim, keberawalan dan keberakhiran menjadi topik penting bagaimana kita bersentuhan dengan keimanan. Kita akan sulit mengimani Allah SWT semesta alam, apabila tidak ada sifat makhluk yang tak kuasa, Allah SWT yang Kuasa. Makhluk adalah segala hal yang berawal dan seterusnya.

Di dunia ini kita menjadikan hidup sebagai proyek seumur hidup, harus sangat terencanakan. Bagaimana cara merencakanan?

Tentu sebagai manusia yang baru lahir, Allah SWT memberi kita banyak petunjuk lewat alam, makhluk lain, dan wahyu Nabi Muhammad SAW, Al-Quran. Kita belajar sepanjang hayat untuk mengenal beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam hidup, kemudian membuat iterasi terhadapnya:

  1. Mendefinisikan hidup kita sebagai manusia dan muslim seperti apa.
  2. Membuat investigasi dan banyak alternatif terhadap berbagai kemungkinan hidup.
  3. Membuat model dari sistem hidup.
  4. Mengintegrasikan segala pengetahuan, pengalaman, dan Wahyu.
  5. Melaksanakan memberi makna dari setiap detik kegiatan yang kita lakukan di dunia.
  6. Menilai peforma hidup.
  7. Mengevaluasi, memperbaiki, kemudian membuat iterasi sepanjang waktu.

Menurut hidup sebagai manusia muslim yang baligh adalah ketika kita mampu menstate, mendefinisikan apa hidup kita ini? Utamanya sebagai muslim. Perjalanan ini tidak bisa kita dapat dalam setahun dua tahun. Perlu belasan tahun, bahlkan puluhan tahun untuk mendapatkannya.

Mendefinisikan Proyek Seumur Hidup seperti Apa?

Tentu kita harus pahami, bagaimana Islam menempatkan diri seorang muslim sebagai hamba yang mengharapkan ridho dari Allah SWT di dalam hidupnya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mendapatkan ridhonya?

Tentu dengan menjalankan apa yang Dia perintah dan menjauhi apa yang Dia larang. Perintah Allah SWT adalah menjadi khalifah, pemimpin di dunia ini. Itu berarti, mau tidak mau kita harus menebar manfaat sebanyak dan seluas mungkin kepada seluruh makhluk. Setelah itu, bagaimana dengan kita sendiri, apa yang ada diri kita yang mampu berkontribusi terhadap hal tersebut?

Tujuan Hidup yang Jelas

Dengan mampui menjawab, pertanyaan tersebut kita bisa menentukan arah yang jelas, menjadikan proyek seumur hidup yang memberi satisfy, kepuasan kepada owner, Allah SWT pemilik alam semesta ini. Perjalanan hidup yang berarti, memberi kepuasan, memberi nilai lebih, tentu harus diakhir dengan baik. Karena sebuah proyek seumur hidup pun memerlukan akhir.

Di kontruksi kita memberi nama proses ini sebagai demolish, pembongkaran, dan lainnya dimana bangunan produk yang ada di hancurkan tanpa ada sisa dan merusak tatanan yang lain. Di dalam hidup menjadi muslim, kita berharap mati atau meninggal menjadi muslim mukmin yang bertakwa, setelah selesai semua tugas yang melekat di hidup kita.

Memberikan Kepuasan Kepada Owner

Salah satu kata kunci dari sebuah proyek adalah memberi kepuasan kepada owner, pemilik proyek. Sudah klop sekal kegiatan proyek seumur hidup ini sebagai gambaran hidup kita. Kita, muslim, juga punya pemilik dari setiap nyawa, debu berterbangan, dan alam sekitar, yang itu adalah Allah SWT. Tiada daya dan kekuatan kecuali kekuatan-Nya yang mampu membawa kita sampai disini, merasakan hidup, berkonfilk dengan makhluk untuk mendewasakan, memberi kesempatan kita berbuat baik kepada alam, begitu pula sebaliknya.

Hidup yang Sekali Kemudian Mati

Sekali berarti

Sudah itu mati

Chairil Anwar

Hidup kita cuma sekali, tentu saya mengabaikan kepercayaan tentang hidup kembali di dunia, reinkarnasi. Hidup yang sekali, kemudian mati, memberi nilai tambah yang begitu nyata karena unik dan sulit untuk disamai kemudian diubah-ubah oleh entitas lain.

Hidup sekali, memberikan kita peluang untuk memberikan kepastian dalam setiap langkah. Kita tidak boleh ragu terhadap hal baik apa yang kita ambil. Hanya hal baik yang entah itu berakhir mengecewakan atau tidak sesuai ekspektasi yang memberikan kita kesempatan bermanfaat untuk dunia ini, memberi kesempatan menaruh banyak nilai di dunia ini.

Khoirunnas Anfa ‘uhum linnas

Sebaik-baik manusia adalah yang bermafaat untuk sesamanya

Rasulullah SAW dalam HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.

Proyek seumur hidup menjadi manusia bermanfaat adalah salah satu tujuan seorang muslim. Tidak bisa kita fitrah tersebut. Proyek seumur hidup yang unik, mempunyai awal dan akhir, dan memiliki tujuan yang jelas untuk memberi kepuasan kepada pemilik hidup, Allah SWT.

Qaala hum ulaa-i ‘alaa atsarii wa’ajiltu ilayka rabbi litardaa

Dia (Musa) berkata, “Itu mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau rida (kepadaku)

(QS. Taha: 84)

Semoga perjuangan kita dalam proyek seumur hidup dapat memberi milyaran cerita indah dan kebermanfaatan tiada akhir. Sehingga, seluruh tujuan proyek seumur hidup apapun yang kita definisikan dapat tercapai~

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment