Membicarakan keluarga akan lebih layak ketika yang membicarakan orang yang sudah membangun dan teruji dalam memimpin keluarga. Namun kali ini, saya berefleksi terhadap apa yang dilakukan bapak ibu saat momentum Ramadhan selama hampir 18 tahun saya ber-Ramadhan di rumah.

Momentum Ramadhan

Hadirnya Ramadhan memang benar-benar memberi kesempatan banyak hal untuk kita berbuat sesuatu yang lebih baik. Hal ini disebabkan antara lain, realitas yang kita pegang sebagai umat muslim menjanjikan bahwa berbuat baik di bulan Ramadhan akan mendapat bonus kebaikan yang berlipat. Anggaplah kita denial dengan mengatakan, kok berbuat baik hanya saat Ramadhan? Namun inilah yang dinamakan momentum. Kita bisa memulai hal yang baik ketika diberi bonus dan tambahan. Sesuai sifat dasar manusia yang menginginkan lebih dengan usaha standar bukan?

Keluarga

Keluarga merupakan unit kecil bagian dari masyrakat. Keberadaan keluarga membuat tatanan sedemikian rupa sehingga ketika unit bernama keluarga ini mampu berbuat konstruktif di masyarakat maka masyarakat akan ikut menjadi baik. Hal ini dikarenakan efek domino dan masyarakat adalah semesta dari keluarga itu sendiri.

Kebiasaan baik

Seorang kepala keluarga dan anggotanya adalah simpul yang sangat erat. Hal ini dipengaruhi karena keluarga biasanya memberikan akses bertemu anggotanya sangat intens. Ketika bapak ibu bekerja dan mempunyai anak yang masih bersekolah, berikan asumsi 10 jam, 14 jam diantaranya mereka bisa bertemu dan bersosialisasi. Hal ini dilakukan 24×30 hari, 30×12 bulan, dan dilakukan bertahun-tahun. Sedari itu, kesempatan menanamkan hal yang baik di dalam keluarga sangatlah besar. Bisa dikatakan bahwa kegiatan apapun yang dibiasakan di dalam keluarga akan menjadi budaya dalam keluarga tersebut. Kalau seandainya semua kebiasaan tersebut merupakan kebiasaan baik. Tujuan menciptakan tatananan masyarakat madani sebagai semesta dari keluarga akan lebih mudah diraih.

Foto liburan ke Jogja. Foto bersama keluarga saya memang dikit.

Refleksi keluarga sendiri

Latar belakang keluarga mungkin saya tulis di lain waktu, hal ini akan mempermudah temen pembaca tahu seberapa usaha yang dilakukan keluagaku untuk melakukan sedikit hal baik ini.

Di rumah garis waktu ketika Ramadhan adalah sebagai berikut

02.30–03.00 Lampu nyala di 2 tempat yaitu tempat sholat dan dapur. Minum air putih. Bangunkan angota keluarga lain

03.00–03.30 Mulai menghangatkan makanan dan memasak bareng kalau belum masak. Sholat malam

03.30–04.00 Mulai makan sahur

04.00–04.30 Mengaji sebelum shubuh, cuci sikat gigi, dan persiapan sholat shubuh

04.30–05.30 Sholat shubuh dan pengajian shubuh pagi

05.30–06.30 Mengaji shubuh

06.30–08.00 Bersiih rumah, cuci piring dan baju, dan mandi

08.00–12.00 Aktivitas lainnya. Bekerja membaca dll

12.00–12.30 Sholat dhuhur berjamaah

12.30–13.00 Mengaji dhuhur

13.00–15.00 Aktivitas biasa atau tidur siang

15.00–15.30 Sholat asar berjamaah

15.30–16.00 Persiapan buka, beli sayur mulai masak dll

16.00–17.30 Bapak ibu melanjutkan masak dirumah, saya dan adik mengaji kitab kuning di mushola

17.30–18.00 Sholat maghrib berjamaah

18.00–19.00 Mengaji maghrib

19.00–20.15 Sholat isya dan tarawih

20.15–21.00 Mengaji malam. Saya dan adik di mushola. Bapak dan ibu masing-masing di lingkungan Mayak (lingkungan rumah saya) mengaji seperti arisan berpindah tempat setiap malam di tetangga

21.00–02.30 Dimatikannya seluruh lampu kecuali lampu depan teras. Keluarga mulai tidur

Dengan jadwal begitu sejak saya kecil, bapak ibu tidak pernah memberi tahu atau nuturi. Semua hal diatas adalah kegiatan yang mungkin dianggap biasa oleh bapak ibu namun dilakukan secara konsisten. Sehingga hal tersebut menjadi hal kebiasaan di keluarga saya.

Salah satu contoh yang sangat menarik yaitu menetapkan jam tidur dan jam bangun. Hanya dengan mematikan lampu rumah di hampir setiap titik, bapak ibu telah memberikan aturan tak tertulis yang selalu terngiang di otak anggota keluarga.

Begitu juga aturan untuk sholat tahajjud dll, hal tersebut dilakukan tanpa memberi kata atau aturan tertulis yang imperatif. Bapak ibu cukup melaksanakannya sendiri, saya dan anggota keluarga yang lain penasaran dan mengikuti. Terus menerus akhirnya menjadi kebiasaan.

Bapak ibu nggak pernah mengingatkan kalua “Mas, nanti jam segini ke mushola ya”. Semua diawali dengan bapak atau ibu menemani. Kemudian karena saya telah biasa, saya lakukan semua hal itu sendiri.

Momen Idul FItri setelah sholat Ied yang sangat sakral
Sebelum saya masuk SMA dan adik saya masuk SMP sepertinya setiap bulan kami bertengkar sampai keluar rumah. Masa kecil yang tak terlupakan.

Refleksi di luar hari Ramadhan

Semua jadwal diatas menjadi mirip saat di luar Ramadhan karena ada konsistensi dan kegigihan yang dilakukan. Berikut jadwal sehari-hari keluarga saya di luar Ramadhan

03.00–03.30 Lampu nyala di 2 tempat yaitu tempat sholat dan dapur. Minum air putih. Bangunkan angota keluarga lain. Sholat malam

03.30–04.00 Mulai makan sahur (senin kamis)

04.00–04.30 Mengaji sebelum shubuh, cuci sikat gigi, dan persiapan sholat shubuh

04.30–05.00 Sholat shubuh

05.00–06.00 Bersih rumah, cuci piring dan baju, dan mandi

06.00–06.30 Sarapan (kalau nggak puasa) dan persiapan berangkat sekolah atau ke kantor

06.30–15.00 Aktivitas lainnya. Bekerja, belajar, dll

15.00–15.30 Sholat asar berjamaah

15.30–16.30 Aktivitas lainnya

16.30–17.30 Mulai mandi, bersih rumah, mengangkat jemuran, masak, berkebun dan kasih makan ayam.

17.30–18.00 Sholat maghrib berjamaah

18.00–18.30 Mengaji maghrib

18.30–19.00 Ngeteh dan kumpul keluarga menceritakan acara hari ini

19.00–19.30 Sholat isya

19.30–20.30 Aktivitas lainnya dan sering ada acara RT atau pemuda

20.30–21.00 Aktivitas lainnya

21.00–03.00 Dimatikannya seluruh lampu kecuali lampu depan teras. Keluarga mulai tidur

Begitulah jadwal yang udah sangat berkelanjutan karena konsisten dan tidak ada kalimat imperative yang keluar dari mulut anggota keluarga. Semua mengalir dan semesta sekitar seperti sungguh mendukung kami melakukan semua hal diatas sesuai jadwal.

Foto bersama Buyut dari Ibu. Tahun ini beliau sudah berumur 99 tahun.

Bagaimana cara untuk memulai

Saya melihat apa yang dilakukan orang tua saya adalah memperbaiki akhlak dan kepribadian bapak sebagai kepala dan ibu sebagai sekjen keluarga. Kemudian hal tersebut dimanifestasikan dan diekspresikan dalam kehidupan keluarga. Saran saya kepada diri saya sendiri nanti dan teman pembaca yaitu (baca artikel konsisten):

  1. Deskripsi dan narasikan tujuan hidup dengan jelas. Sebagai muslim yang mukmin tujuan kita hidup adalah memperoleh ridho dari Allah SWT. Sehingga semua alokasi waktu dalam sehari sebulan setahun dan selamanya diatur untuk beribadah. Terkait konteks tersebut kita bisa mempelajari bagiamana menempatkan akhirat sebagai hal penting dan mendesak dengan Big Rock Philosophy. Lihat ilustrasi dan video dibawah
Video dari Blythefield Hills
Ilustrasi dari SSDK ITB 2017

Lewat video dan ilustrasi di bawah kita mendapat hal yang penting bahwa kepentingan akhirat adalah batu besar yang harus kita taruh dan lakukan terlebih dahulu dalam bejana kehidupan kita. Lalu kepentingan dunia mengisi sela antara batu akhirat kita agar bejana kita penuh akan hal baik. Agar bejana kehidupan keluarga kita juga penuh akan hal baik.

2. Dari hal kecil.

Dimulai dari hal yang kecil yang sangat mungkin sudah bisa kita lakukan. Atau usaha kita mencapai hal tersebut masih dekat dengan kemampuan kita

3. Berulang

Untuk mencapai konsisten dibutuhkan usaha mengulangi kegiatan atau semantik yang sudah kita lakukan di masa sebelumnya. Sehingga hal ini menjadi sebuah kebiasaan dan pada akhirnya menjadi sebuah peradaban

4. Keteguhan

Adanya keteguhan membuat usaha untuk tetap tidak melakukan kontradiksi terhadap sapa yang kita lakukan di masa selanjutnya terjaga

Terakhir

Selamat untuk memulai untuk membangun pondasi keluarga yang baik lewat momentum Ramadhan kali ini. Memulai membangun pondasi keluarga sangat bisa kita mulai bahkan ketika kita belum menemui jodoh alias menjomblo sekarang. Karena ingat terutama untuk teman-teman yang akan menjadi orang tua di masa selanjutnya, tugas kita berat. Membangun peradaban, membangun masyarakat, harus dimulai dengan membangun keluarga yang baik. Pondasinya adalah diri kita dan pasangan kita nanti. Semakin baik kita nanti, semakin baik pondasi keluarga, masyarakat, dan peradaban yang kita buat nanti. Tabik.

Kategori: muhasabah

1 Komentar

Produktif dan Beribadah yang Berkualitas saat Ramadan #1 – Reza Prama Arviandi · 5 Mei 2019 pada 23:29

[…] kembali pelajaran penting tentang big rock philosophy, maka kebutuhan ibadah bisa kita banyangkan menjadi sebuah batu besar, sedangkan kegiatan lain […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *