Menahan Diri

menahan diri
Kopi Pagi

Sudah berapa status atau tulisan yang sudah anda baca seharian ini?

Bagaimana Kabar Kita Hari Ini? Menahan Diri?

Beberapa dari kita yang sering menyibukkan diri untuk menyelam ke jagat sosial media memang senang sekali untuk membaca kehidupan dunia maya. Kehidupan yang kadang kala bisa jauh sangat berbeda dengan kehidupan nyata yang kita alami setiap hari.

Kehidupan yang membebaskan kita untuk bertemu dengan pribadi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kehidupan yang membawa kita menembus ideologi atau tembok jarak tiga dimensi yang kita kenal sampai saat ini.

Kehidupan yang saat ini menyebabkan kita lebih sering untuk peduli kepada hal-hal yang tidak jarang sangat tidak penting untuk kita pedulikan. Lalu bagaimana untuk menahan diri?

Sosial Media yang Merubah Kita

Sosial media telah membuat kita yang sebelumnya adem ayem, tenang, dan senang berbagi kebahagiaan kepada orang lain. Yang kemudian menjadi kita yang panik, serba tidak fokus, dan tidak husnudzon terhadap apa yang terjadi di depan.

Memang tidak semua hal, namun banyak mana antara hal yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan membuat kita menjadi orang yang suka menyerang orang lain? Lalu bagaimana untuk menahan diri?

Kebebasan yang Diidamkan

Disisi lain kita, bagian dari saya, dengan kebebasan yang tidak mempunyai batas apapun kehilangan waktu serta kesempatan untuk berpuasa diam merenungi apa yang pernah kita lakukan selama ini?

Salah satu simpul sejarah, yang bertalian erat dengan kondisi sosial masyarakat daerah saya yaitu warok, mengajarkan kepada kita bahwa manusia yang unggul dan mempunyai ilmu tinggi adalah manusia yang mampu ngempet atas segala keruwetan di dunia.

Mereka punya kesempatan dan tentunya ilmu untuk meraih segalanya. namun hal tersebut tidak bakal cukup untuk mengentaskan semua permasalahan yang ada.

Refleksi Atas Kenikmatan

Saya balikkan kepada pandangan sufistik, bentuk kenikmatan yang tergambarkan dalam berbagai media di masa lalu sampai masa kini bukanlah surga yang sebernya hanyalah sebuah tempat, melainkan berada di dekat-Nya.

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment