Pemerintah memiliki sejumlah data yang cukup besar dan harusnya dapat memberi nilai ekonomi dan sosial yang lebih bagi masyarakat. Contohnya, saat ini semakin banyak negara Eropa yang sedang mengembangkan kebijakan untuk Data Terbuka ini. Kebijakan ini mengacu pada sejumlah informasi mana yang dapat secara bebas digunakan, dimodifikasi, dan dibagikan oleh siapa saja untuk tujuan apa pun. Hal tersebut harus tersedia di bawah aturan lisensi terbuka, kemasan yang enak dibaca, dan dapat dimodifikasi. Sehingga data yang ada dapat dibaca oleh mesin pencari. 

Uni Eropa dalam hal ini sedang membuat kerangka kerja yang tepat agar kebijakan Data Terbuka lebih berhasil. Komisi Eropa (untuk Data Terbuka) akhirnya dibentuk dengan tujuan menciptakan kebijakan “rantai nilai data yang lebih menguntungkan”. Tujuan kebijakan tersebut untuk menempatkan prasyarat “tersistem” penggunaan data yang efektif melalui aturan dan langkah-langkah hukum yang tepat.

Pada tahun 2003, Uni Eropa (UE) mengadopsi undang-undang untuk mendorong penggunaan Data Terbuka untuk Pemerintah di Negara Anggota melalui Public Sector Informaton (PSI) 2003/98 / EC.II. Tujuan utamanya untuk memastikan perlakuan yang sama bagi semua pengguna potensial data publik dari lembaga pemerintah yang telah merilis informasi. Arah kebijakan PSI kemudian diamandemen pada tahun 2013 oleh aturan baru yaitu 2013/37 / EU.III.

Ketika peluncuran Portal Data Eropa, Komisi Eropa ingin memperoleh bukti lebih lanjut mengenai dampak kuantitatif dari penggunaan sumber Data Terbuka. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengumpulkan, menilai, dan mengagregasi semua bukti ekonomi untuk meramalkan manfaat penggunaan Data Terbuka di 28 negara anggota Uni Eropa dan Asosiasi Perdagangan Bebas Negara Eropa (EFTA), (merujuk kepada negara seperti Norwegia, Islandia, Liechtenstein, dan Swiss), selanjutnya disebut EU 28+, di periode 2016–2020.

Manfaat Data Terbuka terdiri dari manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat langsung yaitu manfaat yang didapatkan dari transaksi yang terjadi di pasar dalam bentuk pendapatan dan Nilai Tambah Bruto (GVA), serta jumlah pekerjaan yang terlibat dalam menghasilkan layanan atau penghematan produk dan biaya. Manfaat tidak langsung yaitu hadirnya barang dan layanan baru, penghematan waktu, peningkatan pemahaman akan ekonomi, peningkatan efisiensi dalam pelayanan publik, dan pertumbuhan segala pasar terkait.

Untuk memberikan estimasi yang akurat terkait manfaat Data Terbuka, pertama perlu melihat kesiapan pengelolaan Data Terbuka per negara dan bagaimana hal ini berkembang. Ada perbedaan yang penting diantara Negara EU28 + saat mengukur seberapa jauh kemajuan mereka kesiapan dalam hal Data Terbuka. Negara pertama yang memiliki portal Data Terbuka yaitu Spanyol pada tahun 2009. Mereka salah satu pelopor dalam kebijakan Data Terbuka. Negara terbaru yang meluncurkan portal tersebut yaitu Kroasia, Republik Ceko, Hongaria, dan Lithuania di tahun 2015. Untuk memperhitungkan perbedaan kesiapan mereka, sebuah model telah dikembangkan untuk mengklasifikasikan seberapa siap suatu negara dengan Data Terbuka. Hasilnya dalam matrix dengan perbedaan skor setiap negara. Sebuah negara akhirnya dapat diklasifikasikan satu sama lain yaitu mana yang Trend Setter, Follower, Advance Beginner atau Beginner.

Sebuah model menunjukkan bahwa pada tahun 2005, 63% dari Negara Anggota dapat diklasifikasikan sebagai Beginner, sementara tidak ada satu pun negara bisa diklasifikasikan sebagai Trend Setter. Angka-angka ini berubah secara menyakinkan selama 10 tahun terahir. Pada 2015, 31% negara dapat diklasifikasikan sebagai Trend Setter. Sementara hanya 19% yang masih pemula. Pada tahun 2020 diprediksi semua negara EU28+ diprediksi akan terklasifikasi menjadi Trend Setter. Selain itu, negara-negara juga akan memperkenalkan perbaikan untuk meningkatkan Data Terbuka mereka Kematangan. Dengan demikian pada tahun 2020, hampir semua EU 28+Negara-negara Anggota akan menjadi Trend Setter.

Menggunakan model kesiapan Data Terbuka dari Negara EU28 +, potensi pasar Data Terbuka telah terhitung. Sebuah kelas dapat terbentuk diantara besarnya potensi pasar yang tertarget langsung dan potensi pasar yang tidak tertarget langsung. Gabungan keduanya membentuk potensi total pasar yang dapat diraih untuk Data Terbuka. Untuk 2016, besarnya pasar yang tertarget langsung diperkirakan sebesar 55,3 miliar EUR untuk EU 28+. Antara 2016 dan 2020, besarnya potensi pasar yang ada diharapkan meningkat sebesar 36,9%, atau sebesar 75,7 miliar EUR pada tahun 2020. Total potensi pasar dari Data Terbuka diperkirakan antara 193 sampai 209 miliar EUR untuk 2016 dengan perkiraan proyeksi 265-286 miliar EUR untuk tahun 2020, termasuk koreksi akibat inflasi. Untuk periode 2016–2020, besar kumulatif potensi pasar yang tertarget langsung diperkirakan sebesar 325 miliar EUR. Kumulatif potensi total pasar untuk Data Terbuka diperkirakan antara 1.138 dan 1.229 miliar EUR.

Data Terbuka melintasi berbagai sektor ekonomi. Jadi selanjutnya untuk menghitung berapa besar potensi pasar Data Terbuka secara keseluruhan pada tahun 2020, akan menarik untuk tahu seberapa besar pengaruh Data Terbuka masuk sektor pasar tertentu. Administrasi publik sejauh ini merupakan sektor yang akan mendapatkan sebagian besar potensi dari Data Terbuka, dengan nilai potensi sebesar 22 miliar EUR pada tahun 2020. Ini menegaskan bahwa sektor publik sebagai pengguna pertama yang mengonsumsi Data Terbuka. Untuk sektor pertanian, seni, dan hiburan, potensi masing-masingnya diperkirakan lebih kecil sebesar 379 juta EUR. Data Terbuka memiliki banyak potensi di sektor ini, tetapi membutuhkan banyak waktu untuk mengeluarkan seluruh potensinya.

Metrik untuk jumlah pekerjaan ditujukan untuk menentukan berapa banyak pekerjaan yang akan dibuat di sektor swasta UE28+ yang akan secara langsung ditautkan dengan konsumsi atas Data Terbuka. Metrik ini tidak menghitung pekerja di kantor statistik publik dan kantor administrasi pemerintahan yang lain. Perkiraan langsung total pekerjaan akibat adanya Data Publik pada tahun 2016 melebihi 75.000 pekerjaan. Pada tahun 2020, diperkirakan kurang dari 100.000 pekerjaan terkait langsung dengan kebijakan Data Terbuka. Ini sama dengan pertumbuhan 32% selama 5 tahun periode. Setiap tahun peningkatan jumlah pekerjaan diperkirakan tumbuh sekitar 7,3%. Jadi, dalam periode 2016–2020, hampir 25.000 pekerjaan terbuat akibat adanya Data Terbuka.

Administrasi publik berusaha memahami lebih jauh penghematan biaya yang bisa dilakukan akibat adanya Data Terbuka. Berdasarkan perkiraan PDB EU28 + untuk 2020, sambil memperhitungkan kebijakan masing-masing negara terhadap rata-rata pengeluaran, maka biaya penghematan per negara dapat dihitung. Akumulasi penghematan biaya EU28 + di tahun 2020 diperkirakan sebesar 1,7 miliar EUR. 

Keuntungan akibat efisiensi memiliki pendekatan kualitatif yang lebih banyak dibandingkan dengan tiga metrik lainnya. Metrik tersebut menawarkan kombinasi konsep keuntungan dari Data Terbuka dan contohnya di kehidupan nyata. Efisiensi adalah faktor penting dalam semua administrasi di perusahaan yang ada di semua sektor. Tujuan efisiensi untuk meningkatkan alokasi sumber daya sehingga limbah bisa diminimalkan dan hasil dapat dimaksimalkan, dengan sumber daya yang sama. Tiga indikator akan dilihat lebih detail: bagaimana Data Terbuka menyelamatkan nyawa, bagaimana Data Terbuka digunakan untuk menghemat waktu, dan bagaimana Data Publik membantu menjaga lingkungan. Terlihat Data Publik memiliki potensi penyelamatan 1.425 jiwa per tahun (5,5% dari kematian di jalan yang ada di Eropa). Penerapan Data Publik di lalu lintas dapat menghemat 629 juta jam kemacetan di jalanan Eropa. 

Untuk melakukan analisis ekonomi makro mengenai dampak penggunaan Data Publik untuk Eropa, beberapa pengamatan dilakukan. Mayoritas penelitian yang dilakukan sebelumnya yaitu estimasi ex-ante. Sebagian besar hal ini dibangun berdasarkan survei atau penelitian tidak langsung dan menyediakan berbagai perhitungan yang berbeda. 

Jika pemerintah telah mampu menetapkan kebijakan mengenai Data Publik, maka keberhasilan dari inisiatif ini akan bisa terukur. Untuk melakukannya, ada beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Ini adalah kunci untuk lebih mempercepat penerapan Data Terbuka dan terus mendorong pemanfaatannya.

Beberapa rekomendasi tersebut yaitu:
■ Biaya dan manfaat ketika membuka suatu data harus dirinci lebih lanjut.
■ Pemodelan biaya marjinal untuk Data Terbuka diperlukan.
■ Portal Pemerintah harus mempertahankan analisis situs untuk mendapatkan informasi yang penting tentang siapa yang menggunakan situs web, kumpulan data apa yang diunduh, dan berapa banyak unduhan terjadi.
■ Pada portal Data Terbuka, mekanisme umpan balik harus dibuat.
■ Pemerintah harus melakukan survei terhadap penggunaan Data Terbuka di sektor swasta.
■ Tenaga kerja harus diberdayakan untuk memaksimalkan Data Terbuka.

Bagaimana dengan Indonesia? Setidaknya lewat UU KIP 2006, lembaga di Indonesia sudah memiliki aturan untuk membagikan berbagai informasi yang boleh dibagikan. Selain itu inisiatif kota pintar semakin meningkatkan kesadaran bahwa perumusan kebijakan yang baik bisa diawali oleh keterbukaan data. Harapan yang baik masih bisa dikalungkan Indonesia agar semakin baik dalam membuat keputusan dengan pertimbangan kelengkapan dan keterbukaan data.

Referensi:

European Comission (2015). Creating Value through Open Data. Diakses di https://www.europeandataportal.eu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *