Mengapa Informasi Tidak Bisa Kita Miliki?

Mendigitalkan Pikiran: Mengapa Informasi Tidak Bisa Kita Miliki? – Dalam sebuah wawancara dengan situs web New Economic Thinking, matematikawan Eric Weinstein mencurigai bahwa kapitalisme mungkin akan segera berakhir, bukan karena persaingan ideologis tetapi karena dampak dari teknologi baru-baru ini.

Kapitalisme, demokrasi, dan liberalisme mengantar pada apa yang kita sebut modernitas, ketika dunia stagnan yang dijalankan oleh feodalisme membawa kita jatuh seperti contohnya di Krisis Abad Pertengahan, Kelaparan Besar, Black Death, Papap Schism, dan oleh penjelajahan orang Eropa di Amerika Utara. Akhirnya, liberalisme akan menang atas fasisme dan komunisme.

Tetapi sekarang, meskipun tidak ada konsepsi yang ketat tentang bagaiman sistem ekonomi alternatif yang ideal, kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan pencarian keuntungan tampaknya akan menjadi usang, berkat perkembangan teknologi informasi yang hadir, mungkin tidak disengaja.

Secara khusus, Weinstein bertanya, apa yang terjadi jika “dengan mengubah benda fisik yang terbuat dari atom menjadi file kecil yang terbuat dari bit, kami mendorong barang pribadi menjadi barang publik, karena bagaimanapun, file kecil tidak dapat habis dan tidak dapat dikecualikan, yang merupakan definisi ideal yang bisa sangat merusak segala jenis pasar?” (Lihat pada menit detik 15.15 di video Weinsten).

Kebebasan Informasi

Apa yang Weinstein sarankan, saya pikir, mengingatkan pada slogan libertarian bahwa informasi ingin bebas. Sebelum Era Informasi, kekayaan diukur dalam hal akumulasi barang. 

Anda bisa menimbun emas atau tanah atau bahkan budak atau wanita, dan semakin banyak Anda miliki, semakin kaya Anda. Informasi mengawasi hal-hal fisik, yaitu pada perangkat keras komputer, tetapi tidak dapat direduksikan kepada hal: informasi adalah sesuatu yang “dapat direalisasikan dengan berlipat ganda,” sebagaimana dikatakan oleh para filsuf.

Inilah sebabnya mengapa program yang sama dapat berjalan secara bersamaan di banyak komputer yang berbeda: program ini adalah kode yang dapat disalin beberapa kali ke perangkat keras yang berbeda. 

Sekilas, kebebasan informasi yang melekat disebabkan oleh kemudahan kode atau program itu dapat disalin, dan kebebasan itu juga yang merusak perbedaan antara barang publik dan pribadi.

File komputer tidak seperti file fisik yang ada di meja Anda, karena produk informasi didefinisikan oleh bahasa buatan dan oleh matematika yang sangat ditentukan dan bahkan sewenang-wenang. 

Sama seperti himpunan bilangan asli yang tak terbatas atau”tidak ada habis-habisnya,” file komputer tidak memiliki batas fisik dan hanya dibatasi oleh program. Program komputer, terikat oleh tujuan programmer. Algoritma atau kode yang ditetapkan oleh bahasa buatan programmer adalah serangkaian langkah-langkah yang, jika diikuti, secara logis menjamin titik akhir yang diinginkan.

Misalnya, Anda mungkin memiliki file ebook, foto digital, atau file lagu di komputer Anda. Masing-masing file tersebut mungkin terbatas karena dirancang untuk memenuhi minat penulis, fotografer, atau musisi. 

Tetapi kepentingan-kepentingan itu secara permanen tidak membatasi. Anda bisa menulis buku seratus halaman atau buku sejuta halaman. Pada titik tertentu, file akan sangat besar sehingga tidak ada komputer yang bisa menyimpan atau menjalankannya, tetapi itu tidak akan menjadi batasan perangkat lunak.

File informasi seperti seperangkat matematika. Jika Anda harus menampung semua hewan di dunia, Anda akan membutuhkan wadah besar yang tidak cukup menampung semua hal itu; dengan kata lain, Anda akan membutuhkan planet. 

Tetapi Anda bisa secara seenaknya mendefinisikan suatu kumpulan berisi semua hewan itu, dengan konsep atau bahasa abstrak, dan Anda bisa menggunakan kumpulan itu sebagai representasi dalam program komputer.

Ini adalah keuntungan dari fakta bahwa bicara itu murah.

Kebebasan Berpikir

Memang, kecenderungan informasi untuk membebaskan dirinya sendiri, untuk melintasi semua batas politik dan ekonomi bukan hanya disebabkan oleh hubungan numerik yang tidak habis-habisnya, tetapi juga karena abstrak dan mungkin juga hak-hak yang terkait dengan bahasa dan pemikiran manusia.

Yang saya maksudkan adalah bahwa kita kaum liberal modern (dalam pengertian klasik “liberal”) berasumsi tidak hanya bahwa kita memiliki potensi untuk memikirkan apa pun yang kita inginkan, termasuk bahkan skenario atau objek imajiner, kontrafaktual, atau abstrak, tetapi kita memiliki yang hak untuk melakukannya. Kita menghargai kebebasan berpikir, dan itu adalah sumber informasi lain yang tidak ada habisnya.

Coder (orang yang mengkoding) bebas untuk membuat file informasi apa pun yang mereka inginkan bukan hanya karena mereka melakukannya dengan bahasa matematika buatan yang diproses dengan ketentuan yang bebas.

Tetapi karena kebebasan berpikir yang merupakan sumber pemrograman- yang dilindungi secara moral. Inilah sebabnya mengapa Silicon Valley, pusat teknologi tinggi dunia terletak di bagian paling liberal, Amerika Serikat, pemimpin pasar bebas dunia.

Meskipun demikian, ada kemungkinan bahwa tidak terbatasnya sumber informasi dan kekebalannya untuk diprivatisasi berkurang karena hal lain. Jika kita memilih teori deflasi, non-platonis matematis, matematika itu seperti permainan, apa yang istimewa tentang bit berkaitan hal-hal fisik menjadi aspek subjektif dari informasi.

Misalnya, pandangan fisikawan Lee Smolin tentang matematika, sebagai “realitas yang ditimbulkan”, sebagaimana ia letakkan dalam The Singular Universe dan Reality of Time . Pernyataan matematika itu seperti aturan catur atau waralaba seperti Star Wars

Aturannya sendiri sebebasnya, tetapi begitu ditetapkan, gerakan tertentu dalam permainan atau dalam fiksi menjadi diizinkan, sementara yang lain dilarang. Dengan demikian, ada gerakan yang secara objektif lebih baik atau lebih buruk dalam catur, mengingat aturan dan tujuan bermain game yang dimainkan.

Demikian pula, sistem matematika dan bahasa artisial dapat dirancang untuk beberapa tujuan, seperti mengelola data tertentu, untuk mengklarifikasi pemikiran kita, atau untuk memprogram komputer. 

Kebebasan kode-kode itu dibatasi oleh kepentingan para pengguna, tetapi kepentingan-kepentingan itu tidak ada habisnya dalam arti bahwa meskipun para pengguna mungkin termotivasi untuk memikirkan beberapa ide daripada yang lain, kebebasan mereka untuk berpikir apa pun yang mereka inginkan dilindungi secara moral di masyarakat liberal

Dalam kasus apa pun, setelah ditetapkan, merupakan masalah obyektif apakah bahasa-bahasa ini akan berfungsi sebagaimana dimaksud, sebagai model alam atau sebagai perangkat lunak yang bermanfaat. 

Konten Digital sebagai Kehadiran Virtual dari Pikiran

Alasan mengapa kapitalisme mungkin tidak cocok untuk era digital, adalah bahwa komputer mewakili jiwa mentalitas manusia yang hampir tidak terlihat, sehingga kepemilikan informasi secara pribadi bertentangan dengan prinsip liberal, kebebasan berpikir.

Bandingkan ini dengan teori kerja dari kepemilikan pribadi, seperti kata John Locke, kita menjadi memiliki sesuatu di alam ketika kita menggunakannya, dengan “mencampur usaha kita” dengannya. Locke memikirkan hak orang Eropa untuk memiliki tanah Amerika Utara, yang menurut dugaannya, telah disia-siakan oleh penduduk asli Amerika, karena orang Eropa berniat mengolah tanah itu dengan pertanian.

Ambil contoh sederhana ketika kita mengambil apel dari pohon. Jika Anda memilih apel, apel menjadi milik Anda. Benda yang dimiliki harus bersifat fisik dan objektif seperti halnya usaha manusia, itulah sebabnya budak dan perempuan dianggap sebagai properti tuannya hanya sejauh mereka tidak dianggap sebagai orang yang lengkap.

Dalam definisi properti pribadi, usaha manusia adalah pekerjaan fisik yang dilakukan menggunakan sesuatu yang alami, yang berarti sesuatu yang material, tanpa pikiran, dan yang belum digunakan oleh siapa pun. Wanita dan apa yang disebut ras inferior harus disamakan dengan binatang atau dengan benda-benda alami yang dapat dibentuk oleh alam.

Tentu saja, kita tahu bahwa perempuan dan budak adalah manusia selama ini, tetapi intinya bahwa logika kapitalis adalah tentang kepemilikan dan pengolahan alam, di mana alam terdiri dari sumber daya terbatas yang dapat ditimbun atau dikecualikan oleh penggunaan orang lain.

Teknologi digital tampaknya menunjukkan terlalu banyak pemikiran, terlalu banyak pengulangan yang tidak penting dan diperlakukan tak terbatas sebagai objek fisik, apalagi sebagai sesuatu tidak dibuat-buat. Saat berinteraksi dengan komputer dan dengan media sosial, kita menghadapi kehadiran virtual orang lain

Liberalisme melindungi hak-hak individu, dan jika hak-hak itu meluas ke rekan-rekan virtual serta memberikan representasi abstrak pemikiran mereka, seperti dalam bahasa buatan programmer yang menggerakkan Era Informasi, gagasan memiliki perangkat lunak harus sama menjijikkannya dengan perbudakan. 

Anda mungkin berpikir, sebaliknya, bahwa karena kita memiliki diri kita sendiri, kita harus berhak untuk menjual kehadiran virtual kita, atau bahwa tampaknya tidak ada penghambaan yang berlebihan dalam mendesain permainan komputer dan menyetujui penggunaan orang lain terhadapnya.

Namun, ada sesuatu yang aneh tentang transaksi semacam itu. Perhatikan bahwa konten digital adalah seni. Jauh sebelum komputer, seniman “menaruh hati dan jiwa mereka” ke dalam lukisan atau puisi atau opera mereka. 

Ini adalah pekerjaan fisik yang kompleks sehingga tidak mudah disalin. Tapi seandainya Anda melukis gambar yang secara simbolis menangkap sebagian pikiran dan perasaan Anda. Sebagian kecil dari Anda ada dalam lukisan itu. Sekarang anggaplah lukisan itu difoto, disalin milyaran kali di internet, dipotong-potong 4, dan digunakan dalam banyak cara untuk tujuan berbeda yang tidak ada hubungannya dengan niat awal Anda.

Mengesampingkan masalah hak cipta. Pertanyaan yang diajukan Eric Weinstein dan para kritikus kapitalisme adalah apakah masuk akal untuk berbicara tentang seni berformat sebagai milik siapa pun. Mungkin kita tidak memiliki diri kita sendiri, karena kita adalah subjek dan hanya objek yang dapat dimiliki, mengingat teori imperialis Locke tentang kepemilikan pribadi.

Jika orang, pikiran, serta perasaan mereka bukan jenis hal yang dapat dimiliki, dan ekonomi digital penuh dengan contoh virtual dari isi pikiran dalam bentuk file komputer, program, bahasa buatan, internet, dan media sosial, mungkin tidak lagi masuk akal untuk berbicara tentang kepemilikan di era digital. Mungkin pola pikir kapitalis itu menjadi sama kuno dengan feodalisme dan teokrasi.

Membajak Sepotong Informasi Pikiranmu

Mari kita terapkan ide-ide ini dengan berfokus pada contoh. Satu kasus yang jelas untuk jadi contoh adalah pembajakan konten di internet. Setelah Anda mendigitalkan analog, produk fisik seperti lagu, foto, atau novel, yang dulunya lebih mudah diprivatisasi, Anda membuat konten yang ada menjadi tidak punya kepemilikan.

Ini seperti memisahkan roh dari tubuh sehingga hantu tidak bisa lagi terisolasi atau dipenjara. Informasi terlalu mudah direproduksi ketika di lingkungan dengan kepercayaan yang tinggi. 

Tidak ada perbedaan mencolok antara salinan dan asli, serta tindakan menyalin hampir tidak memerlukan tenaga manusia sama sekali (selain dari usaha manusia memproduksi perangkat keras): Anda mengklik beberapa tombol dan komputer menghitung jutaan satu dan nol (biner) mereproduksi urutan yang tepat.

Dalam istilah kapitalis, informasi mungkin dilindungi oleh undang-undang hak cipta, jadi beberapa salinan berarti mencuri apa yang dimiliki secara pribadi. Tetapi perlakuan hukum itu tidak berdasar dan ketinggalan zaman, seperti yang telah kita lihat. 

Sekali lagi, kepemilikan membutuhkan sesuatu seperti gabungan usaha manusia dengan sumber daya alam, artinya dengan alat yang dapat diukir, disimpan secara pribadi, dan dilindungi. 

Kepemilikan akan barang komersial adalah pengecualian yang memerlukan penghalang fisik antara pemilik dan orang yang akan mencuri, bahkan jika penghalang itu hanyalah fisik barang yang sulit disalin, perwujudannya dalam beberapa bentuk analog yang unik.

Namun, belakangan ini, ada sedikit upaya dalam menyalin konten digital seperti halnya dalam digitalisasi konten analog. Dengan klik tombol yang relatif sedikit, Anda dapat memindai buku atau mengambil foto dengan kamera digital – lagi-lagi pekerjaan dilakukan oleh mesin, yang mungkin Anda miliki. 

Misalkan Anda memotret pohon dan mengunggah gambar ke internet, sehingga siapa pun dapat menyalin foto Anda dalam sekejap mata. Dengan demikian, Anda telah melakukan pekerjaan fisik sebanyak orang yang mengambil apel dari pohon.

Misalkan Anda berada di hutan belantara dan mengambil apel, tetapi sebelum Anda bisa menggigitnya, orang lain datang dan mengambil apel itu dari Anda. Apakah orang itu benar-benar mencuri apel? Apakah apel itu milik Anda hanya karena Anda yang pertama kali meraih dan menariknya dari pohon? Jika Anda berpikir tidak, Anda mungkin secara intuitif mengatakan bahwa beberapa tindakan fisik terlalu sepele untuk dihitung sebagai pekerjaan.

Lebih penting lagi, konten digital bukanlah hal yang diperlukan, artinya “tidak dapat habis dan tidak dapat dikecualikan.” Sehingga teori kepemilikan kerja tidak bisa diterapkan.

Itu mungkin salah satu alasan mengapa ada begitu banyak pembajakan konten, karena kita tahu informasi tidak seperti emas, tanah, atau barang tidak terbarukan. Jadi kita tahu bahwa dengan menyalin file komputer, kita tidak benar-benar melakukan sesuatu yang sebanding dengan menerobos masuk ke rumah seseorang dan mencuri perhiasannya atau lukisan yang tergantung di dindingnya.

Kemudahan menyalin disertai dengan teknologi, jadi setelah Anda bekerja cukup keras untuk membeli perangkat keras, pekerjaan kapitalisme selesai. Apa yang dibuat atau dibagikan dengan komputer, media sosial, dan internet telah melampaui ketentuan-ketentuan kapitalisme, karena istilah-istilah itu didasarkan pada eksploitasi alam dalam semua kelengkapan dan eksklusibilitas yang terakhir (fisik, kemampuan menimbun, dan sebagainya).

Apa yang kita lakukan ketika berinteraksi dengan konten digital adalah sesuatu yang jauh lebih intim daripada eksploitasi benda-benda fisik, karena kita mengakses pikiran seseorang, ekstensi yang memiliki nonlokalitas yang sama dengan keadaan kesadaran asli

Dengan cara ini, konten digital seperti pertunjukan musik. Jika Anda berada di sebuah konser, Anda tidak mengkonsumsi produk sebanyak berinteraksi langsung dengan musisi. Alih-alih berbicara dengan Anda dan menyuarakan pikiran mereka, mereka hanya memainkan instrumen dan berkomunikasi melalui musik.

Demikian juga, ketika Anda menonton rekaman konser di YouTube, Anda tidak hanya melihat dan mendengar apa yang dialami oleh penonton asli, tetapi Anda juga menggunakan alat pemikiran yang sama dengan pikiran para musisi yang diekspresikan secara musikal oleh instrumen mereka.

Kemudahan menyalin file komputer ini beranalogi tidak bisa tertekannya kesadaran manusia. Pikiran kita bergantung pada otak tetapi tidak terbatas pada hal itu, karena kita dapat meluaskan pikiran dalam bahasa atau bentuk simbolis lainnya. 

Simbol-simbol digital kebetulan merupakan alat yang tepat mendefinisikan hal metafisik, karena simbol-simbol itu juga mudah dibebaskan seperti halnya konsumen di masyarakat liberal yang melindungi kebebasan berpikir kita. 

Kapitalisme dan Ekonomi terhadap Dualitas Pikiran-Tubuh

Masalahnya adalah bahkan jika berbagi konten digital memerlukan sistem pertukaran pasca-kapitalistik, mungkin dibutuhkan kekuatan hubungan sosial daripada usaha eksploitasi sumber daya yang terbatas. Mungkin tidak ada ekonomi pasca-kapitalistik, karena perangkat lunak akan berjalan pada perangkat keras fisik yang dapat dibeli atau dijual dengan cara konvensional.

Buku-buku fisik telah memberi kita masalah yang sama selama berabad-abad. Simbol yang digunakan sebagai jawaban adalah “digital”, sehingga informasi dapat disalin. Karena alasan itu, mesin cetak juga membebaskan informasi dan mewakili ancaman terhadap undang-undang hak cipta. 

Ingat, sebelum produksi massal, tidak ada prospek untuk memiliki karya dari tulisan. Orang dahulu tidak melihat adanya pelanggaran etika dalam menulis secara anonim atas nama orang terkenal. Kita menyebutnya plagiarisme, karena kita memiliki rezim hukum untuk melindungi setidaknya produk fisik seperti buku.

Perbedaannya adalah, mesin cetak itu besar, membutuhkan banyak waktu, besarnya usaha untuk digunakan, dan membutuhkan persediaan kertas yang stabil, sehingga teknologi itu cocok untuk keperluan komersial. 

Perangkat keras yang diperlukan untuk membuat salinan digital, seperti smartphone. Anda dapat memegangnya di tangan Anda. Ada upaya pengguna yang diperlukan untuk mengunggah konten. Tentu saja, Anda membutuhkan satelit, kabel serat optik, dan perusahaan yang memelihara sistem. Selain itu, Anda harus bekerja untuk menjadi pengguna yang mampu membeli perangkat keras.

Maka, kita mungkin berharap bahwa ekonomi kita pada akhirnya akan mencerminkan dualitas pribadi kita. Terlepas dari pretensi imperialis kapitalisme, pikiran kita lebih bebas daripada tubuh kita. Kapitalisme (kepemilikan pribadi, pengejaran keuntungan dengan eksploitasi sumber daya terbatas) berlaku untuk setiap orang dan transformasi mereka terhadap lingkungan fisik. Ketika diterapkan langsung ke pikiran, seperti dalam kasus perbudakan atau penyensoran, hasil dari kapitalisme adalah ketidakjujuran.

Mungkin bukan hanya kapitalisme tetapi ekonomi itu sendiri yang tidak relevan dengan bagaimana pikiran berinteraksi. Ekonomi adalah “ilmu yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa, atau kesejahteraan materi umat manusia.” Apakah pikiran bekerja seperti tubuh? Apakah pikiran dan perasaan adalah barang atau produk yang dapat didistribusikan dan dikonsumsi seperti roti? Apakah keadaan pikiran yang positif setara dengan kesejahteraan materi kita?    

Ekonomi bisa dibilang pseudosain bahkan sebagai jawaban dari subjek yang tepat. Tetapi kita tidak tahu apa itu kesadaran. Misteri itu telah mendorong kita untuk membuat mitos terliar untuk memahami dualitas kita yang unik. Kita pikir kita abadi atau bahwa alam semesta diciptakan oleh seseorang seperti kita untuk keuntungan kita.  

Yang kita tahu adalah bahwa ekspresi pikiran tidak sama dengan usaha manusia. Kesadaran bertempat di otak, yang “dimiliki” dan dilindungi tubuh, tetapi berkat bahasa, kesadaran juga dapat dilambangkan dalam bentuk eksternal. Kuasi-keabadian itu hampir membenarkan mitos-mitos agama, seolah-olah yang terakhir itu meramalkan munculnya yang pertama. 

Konten digital adalah bagian dari pikiran kita dan kita menjual diri kita setiap kali kita mengobjektifkan orang — atau anak kita.

Referensi

Diskusi Mengenai Kepemilikan dan Data di Data Driven Investor

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

2 thoughts on “Mengapa Informasi Tidak Bisa Kita Miliki?”

Leave a Comment