Metodologi Pengadaan Berkelanjutan Industri Konstruksi

Metodologi Pengadaan Berkelanjutan Industri Konstruksi – Ramadan #9 – Ini series keenam atau terakhir mengenai apa metodologi pengadaan berkelanjutan industri konstruksi yang cocok diterapkan di Indonesia.

Series ini bagian dari series Ramadan yang sedan giat saya tulis. Semoga banyak baiknya diterima. Silahkan sitasi apabila membutuhkan. Saya sertakan sumbernya di akhir series tulisan.

Metodologi pengadaan berkelanjutan yang diusulkan untuk mengembangkan kerangka kerja pengadaan yang berkelanjutan untuk pekerjaan konstruksi di Indonesia didasarkan pada empat kerangka dasar seperti yang digambarkan di bawah.

DEFRA (2011)
+
BS 8903 (2010)
+
Wahid, et al  (2014)
+
Sourani (2008)
V
Identifikasi masalah utama dalam pengadaan berkelanjutan
V
Mengkombinasikan faktor pengadaan berkelanjutan
V
Evaluasi dengan komprehensif
V
Sesuaikan dengan project deliver di konstruksi
V
Kerangka Metodologi Pengadaan Berkelanjutan

Mengingat pengadaan konstruksi berkelanjutan di Indonesia merupakan topik yang relatif baru, informasi terkait rencana dan praktik pengadaan berkelanjutan masih terbatas, maka pendekatan eksploratif dipilih untuk kajian ini.

Kajian akan dimulai dengan studi literatur kritis terkait praktik pengadaan berkelanjutan di negara maju dan berkembang. Selain itu, kondisi dan praktik Indonesia dalam pengadaan konstruksi juga dikumpulkan untuk mengatur konteks kerangka kerja.

Metodologi pengadaan berkelanjutan untuk mengembangkan kerangka kerja seperti yang digambarkan diatas kemudian diterapkan.

Kerangka yang diusulkan akan menjadi kerangka baru yang dikembangkan dari kerangka yang telah dirumuskan dan ditetapkan: kombinasi kerangka pengadaan berkelanjutan menurut DEFRA, BS 8903, Wahid, dan Sourani.

Sedangkan perumusan kerangka kerja dilakukan dengan menggabungkan kerangka dasar, identifikasi faktor-faktor penting dalam pengadaan konstruksi berkelanjutan akan didasarkan pada tantangan yang teridentifikasi dalam mempraktikkan pengadaan berkelanjutan.

Elemen pengadaan berkelanjutan dari empat kerangka dasar akan digunakan untuk mengembangkan lebih lanjut faktor-faktor untuk membangun kerangka kerja, yaitu

  1. Sumber Daya Manusia.
  2. Kebijakan, Komunikasi.
  3. Proses.
  4. Keterlibatan Pemasok.
  5. Pemantauan dan Pelaporan.
  6. Kepemimpinan.
  7. Prioritas.
  8. Target.
  9. Standar.
  10. Partisipasi.
  11. Dukungan Mekanisme.
  12. Rencana Tindakan.
  13. Pengetahuan dan Persepsi.
  14. Politik dan Regulasi.
  15. Kontrak.
  16. Instrumen dan Keuangan.
Related:   Dokumen Bisnis Manajemen Proyek di PMBOK

Untuk mengidentifikasi faktor-faktor penting pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur dan kuesioner. Responden yang ditargetkan akan mencakup praktisi dan akademisi yang terkait dengan pengadaan konstruksi dan masalah keberlanjutan.

Metode Delphi dapat digunakan untuk menyatukan pendapat tentang tantangan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penting untuk pengadaan konstruksi yang berkelanjutan.

Faktor-faktor yang diperoleh kemudian dianalisis statistik deskriptif untuk memahami masing-masing faktor dan hubungannya dengan yang lain. PLS-SEM akan digunakan untuk menemukan hubungan dinamis dan kompleks antar faktor.

Sedangkan validasi akan dilakukan berdasarkan opini dan studi kasus kepada pemilik sektor publik dan swasta melalui beberapa wawancara serta sesi diskusi kelompok terfokus. Metodologi pengadaan berkelanjutan penyusunan kerangka kerja pengadaan konstruksi berkelanjutan di Indonesia dapat diringkas.

Metodologi Pengadaan Berkelanjutan di Industri Konstruksi

Karena Indonesia baru memberi perhatian untuk mengadopsi inisiatif pengadaan berkelanjutan dalam upaya mewujudkan konstruksi berkelanjutan, terdapat kebutuhan untuk mengembangkan Sustainable Construction Procurement Framework (SCPF) yang komprehensif.

Esai ini mempresentasikan perkembangan metodologi pengadaan berkelanjutan untuk merumuskan kerangka kerja. Rumusan tersebut mengakomodasi empat langkah utama, yaitu identifikasi elemen penting kerangka acuan, identifikasi hubungan yang mendasarinya, evaluasi tekan kerangka kerja, dan adaptasi melalui studi kasus.

Penelitian itu sendiri akan menghasilkan kerangka kerja (SCPF) yang akan menjadi acuan dalam melaksanakan pengadaan berkelanjutan dalam proyek konstruksi, dalam konteks Indonesia, untuk semua pelaku. SCPF ini juga akan berkontribusi pada pengembangan kapasitas peserta dan pemangku kepentingan dalam upaya SCP.

Daftar Referensi

  1. DEFRA, Sustainable Procurement in Government Flexible Framework (2006) https://www.gov.uk/government/publications/sustainable-procurement-in-government-guidance-to-the-flexible-framework
  2. BSI, Principles and Framework for Procuring Sustainably, 8903 (2010)
  3. H. A. Bassioni, A. D. F. Price, T. M. Hassan, JoME (ASCE), 20, 42-50, (2004)
  4. M. Riese, “One Island East, Hong Kong: a case study in construction virtual prototyping,” in Virtual Futures for Design, Construction and Procurement, P. Brandon and T. Kocaturk, Eds., pp. 59–71, Blackwell Publishing, Oxford, UK, 2008.
  5. Abduh, Muhamad & Wirahadikusumah, Reini & Messah, Yunita. (2018). “Framework Development Methodology for Sustainable Procurement of Construction Works in Indonesia” MATEC Web of Conferences. 203. 02014.
  6. Scotland Procurement Direction, Sustainable Procurement Action Plan (2009)
  7. A. Sourani, Proceedings of the ICE – Management. (Lboro, 2008)
  8. K.Vaidya, A. M. Sajeev, and G. Callendar, “Critical factors that influence e-procurement implementation success in the public sector,” Journal of Public Procurement, vol. 6, pp. 70–99, 2006.
  9. Z. Ma, Z. Wei, and X. Zhang, “Semi-automatic and specification- compliant cost estimation for tendering of building projects based on IFC data of design model,” Automation in Construction, vol. 30, pp. 126–135, 2013.
  10. R. Lipman, M. Palmer, and S. Palacios, “Assessment of conformance and interoperability testing methods used for construction industry productmodels,” Automation in Construction, vol. 20, no. 4, pp. 418–428, 2011.
  11. European Commission, Green Paper on Expanding the Use of e-Procurement in the EU, European Commission, Brussels, Belgium, 2010.
  12. Wahid SN, Ramli Z, Sazalli SA. 2014. Developing sustainable procurement framework for Malaysia public construction. Proceeding FIG Congress. 7047.
  13. Thunberg, M. (2016). Developing a Framework for Supply Chain Planning in Construction (PhD dissertation, Linköping University Electronic Press). https://doi.org/10.3384/diss.diva-131617
Related:   Cara Mudah Khatam Al-Quran dalam Sebulan Ramadhan
Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment