Ngobrol Ringan Keilmuan MTI x HMS ITB

MTI sebagai organisasi mahasiswa yang membawahi keilmuan Teknik Industri adalah salah satu himpunan mahasiswa jurusan yang cukup aktif di timeline sosial media setahun 2017 terakhir ini. Hal ini tidak lepas dari pengampu kajian keilmuan di MTI yang bisa dibilang salah satu “artis” kampus. Coba ketik Reynldi Satrio di halaman google, maka berterbaranlah banyak tulisan mengenai bermacam topik. Namun kesamaan dari kesemua topik tersebut yaitu bersinggungan dengan semesta keilmuan Teknik Industri seperti efektifias organisasi, logistik, branding awareness, sistem antrian, dan hal lainnya. Perlu diketahui bahwa ranah kajian di MTI bersumber kepada Departemen Keilmuan. Departemen ini mengkaji isu keilmuan, sosial ekonomi, dan sungguh sangat sedikit menyenggol politik. Ternyata pembagian kerja lewat mekanisme formalization mereka membagi isu politik dikaji di ranah senator terpilih himpunan. Pendapat ini diturunkan karena hal yang berkaitan politik nantinya perlu disikapi sebagai sikap himpunan yang hanya bisa dikeluarkan oleh lembaga kesenatoran.

Keilmuan MTI punya tujuan sesederhaa meraih tujuan MTI. Hal ini dikarenakan MTI berfokus kepada output anggota dan tidak terlalu fokus terhadap proses yang ada. MTI percaya teknis yang ada akan selalu berubah-ubah dan menyesuaikan massa serta keadaan. Menurut Rey, tujuan ini sudah dia dapatkan setidaknya lewat beberapa usaha yang telah dilakukan, salah satunya lewat grup line Gayo. Sebuah grup yang dibuat untuk menyikapi banyak isu menarik yang dipantik dan didiskusikan anggota MTI yang berjumlah 160an orang di grup tersebut. Grup line Gayo ini mirip sekali dengan grup Kuya Kuyi Ribut yang ada di HMS ITB, yang sekarang (14 Februari 2018) mempunyai anggota sebanyak 67 massa HMS. Rey, menambahkan bahwa dia yakin seluruh isu yang dipantik lewat grup tersebut sudah tersampaikan ke minimal seluruh anggota grup line Gayo tersebut. Pembuatan grup tersebut dia yakini sebagai upaya berdamai dengan kemajuan zaman karena kajian yang dilaksanakan secara offline pasti sangatlah susah untuk mencapai target massa. Perbedaan jadwal akademik, kebutuhan massa, dan prioritas akan suatu kegiatan merupakan 3 dari banyak masalah untuk menggiatkan kajian diantara generasi millennial yang menjadi basis massa himpunan sekarang. Rey menyikapi bahwa tantangan mengadakan kajian baik dibuat online maupun secara bertatap muka langsung adalah mengemas kajian yang harus sangatlah dekat dengan massa. Hal ini yang sudah saya sebutkan tadi yaitu kajian di MTI sangatlah dekat dengan segala hal yang sudah pernah dipelajari di bangku kuliah Teknik Industri ITB. Oleh karena itu, hal yang tidak boleh terlupa yaitu keberadaan orang yang berada di shaf terdepan kajian haruslah orang yang beres memahami keilmuan yang ada di MTI.

Catatan kaki

Kita sebenarnya sudah janjian dengan Rey ini sejak Sabtu 10 Februari 2018 jam 2 siang. Namun saat itu masih belum bisa ketemu padahal jam 2 kurang 10 menit, masih saling mengabari.Telisik besoknya Rey ternyata lagi sakit, bahkan ngobrol ringan pas minggu Rey minta beliin makan dan minum sebelum sampai kampus, yang sebelumnya sudah telat. By the way, kemarin pas sama Patra saya dimarahin cuma karena dating sampai kampus baru 5 menit sebelum jam 7 pagi tepat. Sungguh budaya yang berbeda, hehe.

Dokumentasi kecil kami

460729
Reza Prama (HMS) – Reynaldi (MTI) – Zakialda (HMS)
Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment