Kalau definisi partner sesuai dengan Cambridge Dictionary yang mengatakan bahwa partner adalah orang yang terlibat dalam kasus yang sama, maka saya sudah berpartner secara serius sejak sekolah TK. Saat itu saya berpartner dalam memimpin kelas. Lebih serius lagi ketika SD dst, saat itu saya punya banyak partner untuk terlibat dalam kasus yang sama berupa: tim lomba.

Suatu ketika ditanya seorang teman, sebutlah Eki.

Pasangan atau partner yang kayak gimana sih harapan lo?

Susah sekali pertanyaan Eki ini, padahal hal yang sering kami bahas lebih sering di perdebatan cebong kampret, infrastruktur Indonesia yang gak bener-bener amat, sampai persaingan EPL Liga Inggris antara dedek City sama Extra Tayo alias Celsi.

Jawaban gw sejak lulus SMA sama, Sekufu.

Jawaban ini terakumulasi dari banyak diskusi, kegelisahan, dan pencarian diri sendiri yang lama, halah. Yang penting juga, hal ini sudah terdiskusikan dengan orang tua dan approved.

Selain sekufu, ada permintaan yang lucu-lucuan berupa punya pasangan yang berlatarbelakang seorang yang berprofesi dokter, ini karena Bapak Ibu sudah pupus harapan dengan masuknya Bryan, adik gw, ke FTI, kemudian Tekkim. Padahal Ibu sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas, sudah dikalungi banyak sterotipe kalau orang tua di kesehatan, paling nggak anaknya ada satu yang meneruskan, kalau bisa ya sekolah kedokteran. Maka untuk menghibur pembicaraan ̶b̶a̶s̶a̶-̶b̶a̶s̶i̶ dibuatlah ̶p̶e̶n̶y̶e̶m̶a̶n̶g̶a̶t̶ hal ini.

Sekufu?

Jawaban panjangnya kalau gw dah ketemu dan menjadi calon sahnya saja. Tapi jawaban sedikit alias side storynya saya beberkan disini. Terima kasih ke Mas Agus Taufiq dan Mas Fajar untuk inspirasinya. Saya ceritanya agak serius bagian ini, dengan menyatut tokoh di zaman Nabi.

Sekufu, sederhananya sepadan atau setara.

Apanya? Usia? Harta? Strata sosial? Ketampanan/kecantikan?

Rasulullah (25 Tahun) berpartner/berpasangan/menikah dengan Khadijah (40 Tahun), lebih tua Khadijah 15 tahun. Setelah Khadijah wafat, Rasul menikah dengan remaja bernama Aisyah yang lebih muda puluhan tahun, Artinya sekufu bukan tentang usia.

Umar bin Khattab menjodohkan putranya, Ashim, dengan anak penjual susu. Ashim yang anak seorang khalifah (orang nomor 1 saat itu) menikah dengan rakyat jelata. Tapi, kelak dari pernikahan mereka lahirlah Ummu Ashim, dan dari Ummu Ashim lahirlah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang membawa Islam pada puncak kejayaan. Jadi sekufu bukan tentang strata sosial.

Pernikahan Fathimah binti Qais dengan Usamah bin Zaid, Fathimah adalah seorang wanita cantik berkulit putih. Sedangkan Usamah dikisahkan berkulit hitam dan berhidung pesek. Sekufu pun bukan tentang ketampanan/kecantikan maupun warna kulit.

Asma’ bin Abu Bakar menikah dengan Zubair bin Awwam. Putri saudagar kaya raya menikah dengan Zubair yang miskin. Awalnya mereka hidup prihatin dengan segala keterbatasan. Namun kelak, Zubair berusaha keras dan tumbuh menjadi orang yang kaya raya. Jadi sekufu bukan juga tentang kepemilikan harta.

Lalu sekufu ada di urusan apa?

Menurut Imam Malik, ungkapan sekufu ini untuk urusan agama. Tapi kafa’ah dalam bidang agama yang dimaksud bukan hanya tingkat pengetahuan agama, melainkan juga pengamalan dan gregetnya terhadap agama, iman taqwa, dan akhlaknya.

Hal ini juga menjadi benteng saya eh gw sekarang untuk menyaring masalah pasang berpasang, partner berpartner ini untuk meneruskan kehidupan.

Kini?

Di zaman sekolah, suer saya sering terpesona ealah alias kagum pada lawan jenis yang punya prestasi, ibadah, wajah, dsb yang lebih wah. Astaga. Astaghfirullah. Hal tersebut, tentu hanya kagum. 

Ternyata banyak yang saya kagumi di masa lalu, nyatanya sangat tidak sekufu dengan saya. Sebagian ada yang lebih tinggi gregetnya beribadah, sebagian ada yang sangat tinggi gregetnya beribadah, halah.

Berbagai hal yang terjadi di masa lalu adalah hal khilaf yang saya lakukan. Maafkanlah. Saya tidak seserius itu di masa lalu. Saya adalah pribadi yang lebih dewasa, matang, dan berusaha lebih dan lebih baik di masa kini.

Saya sekarang paling males, melihat siapun itu mereka yang mengolah energi hanya untuk berpartner namun di jalan yang belum sah.

Saya lebih baik diam, saya belum bisa bertanggungjawab atas berbagai keputusan yang belum sah. Energi saya terlalu berharga untuk mengeksplor hal ini.

Untuk itu maafkanlah. Wahai partner dunia akhiratku, teruslah bermanfaat, tebar kebaikan, persiapkanlah dirimu, menjadi pasangan yang menjadi golongan pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun, waja’alna lil muttaqina imama.

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)


1 Komentar

Nugs · 2 Juli 2019 pada 22:10

Baru tahu arti kata sekufu, cerita yang bagus mas..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *