Peluang dan Tantangan Membangun Kota Pintar

Peluang dan Tantangan Membangun Kota Pintar – Kita tidak pernah menghadapi berbagai masalah rumit yang berkaitan beberapa puluh tahun lalu. Namun laju pertumbuhan penduduk, semakin terbatasnya sumber daya, dan berkembangnya teknologi membutuhkan inovasi bagaimana cara yang baik untuk mengelola sebuah kota yang kompleks. Pembangunan mega proyek kota pintar merupakan salah satu isu penting di abad 21 ini.

Kota Pintar dan Teknologi

Teknologi berupa BIM (Building Information Modeling) dan GIS (Geographic Information System) dikenal luas dekade ini untuk membantu mendesain, seperti apa bentuk ideal tersebut.

Integrasi keduanya digunakan engineer untuk memperkenalkan konteks geografis dalam suatu proyek. Alat bantuan ini bisa juga digunakan untuk menilai dampak lingkungan, mengumpulkan dan menganalisis data dari lapangan, dan meningkatkan komunikasi dengan para pemangku kepentingan.

Tetapi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, kota pintar menggunakan data dan teknologi terintegrasi untuk meningkatkan proses internal. Yang pada akhirnya meningkatkan kehidupan warga dan bisnis yang mengisinya.

Tantangan dan Peluang

Laju urbanisasi dalm lima belas tahun ke depan akan naik. Orang yang tinggal di perkotaan naik dari 50% menjadi 70%. Hal ini mendesak segera hadirnya pembiayaan publik dan swasta, arsitektur kreatif, hal baru dalam rekayasa, dan inovasi kolaboratif yang belum pernah terjadi sebelumnya antar lintas disiplin ilmu.

Inovasi dalam teknologi kota pintar tentu akan sangat membantu. Di satu sisi, komputasi sebagai utilitas dapat digunakan sebanyak yang kita inginkan. Kita dapat memecahkan masalah perhitungan dengan menggunakan platform off-the-shelf yang tidak mungkin dan tidak terjangkau hanya 10 tahun yang lalu menggunakan platform komputasi awan.

Inovasi di dalam komputasi ini mendorong tiga perbaikan utama dalam mendesain sebuah kota:

  1. Visualisasi – Kemampuan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memiliki wawasan tentang keadaan saat ini. Analisa terhadap tren dan dorongan semakin besar untuk menggunakan data besar, pembelajaran mesin, dan kecerdasan buatan. Visualisasi terhadap realitas tiga dimensi dapat dikombinasikan dengan pengetahuan bisnis, kemudian menjadi 4D karena berbasis waktu, dan akhirnya menjadi 5D karena berbasis waktu-biaya. Hal ini bersumber dari sumber data yang memungkinkan peningkatan pemahaman akan konteks perubahan dalam proses pendesainan.
  2. Desain generatif – Alat seperti Dynamo yang dikombinasikan dengan data geospasial yang sangat akurat dan pembelajaran mesin dapat membuat desain yang indah, berbiaya rendah, dan paling efisien. Inovasi dalam bahan dan teknik konstruksi juga berlaku di sini.
  3. Simulasi – Kemampuan untuk menggunakan simulasi agent-based untuk memprediksi dampak perubahan desain secara proaktif dan tepat waktu. Pendekatan ini dapat mengurangi biaya dan durasi proyek infrastruktur transportasi sembari menjaga dengan lebih baik konsekuensi sosial, kesehatan, dan ekonomi dari desain. Tanpa inovasi ini, kecil kemungkinan kita akan mampu mengimbangi tingkat urbanisasi di masa yang akan datang.

Manfaat untuk Individu dan Komunitas

Keseimbangan dalam mendesain kota mungkin saja mempunyai arti yang berbeda-beda bagi kita. Tetapi hal ini akan menjadi sesuatu yang umum yang akan mempengaruhi pemikiran pendesainan sebuah kota pintar. Keseimbangan dalam proses mendesain kota pintar antara lain:

  1. Kesehatan – Kebebasan terhindar dari penyakit karena kesehatan yang baik itu membuat kita menjadi manusia yang aktif. Terus menginspirasi, meningkatkan produktivitas pribadi, bisnis, dan kolektif. Kesehatan yang baik itu harusnya dapat mengurangi stres, meningkatkan kohesi sosial, memaksimalkan mobilitas, dan menyamankan pembelajaran.
  2. Kemakmuran – Semua orang ingin kekayaan mereka meningkat seiring waktu. Keresahan ekonomi merupakan hambatan besar bagi masa depan ekonomi kita dan kesehatan warga. Tampak jelas – tetapi dampaknya diremehkan oleh banyak orang.
  3. Keluarga dan komunitas – Kecuali jika Anda adalah seorang pencinta hutan belantara penuh waktu, Anda hidup di dunia sosial yang dihuni oleh jaringan teman, tetangga, keluarga. Kualitas interaksi sosial – yang fisik jauh lebih penting daripada yang virtual. Bukti menunjukkan bahwa komunitas dengan ikatan sosial yang kohesif memiliki umur panjang yang jauh lebih tinggi.
  4. Keamanan – Ini tentang kebebasan dari ancaman bahaya yang akan terjadi hingga prediksi tindakan harian Anda, yang lebih penting. Saya ingin bisa berjalan ke sekolah tanpa rasa takut; Saya ingin tahu bahwa penghasilan saya tidak genting; Saya ingin tahu bahwa status keuangan aman.
  5. Tujuan – Apakah itu spiritual, artistik, komunal, wirausaha, atau keluarga, manusia perlu merasakan tujuan dalam hidup mereka untuk memastikan kesejahteraan jangka panjang. Sifat-sifat kehidupan ini saling mendukung – kemakmuran berkorelasi dengan kesehatan; komunitas berkorelasi dengan umur panjang; keamanan berkorelasi dengan kemakmuran, dan sebagainya. Yang mendasari faktor-faktor kesejahteraan ini adalah kebutuhan sosial lainnya: pendidikan, perumahan sosial, asuransi pekerjaan, pensiun yang membantu mendukung kriteria kesejahteraan bagi warga negara dalam skala luas.

Teknologi dan Dampak

Sebagian besar Peneliti percaya bahwa Kota Pintar berasal dari manusia di masyarakat dan kolaborasi industri yang memahami bahwa setiap upaya yang mereka lakukan pada dasarnya untuk meningkatkan kehidupan warga. Serta memungkinkan masyarakat dan kegiatan ekonomi untuk saling mendukung satu sama lain.

Teknologi memungkinkan para pemangku kepentingan untuk membuat keputusan cerdas: memfasilitasi rekayasa yang lebih optimal, memberikan kesadaran situasional yang meningkatkan keselamatan, mengidentifikasi pola penyakit untuk meningkatkan kesehatan, menunjukkan pola pergerakan mana saja yang mengurangi perdagangan. Kita perlu mendidik diri kita sendiri tentang kemungkinan memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi dari adanya kota pintar dan implikasinya.

Manfaat kota pintar selalu tergantung pada kondisi eksisting daerah tersebut, kehadiran zona spasial yang bias, dan sejarah politik di tempat tersebut. Hal ini seringkali membatasi upaya penerapan teknologi untuk kota pintar.

Tanpa pemahaman mendalam tentang kondisi setempat, investasi di Kota Pintar sangat berisiko gagal. Contoh di Ottawa Kanada dengan air mancur dingin untuk diminum di seriap stasiun LRT baru.

Kota Pintar: Songdo

Kota Songdo di Korea Selatan disusun sebagai jenis kota baru yang direncanakan oleh pemerintah pusat setempat untuk menyediakan pusat perdagangan internasional, di mana beragam komunitas akan berkumpul di pusat inovasi dengan perumahan yang terjangkau, ruang hijau yang luas, dan transportasi multimoda.

Semua fitur ini didukung oleh infrastruktur kota pintar yang canggih – pusat kendali yang maju, apartemen pintar, sistem pembuangan limbah yang tidak memerlukan truk sampah dan bisa mengubah sampah menjadi listrik.

Sayangnya, Songdo terlihat sangat kosong – hanya ada sedikit rasa kebersamaan antar warga. Evolusi alami yang diharapkan untuk menjadi kota pintar yang mandiri belum ditata di sini dan sebagai hasilnya, hal ini jauh di latar belakang tujuannya.

Populasi telah meningkat menjadi sekitar 100.000 orang tetapi tujuan awalnya jauh lebih tinggi- sekitar 300.000 orang atau lebih. Tempat pemberhentian transportasi publik lintas urban disana memiliki sedikit masalah.

Untuk mendapatkan transportasi ke Seoul membutuhkan perjalanan sampai dua jam dengan jarak 35 kilometer. Teman-teman bisa membaca lebih jauh beberapa laporan tentang Utopia di Songdo

Kota Pintar: Amsterdam

Sebaliknya, kota Amsterdam telah menerapkan inovasi di kota tua yang sudah memiliki banyak fasilitas terbaik untuk hidup di daerah urban. Aspek yang sangat penting bagi Amsterdam adalah mempunyai inovasi terbaik di dunia, tetapi tidak melupakan aspek lokal dan pelaksanaan kebijakan yang tidak kaku.

Amsterdam tidak memulai semua hal tersebut dari proyek megaproyek top-down; mereka menerapkan kebijakan, platform, dan pendidikan yang baik untuk mempersiapkan semuanya. Usaha kecil, perusahaan besar, dan warga negara berpartisipasi aktif. Hasilnya adalah inovasi berkelanjutan dan peningkatan berkelanjutan dalam kehidupan pekotaan.

Model Tata Kelola Kota Pintar yang Sukses

Seperti dilansir SBA, 44% aktivitas ekonomi AS berasal dari bisnis kecil, yang sebagian besar terkait erat dengan komunitas di masyarakat. Dalam laporan utama PWC di Singapura, New York, dan Boston mengidentifikasi bahwa kota yang telah secara proaktif merencanakan hubungan antara bisnis dan warga negara akan merangsang ekonomi yang lebih baik, tidak hanya berdampak terjadinya pertumbuhan, tetapi juga meningkatkan dampak sosial yang ada.

Faktor Agar Kota Pintar Berjalan Baik

Faktor-faktor yang membuat proyek kota pintar ini bekerja meliputi:

  1. Mengkomunikasikan prioritas strategis yang dikembangkan secara kolaboratif.
  2. Menumbuhkan minat bersama antara bisnis dan komunitas di tempat mereka beroperasi.
  3. Melibatkan para pemimpin bisnis secara langsung dalam pengembangan dan pelaksanaan rencana kota.
  4. Komunikasi yang terus-menerus.

Revolusi Mobilitas, Kota Ramah Pejalan Kaki, dan Simulasi

Salah satu hal yang mendesak untuk ditangani di mega proyek kota pintar adalah infrastruktur transportasi. Kota pintar membutuhkan perbaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dua dimensi yang berbeda. Kita perlu merancang sistem transportasi multi-model yang memaksimalkan kemampuan lingkungan untuk berkembang sambil memastikan perdagangan dilakukan baik di tingkat lokal, antar kota, provinsi atau negara bagian, dan nasional.

Kita juga membutuhkan moda transportasi baru yang lebih aman, lebih sedikit polusi, lebih efisien, dan lebih murah baik dari waktu yang dihabiskan maupun dari perspektif infrastruktur. Ini harus mencakup kota yang ramah bagi pejalan kaki, pesepeda, kendaraan otonom, dan angkutan umum. Kedua aspek mobilitas sangat penting untuk masa depan yang berkelanjutan dan kesejahteraan.

Ini juga penting untuk kesehatan. Masalah polusi, macet yang mengakibatkan waktu mengemudi berlebihan, stres dalam perjalanan, semua hal tersebut memiliki implikasi negatif terhadap kesehatan. Waktu yang hilang dalam perjalanan panjang menghambat produktivitas. Tetapi banyak alat yang tersedia saat ini membuatnya teratasi dengan mega proyek kota pintar ini.

Kesimpulan Menganai Mega Proyek Kota Pintar

Mega proyek kota pintar akan sangat mendesak akhir-akhir ini. Dorongan untuk memulai proyek kota pintar secara bertahap harus dimulai dengan membangun kesuksesan kecil terlebih dahulu:

  1. Selesaikan masalah nyata yang mendesak namun dapat dikelola dalam ruang lingkup kota biasa.
  2. Tingkatkan keberhasilan kecil untuk menumbuhkan kepercayaan.
  3. Terus menerus pertahankan dan tingkatkan pendanaan.

Megaproyek kota pintar memberi risiko kegagalan yang besar:

  1. Modal akan terbuang sia-sia.
  2. Kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat bisa hancur.

Anthony Townsend mengangkat ini dalam bukunya Smart Cities. Dia mengutip contoh sebuah kota di Amerika Selatan, di mana investasi besar di kota pintar yang sudah setengah jadi, mempertaruhkan kepercayaan terhadap pejabat tertentu, tetapi tidak mencapai dampak berarti pada kualitas hidup warga.

Setiap kota memiliki bentang geografi, keadaan alam, cuaca harian, kehidupan ekonomi, dan budaya yang berbeda. Setiap implementasi kota pintar harus mengakomodasi kondisi lokal sebagai tujuan desain utama.

Kota yang dinamis dan berkembang tidak pernah akan menjadi nyata apabila tidak terjadi kolaborasi satu sama lain. Teknologi yang tersedia sekarang harusnya dapat membuat pemerintah, perencana, warga negara, dan insinyur lebih mampu membangun kota di masa depan yang makmur. Dimana seluruh bagian masyarakat tersebut terus bekerja sama untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sumber:

  1. Diskusi Steve Brockwell dan Richard Horrocks di medium Autodesk.
Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment

2 thoughts on “Peluang dan Tantangan Membangun Kota Pintar”