diambil dari http://infogadogado.com

  02/09/2012

   Lebaran kali ini aku harus pulang, begitu janjiku. Bapak dan ibu sudah tidak tahan lagi melihat anak sulungnya ini tak pulang-pulang dari perantauan. Memang sudah tiga tahun ini aku tidak pulang. Biasanya, seribu alasanku untuk tidak pulang lebaran alias mudik cukup meluluhkan hati orang tuaku, walaupun ibu kadang sampai menangis karena tidak bisa berkumpul seperti dulu lagi. Sebelum aku memulai perantauanku semasa kuliah, kami berempat: bapak, ibu, adik, dan aku memang selalu melewati lebaran bersama. Menyiapkan kue bersama, membersihkan rumah bersama, membeli dan mencuci baju lebaran bersama, dan segala hal lain selalu kami selalu kerjakan bersama.
 
   Apalagi momen setelah lebaran tahun ini adikku satu-satunya akan di wisuda di kampus impian masa kecilnya di daerah Depok dengan gelar S.Ked. Bapak dan ibu jelas sangat ingin kami berfoto berempat bersama seperti terakhir kali kami melakukannya ketika aku di wisuda  di salah satu institut teknologi terbaik Indonesia daerah Dago, Bandung.
 
   Ada satu hal lagi yang mengusikku segera pulang. Ini berkaitan reuni akbar satu angkatan pertama SMAku yang lulus sekitar delapan tahun yang lalu. Aku mendapat banyak email dan surat dari perwakilan panitia reuni yang begitu berharap akan kedatanganku nanti di acara lewat KBRI di Tokyo, karena aku sekarang memang sedang bekerja di perusahaan asuransi internasional dengan menyambi belajar S3 disini. Teman-teman di Indonesia ingin aku mengisi acara sharing karena dianggap sebagai salah satu lulusan yang berhasil, walaupun sebenarnya menurutku masih banyak teman lain yang lebih dianggap berhasil, karena yang aku tahu, teman seangkatanku ada yang bekerja di perwakilan Bank Dunia di Washington DC, pegawai di kantor pusat PBB di Jenewa, profesional akuntan publik internasional di London, programmer di Silicon Valley, asisten Dosen Kedokteran di Basel, peneliti muda di LIPI, anggota DPR di Senayan, sampai menjadi seorang guru muda di pelosok Indonesia.
 
   Untuk profesi terakhir ini dipunyai oleh orang yang paling aku tunggu di acara reuni ini. Mungkin bagi sebagian besar orang, profesi guru merupakan profesi yang dipandang sebelah mata, apalagi ini di pelosok, kalau yang dihitung-hitung secara finansial, profesi ini jelas kalah mentereng daripada profesi-profesi lain seperti dokter, ekonom, DPR, dan yang lainnya. Profesi ini dianggap tidak mengahasilkan pundi-pundi keduniaan yang besar untuk masa tua.
 
   Sengaja aku sandingkan profesinya dengan profesi-profesi teman lainnya yang secara kasat mata terlihat sangat wah bagi orang awam karena prestasi-prestasinya akhir-akhir ini dengan gagasan-gagasan maju mengenai pendidikan Indonesia sampai di telingaku. Bukan lewat email atau surat dari bapak dan ibuku di rumah. Bukan juga lewat kiriman sosial media teman di Indonesia. Tetapi lewat stasiun tv dan website berita beberapa media Jepang memberitakan seorang guru muda asal Indonesia yang menggebrak dunia pendidikan lewat gerakan #IndonesiaBerdiskusi dan #IndonesiaBelajar untuk mengajak anak-anak sampai orang tua membangun Indonesia dengan membentuk kelompok diskusi dan belajar bersama. 
 
    Yang aku tahu, gerakan ini mendapat apresiasi luar biasa baik di Indonesia maupun di negara yang sedang aku tempati, Jepang. Bagiku, jarang-jarang ada berita positif dari Indonesia bisa masuk media-media Jepang. Paling-paling cuma berita korupsi atau re-negoisasi kesepakatan untuk perjanjian bilateral Jepang-Indonesia. Terakhir kali berita positif tentang Indonesia selain hal itu mungkin berita tentang Presiden Indonesia ke-tujuh yang berasal dari rakyat biasa. Jepang sendiri menganggap hal itu luar biasa karena pemerintahan disini masih menganut sistem kekaisaran monarki.
 
    Pertama kali melihat foto wajahnya di media online Jepang aku anggap biasa saja, cuma seorang perempuan muda berjilbab rapi yang berprofesi sebagai guru di sekolah pelosok di Indonesia. Tetapi setelah melihat wawancaranya bersama beberapa jurnalis intenasional, wajahnya baru terlihat lebih jelas. Beberapa kali dia melempar senyum dengan wajah yang sangat ramah kepada jurnalis-jurnalis di hadapannya yang mencoba menembaki dengan seribu pertanyaan kritis tentang gerakan yang dia galang selama ini.
 
    Melihat senyumnya yang sangat manis, aku tersentak. Jantungku berdebar. Wajah yang sekarang aku lihat di layar televisi itu adalah wajah yang sangat aku kenal. Masih seperti dulu, berpakaian anggun, berjilbab rapi, dan yang pasti senyumannya itu lho. Iya, dia adalah partnerku ketika masih berseragam putih abu-abu. Mungkin salah satu partner terbaik karena kami berdua mampu saling mengisi kelebihan dan kekurangan masing-masing di banyak hal.
 
 

***

 
 
    Mengingat saat-saat sekolah dulu, aku memang sangat aktif mengikuti banyak hal seperti OSIS, ekstrakulikuler, ikut lomba mulai olimpiade sampai karya tulis. Dalam lomba sendiri khususnya olimpiade, untuk tingkat kabupaten okelah, tapi begitu masuk tingkat provinsi atau nasional, namaku selalu saja sulit untuk masuk di jajaran tiga besar atau sekadar ikut grand final. Apalagi kalau itu olimpiade yang diadakan oleh kementrian, sudah persaingan sangat sulit, ditambah lagi dengan kesulitan memahami materi. Karena itu, seringkali gagal di jalur olimpiade.
 
    Waktu SMA, aku mencoba untuk mencoba hal lain yaitu menulis tanpa meninggalkan benar-benar jalur olimpiade. Kebetulan aku sangat gemar membaca, baik membaca koran pagi sampai membaca karya-karya sastra dari sastrawan dunia. Hal ini membantuku untuk membuat banyak ide untuk menulis karena aku punya banyak referensi yang belum tentu teman seumuranku saat itu tahu informasi yang aku tahu. Beberapa lomba di SMA baik menulis maupun olimpiade mensyaratkan bagi peserta untuk membentuk tim, minimal terdiri dari dua siswa. Entah mengapa sejak ini kami berdua ditakdirkan untuk menjadi partner. Padahal kami punya banyak sifat yang seratus delapan puluh derajat berbeda.
 
    Diawal-awal kesempatan kami juga sering terlibat cekcok karena silang pendapat. Drama silang pendapat kami lebih seru daripada sinetron-sinetron remaja masa itu yang sangat menjamur. Selama cekcok kami mengeluarkan pendapat-pendapat ilmiah tapi tiada akhir karena saling menganggap diri sendiri sebagai pihak yang paling benar.
 
    Sebagai partner kami pernah hampir memutuskan untuk berpisah. Hal ini disebabkan sudah banyak sekali mengirimkan tulisan, tetapi selalu gagal. Kami hamper putus asa. Sudah ratusan ribu rupiah kocek dari uang saku makan bulanan kami sisihkan sekedar membiayai riset, memfotokopi, membayar pendaftaran, sampai mengganti biaya pengiriman paket yang akhir-akhirnya cuma bisa tertunduk lesu melihat pengumuman di website penyelenggara dan memastikan kalau nama tim kami benar-benar tidak ada.
 
    Kami saling menyalahkan diri sendiri. Namun pada akhirnya kami sadar, saling menyalahkan apalagi kepada diri sendiri tidak dapat membuat kami menang atau sekedar lolos menjadi finalis untuk ikut presentasi di depan juri. Kami puasa bicara selama tiga hari, tidak bertatap muka apalagi saling bicara untuk mencoba saling mengintropeksi dan memperbaiki diri sendiri.
 
    Pada akhirnya kami membuat perjanjian yang intinya akan mengikuti lomba karya tulis dari kementrian. Apabila ini gagal, maka partnership yang aku bangun bersama dia akan kami akhiri. Kami akan berpisah. Boleh berganti partner lain yang lebih cocok, boleh meninggalkan dunia tulis menulis sementara sambil mempersiapkan ujian yang tinggal beberapa bulan lagi. Tapi di akhir perjanjian kami juga menetapkan syarat yaitu di lomba penentuan ini kami harus sangat serius, ada pembagian tugas yang jelas, tidak ada batasan waktu mengerjakan, kami harus menjunjung totalitas, pokoknya number one and perfect.
 
    Dua minggu penuh kami mengerjakan. Setiap istirahat aku selalu mendatangi kelasnya lalu mengerjakan beberapa hal yang dapat dikerjakan  dengan singkat. Setelah pulang sekolah kami mengerjakan full sampai terdengar adzan maghrib di kantin dekat pos satpam sekolah. Aku terpaksa memperbolehkan dia pulang maghrib karena sehari-hari dia menumpang tidur di rumah budenya. Karena rumahnya memang berada di pelosok desa kota kecil kami. Aku sendiri juga tak enak hati, sebab sering dicurhati kalau setiap sore dia harus menjaga adik keponakan anak budenya yang masih kecil. Tetapi dua minggu ini dia sudah izin untuk mengerjakan karya tulis ini.
 
    Hari-hari berlalu cepat. Kami sudah mengirim tulisan itu tepat di hari terakhir pengiriman. Berharap-harap cemas agar karya itu masih bisa diterima, karena kami berpendapat deadline pengiriman tertulis cap pos. jadi, seharusnya tidak ada diskualifikasi untuk masalah pengiriman. Gara-gara karya tulis itu, beberapa nilai ujianku menjadi stagnan. Ketika teman kelas lain yang biasanya dibawahku sekarang malah diatasku. Aku coba berfikir positif bahwa segala hal butuh tumbal agar mendapat hal postif lain.
 
    Harusnya hari ini adalah hari pengumuman. Aku cemas sekaligus deg-degan tingkat dewa. Aku tambah cemas ketika berpapasan dengan dia di gerbang masuk sekolah. Wajahnya kali ini sangat dingin, santai sekali tanpa beban, aku bergumam apa dia lupa ya kaliau hari ini adalah hari pengumuman. Hari yang menentukan. Menentukan masa depan kerjasama kami dalam hal partner menulis. Seketika matanya melihatku tajam, seakan-akan memberi tahuku untuk tetap tenang dan percaya kepada Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Tatapannya yang tajam diakhiri dengan senyuman manisnya. Kali ini aku tidak bisa mengelak. Hatiku lebih tenang. Jantungku sudah tidak berdegup kencang seperti tadi. Aku melanjutkan langkah, kali ini langkahku lebih mantap karena seperti mendapatkan isi ulang penuh dan siap belajar di dalam kelas.
 
    Jam dinding di kelas menunjuk ke dekat angka sepuluh. Bel berbunyi. Waktunya jam istirahat. Di kesempatan kali ini aku bergegas menuju masjid di area sekolah. Sekedar untuk berwudhu dan sholat dhuha, meringankan beban pikiran di otak yang sedang berat menerima banyak pelajaran. Sehabis dari masjid aku ke kantin menemui teman-temanku, bukan untuk membeli makanan, tetapi meminjam smartphone yang bisa digunakan untuk berselancar di dunia maya. Aku tidak sabar untuk melihat pengumuman di website kementrian. Tetapi, alangkah terkejutnya aku ketika melihat di halaman pengumuman. Ternyata pengumuman finalis diundur sampai hari senin depan dikarenakan jumlah peserta yang meledak tahun ini. Oke, aku diberi kesempatan untuk beribadah lebih rajin daripada biasanya agar senin depan dapat menerima segala hasil baik lolos ataupun tidak lolos. Aku sudah pasrah, aku serahkan kepada-Nya.
 
Keluar dari kantin aku berpapasan lagi dengan dia. Kali ini dia menyapaku.
 
“Bagaimana? Sudah lihat pengumuman Za?”.
 
“Sudah, baru saja”, balasku.
 
Dia menimpali sambil tersenyum manis, “Oh ya sudah, kita tunggu saja ya”,
 
“Oke!”, balasku sambil mengangkat jempol tangan seraya mempercepat langkah menuju ruang kelas.
Selang beberapa hari, tibalah hari yang benar-benar penentuan. Aku lebih siap dan ikhlas untuk semua kemungkinan yang terjadi. Karena hari ini hari senin maka upacara bendera menjadi hal wajib dilakukan. Banyak sekali pengumuman yang disampaikan oleh ibu kepala sekolah hari ini. Aku sangat bosan, walaupun hari ini agak mendung tidak panas seperti biasanya. Beberapa kali aku menguap karena tidak tahan merasakan kebosanan yang ada. Aku ingin sekali keluar dari barisan, lalu pinjam smartphone teman atau pinjam computer di laboraturium komputer dan kemudian mengetik alamat website kementrian serta membuka halaman pengumuman. 
 
    Akhirnya upacara selesai juga. Segera aku lancarkan misiku untuk meminjam smartphone teman. Aku buka bagian bookmarks karena kemarin-kemarin sudah aku tandai untuk jaga-jaga. Aku buka websitenya. Ketika memencet bagian pengumuman, tiba-tiba smartphone temanku mati sekejap. Ternyata dia lupa mengisi ulang batrei tadi malam karena begadang melihat tim kesayangannya Jerman bermain di Piala Dunia. Ah, sial banget, kenapa dalam situasi yang genting seperti ini malah terjadi hal-hal yang konyol. 
 
    Aku lalu berlari menuju laboraturium komputer, berharap pintunya sudah di buka dan aku bisa segera melihat pengumuman. Ketika mau masuk ke dalam, ternyata dia malah mau keluar dan seketika menjabat tanganku erat-erat, melompat-lompat kegirangan, sambil tertawa bahagia,
“Kita lolos, kita lolos Za, kita lolos!”, “ Minggu depan kita diundang ke Jakarta oleh bapak Menteri, kita akan presentasi di depan juri serta peneliti terbaik di Indonesia.”, tambahnya semakin bahagia.
 
    Aku yang masih bengong, mencoba untuk segera sadar dengan mengetuk-ketukkan kepalan tangan kiriku ke jidat, berharap ini bukan lagi mimpi, ini kenyataan. Tanpa dikomando aku langsung bersujud syukur di tempat itu juga dan dia langsung megikutiku. Kejadian ini menjadi sangat aneh bagi teman-teman lain yang baru kembali dari lapangan upacara. Mungkin mereka berfikir, mana ada orang waras yang tanpa intruksi apapun kok sujud-sujud seenaknya diantara ratusan siswa yang berlalu lalang di depan kelas.
 
    Singkat cerita saat di Jakarta kami mendapat juara lima. Ya, walaupun bukan menjadi juara pertama, paling tidak kami sudah merasakan banyak pengalaman yang sebelumnya cuma mimpi dan cerita sebelum tidur saja.
 
    Setelah kejadian itu, hubungan kami semakin dekat. Berbagai lomba yang menuntut untuk kami berpartner berdua dari tingat kabupaten sampai dunia kami ikuti dan sambar sebagai juara. Mungkin dari empat lomba yang kami ikuti, cuma satu lomba yang tidak menjadi juara, itupun menjadi finalis. Tidak henti-hentinya kami mengucap rasa syukur dan sering mentraktir teman-teman atau berbagi kebahagiaan di panti asuhan. Kami berharap bisa menginspirasi semua orang disekitar kami.
 
    Seiring berjalannya waktu, kami mengurangi intensitas untuk mengikuti lomba dan meningkatkan belajar karena semakin dekat dengan ujian akhir serta meningkatkan nilai agar masuk ke perguruan tinggi yang kami inginkan.
 
    Di akhir-akhir masa sekolah seperti ini kami berinisiatif membentuk kelompok belajar. Untuk mata pelajaran matematika, akulah tentor sebayanya. Teman lain ada yang menjadi tentor untuk mata pelajaran fisika, biologi, kimia, dan lain-lain. Sebenarnya untuk masalah ajar-mengajari dia adalah jagoannya, selain mempunyai rangking tertinggi dan rata untuk semua pelajaran, cara mengajarnya sangat enak. Karena dia tenang, telaten, dan senyumnya yang membuat hatiku selalu meleleh. Bahkan pelajaran biologi yang biasanya aku selalu remidi, setelah aku ikut belajar kelompok diajari olehnya nilaiku akhirnya pas dengan rata-rata.
 
    Selain sebagai kelompok belajar, forum ini kami manfaatkan sebagai tempat curhat serta sharing info berbagai hal tentang perkuliahan. Ini kan waktu-waktu menentukan untuk masa depan kami. Jadi hal tentang perkuliahan selalu menjadi topik utama curhatan kami setelah lelah berdikusi dan belajar bersama. 
 
    Dari beberapa kali kesempatan curhat, aku mendapatkan kesimpulan kalau dia sedang ngebet untuk menjadi guru. Ha? Seorang guru? Aku tidak habis pikir, dengan intelejensi sekeren itu dia “hanya” bercita-cita menjadi guru. Banyak temanku yang berharap di posisi rangkingnya agar lebih mudah menerima undangan dari PTN dengan fakultas favorit seperti kedokteran, ekonomi, hukum, informatika, teknik, HI, dan lain-lain. Mengapa dia “hanya” bercita-cita menjadi guru? Apa sebelum SMA dia terlalu lama berada di desa, jadi pikirannya menjadi sangat sempit seperti itu? Ah, tapi pasti bukan. Lha wong di SMA ini dia sudah berkeliling Indonesia bahkan dunia bersama aku, partnernya. Ya, aku mengakui kalau bapakku juga seorang guru. Tetapi, itu mimpi yang tinggi untuk anak-anak kelahiran tahun enam puluhan. Dia anak generasi millennium baru, sayang kalau kemampuan hebatnya hanya memberikan sumbangsih sedikit apabila menjadi guru saja.
 
    Setelah teman-teman lain membuyarkan diri dari kelompok belajar, aku mencegatnya untuk tidak pulang terlebih dahulu. Seluruh pertanyaanku harus dia jawab lunas. Segala pertanyaanku mulai dari apa benar dia ingin menjadi seorang guru sampai mengapa tidak menjadi yang lain saja aku tanyakan tanpa memberi jeda dia berfikir dan menjawab. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban darinya. Kepalaku terasa mau meledak, entah karena pikiranku sedang kacau balau atau penasaran setengah mati.
 
    Dia terdiam sejenak. Hujan mulai mengguyur karena langit sejak pagi memang sangat mendung. Karena itu juga teman-teman kelompok belajar terpikir lebih cepat untuk pulang, takut kalau nanti kehujanan.
 
    Dia masih saja diam. Hujan semakin deras dan kilat menyambar-nyambar diiringi guntur yang berbunyi dengan sangat berisik. Aku sudah tidak sabar menunggu jawabannya,
“Ayo dong jawab! Kamu ini salah satu anak terbaik di SMA ini, anak OSIS yang disegani, bahkan salah satu peneliti muda terbaik di Indonesia. Masa pertanyaan-pertanyaan itu saja tidak bisa menjawab? Malu!”.
 
    Kilat dan guntur semakin cepat dan keras menyambar. Aku lihat wajahnya tampak sayu sedikit memerah. Aku yakin bukan karena malu atau bahagia. Aku perhatikan lagi, dia ternyata meneteskan air mata dan mencoba menutup-nutupinya dariku.
 
    Hujan deras dari langit semakin menjadi-jadi begitu juga dengan hujan air mata dari matanya. Langit saja seakan tak kuasa melihat dia begitu. Aku semakin tak tega melihatnya. Baru kali ini aku melihat dia menangis. Di kesehariannya, dia adalah gadis yang sangat kuat dan hebat. Orang lain yang tahu, pasti tak percaya kalau dia menangis saat ini. Aku merasa sangat bersalah membuatnya menangis. Ingin aku ulangi waktu yang berlalu dan mengunci rapat mulutku untuk tidak bertanya hal-hal konyol yang sebenarnya tidak ada manfaatnya juga bagiku. Tetapi, semua terlanjur basah. Aku berusaha kuat untuk tidak ikut menangis, tetapi mataku tidak dapat berkompromi. Jadilah aku ikut meneteskan air mata walau aku tahan sekuat tenaga.
 
Dengan mulut yang berat, aku bilang,
“Ti..tidak apa-apa, ti..tidak usah dijawab saja.”
Ternyata dia sudah bangkit dan bersiap menjawab pertanyaanku, walaupun pipi dan matanya masih memerah dengan tersenyum simpul.
 
    “Nggak papa kok, Za. Kamu nggak salah melempar pertanyaan-pertanyaan itu kepadaku. Aku ini memang sok kuat, padahal aslinya cengeng. Aku tahu kamu bertanya seperti itu karena kamu adalah salah satu orang disekitarku yang peduli denganku. Terima kasih ya. Alasanku memilih cita-cita menjadi guru ada banyak. Pertama, guru memang cita-citaku sejak kecil. Cita-cita pertama yang aku tahu dari guru ngajiku di desa tempat kelahiranku. Kau tahu sendiri, bapakkau cuma petani di desa lalu ibu cuma di rumah, sedangkan aku adalah anak satu-satunya. Satu-satunya harapan kedua orang tuaku. Apabila aku memilih cita-cita lain, aku pikir butuh biaya yang sangat besar, orang tuaku pasti tidak sanggup membiayai. Kau tahu sendiri, uang beasiswaku selama ini juga aku sisihkan untuk bapak dan ibu di desa yang terkadang sakit-sakitan tidak kuat bekerja. Ketiga, siapa bilang menjadi guru aku tidak bisa memberi sumbangsih yang besar bagi Indonesia? Justru dengan menjadi guru aku mempersiapkan anak-anak bangsa untuk menjadi dokter, ekonom, akuntan, hakim, sampai pemimpin terbaik negeri ini. Dengan menjadi guru, aku tidak ingin membiarkan banyak anak tidak bersekolah seperti teman-temanku di desa. Dengan menjadi guru, aku ingin semangat kerja kita bisa menular ke anak didikku nanti. Kamu katanya ingin masuk PTN yang di Bandung itu kan? Sukses ya. Nanti kalau sudah sukses, jangan lupa sama aku. Kita kan pernah keliling Indonesia dan dunia bersama sewaktu SMA. Kalau sudah sukses, berikan saja beasiswa untuk anak didikku. Ok?”. Dia kembali tersenyum dan kami melakukan salam jari kelingking, pertanda ada ikrar yang entah kapan harus kami penuhi. Hujan mereda, langit kembali cerah, tetapi hari semakin sore, kami harus segera kembali ke rumah.
 
     Semenjak peristiwa itu, dia agak menjaga jarak denganku. Akupun ikut-ikutan begitu. Kami berfikir, kalau kami bertemu dan berdebat lagi seperti kemarin-kemarin akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Aku sebenarnya menyesal, peristiwa itu menyebabkan hubungan kami tidak sehangat dulu, walau kegiatan belajar kelompok masih tetap terus berjalan.
 
    Hari kelulusan tiba, bersamaan dengan diumumkannya penerimaan jalur undangan dari perguruan tinggi negeri dan beasiswa perguruan tinggi luar negeri. Untuk kelulusan seperti biasa, 100% siswa di sekolahku lulus. Dan yang mengagumkan 75% siswa di sekolahku diterima undangan perguruan tinggi negeri dan beasiswa perguruan tinggi luar negeri. Baru tahun ini sekolahku meloloskan lebih dari 60% siswa ke undangan dan beasiswa perguruan tinggi. Biasanya cuma 50%, bahkan pernah cuma 25% siswa saja yang lolos. Hal ini benar-benar disyukuri oleh seluruh warga sekolah. Dikomando ibu kepala sekolah, kami mengadakan sujud syukur dan OSIS mengadakan baksos di daerah tertinggal di pinggiran kota kami.
 
     Saat yang ditunggu tiba, hari ini adalah acara wisuda di sekolahku. Semuanya memakai pakaian almamater lengkap tercinta. Semua terlihat gagah untuk yang laki-laki dan anggun untuk perempuan. Hari ini aku tunggu karena biasanya di acara wisuda bagi siswa yang sudah mendapat tempat kuliah akan mendapat kehormatan disebutkan tempat kuliahnya setelah namanya dipanggil. Aku penasaran, kira-kira dia diterima dimana ya akhirnya? Lalu dapat fakultas atau prodi apa? Sebenarnya bisa saja aku bertanya langsung kepadaya, tetapi rasa-rasanya aku kok tidak enak hati, apalagi kalau mengenang peristiwa beberapa bulan yang lalu yang membuatnya menangis kecewa. Aku sendiri Alhamdulillah sudah diterima di ITB, kampus idamanku sejak SMP.
 
     Tiba giliran dia dipanggil kedepan, langkahnya sangat mantap, walau bukan anggota paskibraka, tetapi mungkin karena dia anak OSIS dan menjadi KOMDIS dengan wajah galak saat MOS. Tidak lupa, senyumnya yang manis dia sebar ke seluruh hadirin wisuda hari ini. Aku meleleh, terpesona. Protokol lalu menyebutkan kalau dia diterima di pendidikan FMIPA UI jalur bidikmisi. Aku mengangguk, mengerti bahwa tekatnya tetap kuat untuk menjadi guru dan dia semakin dekat dengan cita-citanya. Aku hanya berdoa semoga Allah selalu menjaganya, memudahkannya, dan memberi yang terbaik untuknya.
 
 

***
 

    Delapan tahun berlalu, pagi ini tiba waktunya kami seangkatan SMA berreuni. Berkumpul bersama untuk halal bi halal, bermaaf-maafan, mengundang guru-guru SMA dulu, serta mengadakan rekening amal beasiswa ikatan alumni untuk anak-anak kurang mampu di almamater tercinta kami. Sengaja aku datang pagi-pagi, selain untuk membantu persiapan teman-teman juga untuk melihat dia, seseorang yang aku benar-benar nantikan di tempat ini.
 
    Ketika aku datang, teman-teman langsung berebut menyapa dan bersalaman sambil mengingat-ingat segala hal tentang masa SMA. Sesekali kami juga tertawa lepas bila ingat hal-hal konyol yang pernah kami lakukan. Betapa bahagianya hari ini. Tapi, kebahagiaanku kali ini masih kurang lengkap karena dia belum datang juga. Semenjak kuliah sampai bekerja sekarang, kami memang kehilangan kontak. Ini dikarenakan kami memang sangat serius dengan kesibukan masing-masing. Selain karena kejadian sebelum ujian yang membuat dia menangis dan aku merasa sangat menyesal bersalah serta mengakibatkan hubungan kami menjadi renggang, tidak sehangat dulu lagi.
 
    Tak kukira delapan tahun berpisah menjadikan perawakan teman-temanku berubah, banyak yang dulu “pecicilan” sekarang menjadi lebih “anteng”, yang dulu “anteng” sekarang menjadi ramai sendiri, mungkin ketika SMA dulu anak yang “anteng” menyimpan sejuta cerita, jadi ketika reuni seperti ini mereka akhirnya sudah tidak tahan lagi menyimpan banyak cerita itu lagi.
 
    Banyak diantara teman-temanku yang sudah menjadi bapak, menjadi ibu, baru punya anak, punya anak sampai tiga, dan banyak juga yang masih lajang seperti aku. Mendengarkan cerita-cerita dan gosip-gosip dari temanku mengenai cerita sewaktu SMA menambah seru suasana reuni kami.
 
    Hatiku masih sangat sepi, melihat dia belum juga datang dan bergabung bersama kami. Aku coba bertanya kepada temanku yang dulu ketua OSIS seangkatan kami. “Dia sedang menuju kemari setelah menerima penghargaan satya lencana untuk bidang pendidikan dari presiden Indonesia di Jakarta atas usahanya memajukan pendidikan sampai pelosok nusantara melalui gerakan #IndonesiaBerdiskusi dan #IndeonesiaBelajar. Oh ya, tambahan, dia juga masih jomblo lho, hehe.”, tangkasnya.
 
    Aku terhenyak, seakan diingatkan kembali, aku pernah meragukan cita-citanya, meragukan ambisinya untuk memberi manfaat kepada Indonesia. Sekarang dia seperti membayar lunas semua pertanyaanku, bahkan sampai berlebih-lebih. Aku yang sudah menjadi master di bidang aktuaria internasional saja belum memberi banyak sumbangsih untuk Indonesia. Aku hanya beberapa kali menjadi pembicara di event seminar nasional maupun internasional perguruan tinggi atau kementrian di Indonesia.
 
    Rasa rinduku untuk bertemu dengannya semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba dari pintu masuk terlihat seorang gadis, betul, seorang gadis, masih muda, langkah dan tatapannya mantap, berjilbab rapi, dan tidak lupa senyuman manis ia sebarkan ke seluruh teman-teman seangkatan. Seseorang yang sangat ramah, seseorang yang sangat keren, seseorang yang sangat kukenal, betul, aku tidak salah lihat, dia sudah datang. Dia yang sangat kutunggu kehadirannya. 
 
    Protokol menyela perhatianku, “Sudah datang teman-teman. Penerima satya lencana bidang pendidikan. Mari kita sambut. Selamat datang temanku…”
 
    Aku langsung berjalan menuju dirinya, tetapi langkahku kalah cepat, seketika teman-temanku sudah menggerumbulinya untuk bersalaman dan bertanya bermacam-macam hal. Sekarang dia sudah jadi selebriti yang keren untuk dirinya sendiri dan orang lain. 
 
    Dari seberang, dia tampak mencari-cari seseorang, tiba-tiba dia memandang tajam ke mataku. Dia melihatku tanpa ekspresi. Aku berfikir negatif kalau dia masih kecewa denganku akibat peristiwa semasa SMA yang lalu atau dia malah lupa denganku. Tebakanku meleset, dia ternyata malah melempar senyum manisnya kepadaku.
 
“Rezaaa..”, 
 
“Iyaa..”, aku balas dengan senyuman juga.
 
    Tuntas sudah kerinduanku kepadanya. Kedepannya mungkin aku akan segera menyelesaikan belajarku di Jepang untuk lebih sering pulang atau sekedar bertandang ke sekolah pelosoknya. Mungkin aku juga akan membuat kerjasama dan berpartner lagi dengannya termasuk dalam hal pemberian beasiswa sesuai ikrar jari kelingking delapan tahun lalu.
 
    “Rezaaa, setelah ini kita bicara bersama ya, aku pengen cerita banyak denganmu..”, teriaknya diikuti senyum yang manis seperti biasanya. Iya, senyum yang manis itu akan selalu mengingatkanku, setidaknya untuk pulang lagi lebaran tahun depan. 
 
 

***
Kategori: cerita

2 Komentar

DTE411 · 29 Juli 2016 pada 01:14

nice!

Reza Prama · 30 Juli 2016 pada 03:42

suwun, padahal tulisan alay jaman lagi mlebu sma lho.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *