Pengantar Diskusi Rasisme Kebuntuan Politik Amerika

Apa yang Indonesia bisa pelajari dari kasus rasisme lewat kebrutalan polisi di kejadian George Floyd dan kebuntuan kerasnya politik Amerika?

Tulisan awal dari pengantar diskusi rasisme, kebrutalan polisi, dan kebuntuan politik Amerika berasal dari Bang Nathaniel Gratias di twitternya. Beliau hampir 9 tahun tinggal di Amerika & menulis disertasi tentang voter behavior di AS. Pengalaman beliau di AS bisa jadi pelajaran agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama. Saya tuliskan kembali dan kalau ada tambahan pendapat, saya juga tuliskan kegelisahannya bercampur dengan tulisan aslinya.

Diskriminasi dan Rasisme Hadir Dalam Beragam Bentuk

Perbudakan mungkin saja dihapus. Sebagian besar masyarakat sudah tidak memakai the N-word atau kata rasis (terminologi rasisme) dalam menyebut orang berkulit hitam. Setelah itu hadirlah oang kulit hitam yang kemudia menjadi presiden. Tidak lain dan tidak bukan yaitu Mantan Presiden Barrack Obama.

Namun hal tersebut tidak berarti rasime seakan sudah selesai. Bentuk dari rasisme N-word berubah menjadi implicit racism dengan persepsi yang dikembangkan masyarakat bahwa orang kulit hitam itu adalah oirang pemalas dan bodoh.

Perbudakan diganti jadi pemenjaraan dan kebrutalan polisi. Risiko orang kulit hitam tewas di tangan polisi di Amerika adalah 1 per 1,000 orang. Hal ini berarti 2.5x lebih tinggi daripada kematian kulit putih. 33% tahanan di penjara AS adalah warga kulit hitam, padahal kulit hitam hanya berjumlah 12% dari seluruh populasi di AS. Ironi akan usaha mengentaskan rasisme ini.

Grafik-Resiko-Terbunuh-Oleh-Polisi-Per-100.000-Orang.-Diskusi-Rasisme.
Grafik Resiko Terbunuh Oleh Polisi Per-100.000 Orang.-Diskusi Rasisme.
Perbandingan Populasi Orang Kulit Hitam yang Terpenjara dibandingkan Seluruh Populasi AS. Diskusi Rasisme.
Perbandingan Populasi Orang Kulit Hitam yang Terpenjara dibandingkan Seluruh Populasi AS. Diskusi Rasisme.

Kondisi ini sama dengan di Indonesia. Kita mungkin bisa membangga-banggakan gereja-masjid yang bersebelahan. Membanggakan budaya toleransi yang telah mendarah daging di masyarakat kita. Membanggakan beasiswa Papua yang hadir di banyak universitas negeri dan luar negeri. 

Namun hal tersebut tidak berarti diskriminasi dan rasisme telah selesai. Saat hukum di lapangan diterapkan dengan berbeda untuk mayoritas dan minoritas. Saat saudara kita Papua dbilang dengan sebutan tidak pantas, “monyet”. Saat itulah tanda diskriminasi masih hadir, ada disekitar kita. Kita perlu jujur dalam semua konteks ini.

Akuntabilitas Aparat Keamanan Mutlak Diperlukan

Studi kasus dalam ketika George Floyd dibunuh di Minneapolis, Amerika Serikat. 

Mari kita lihat latar belakang dari Pemerintah di belakang Minneapolis. Coba lihat hal yang penting untuk melanjutkan potret kelam dibaliknya.

Gubernur Minneapolis: Demokrat

Jaksa Minneapolis: Demokrat

Walikota Minneapolis: Demokrat

Kepala Polisi Minneapolis: Kulit hitam

Representasi politik tidak akan cukup kalau dari pihak aparat sendiri tidak akuntabel dalam masalah ini.

Serikat polisi di Amerika Serikat sangat kuat sekali dan selalu terdepan melindungi anggotanya. Mereka juga secara politik menjungjung ide konservatif. Mahkamah Agung AS (SCOTUS) juga menetapkan standar lebih tinggi untuk menghukum aparat. Akibatnya banyak yang bebas meskipun aksinya di lapangan berlebihan.

Opinion | How the Supreme Court Lets Cops Get Away With Murder
The courts protected police abuses for years before George Floyd’s death. It’s time to rethink “qualified immunity.” By…www.nytimes.com

Akuntabilitas untuk aparat itu sangat penting. Aparat keamanan tidak bisa dibiarkan mengawasi dirinya sendiri. Harus ada mekanisme pengawasan yg independen dan bergigi oleh masyarakat sipil. Hal ini juga berlaku terutama di negara seperti Indonesia di mana kepercayaan terhadap polisi masihlah rendah.

Sistem Partai yang Dinamis Itu Penting

Masyarakat kulit hitam adalah contoh nyata captured minority. Mereka tidak mungkin memberikan vote kepada Republican karena nilai yang mereka anut berbeda. Tetapi di sisi lain, Demokrat juga tidak serius sekali memperjuangkan warga kulit hitam karena mereka juga butuh suara dari warga kulit putih.

Black Voters Are So Loyal That Their Issues Get Ignored
The issue of race has been at the forefront of much of the 2016 campaign, but recently the war of words and images has…fivethirtyeight.com

Sistem dua partai memang salah satu sebab kacaunya politik AS (selain Electoral College). Apabila partai yang hadir lebih banyak, maka minoritas akan mungkin memiliki lebih banyak pilihan.

Dalam hal ini kondisi di Indonesia lebih maju. Kita memiliki jumlah partai yang lebih banyak. Tetapi sialnya partai yang ada ini masih penakut dalam isu minoritas (kecuali mungkin @psi_id, Bang Nathaniel memberi mention khusus terhadap hal ini)

Jumlah partai banyak akan tetap minim manfaat kalau cara berpikirnya sama dan tidak ada yang berani membuat platform yang ramah terhadap minoritas. Kalau mau demokrasi kita menjadi lebih sehat, kita butuh jumlah pilihan yang cukup (dalam hal ini multi partai) dan pilihan-pilihan itu mesti benar berbeda (beda platform yang diajukan setiap partai).

Buat Politisi, Hati-Hati Main dengan Politik Identitas

Salah satu sumber tensi rasial adalah Partai Republik yang semakin konservatif dan mengandalkan pemilih kulit putih. Meskipun kedua partai sama-sama terpolarisasi, polarisasi Partai Republik lebih ekstrem.

Indeks Polarisasi Politik Amerika 1. Diskusi Rasisme.
Indeks Polarisasi Politik Amerika 1. Diskusi Rasisme.
Indeks Polarisasi Politik Amerika 2. Diskusi Rasisme.
Indeks Polarisasi Politik Amerika 2. Diskusi Rasisme.

Karena mengandalkan suara dari warga kulit putih, Partai Republik juga semakin terobsesi dengan persyaratan identifikasi pemilih. Mereka berusaha mewajibkan pemilih untuk punya ID yang berasal dari pemerintah. Syarat ID card ini menyebabkan sejumlah voter minoritas kesulitan menjalankan hak pilih karena tidak memiliki ID.

Partai Republik juga kenyataannya semakin antagonis dengan program jaminan sosial atau dengan Obamacare yang membantu minoritas untuk mempunyai asuransi kesehatan. Ditambah lagi dengan adanya policy anti-crime Republican yang menyasar minoritas tanpa menyelesaikan isu struktural penyebab kriminalitas itu sendiri.

Relevansi Kejadian Rasisme di Indonesia?

Relevansi dengan kondisi di Indonesia? Hati-hati ketika bermain api. Di dalam konteks ini, hati-hati bermain politik agama. Pasca-Ahok, politisi kita semakin akrab dengan ormas agama. Mencari approval, persetujuan.

Pilih memilih pemuka agama untuk menjadi pejabat. Untuk jangka pendek mungkin menguntungkan secara politik. Namun dalam jangka panjang akan berbahaya. Apalagi kalau tidak memiliki kualitas yang mumpuni.

Semakin politisi berusaha mencari dukungan berbasis agama/kelompok, semakin sulit negara bisa adil terhadap semua agama/kelompok. Ini sudah memiliki kejadian di Amerika dengan Partai Republik dan pemilih kulit putih. Kita tentu tidak mau hal ini akan terjadi di Indonesia juga dengan ormas-ormas yang konservatif.

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

6 thoughts on “Pengantar Diskusi Rasisme Kebuntuan Politik Amerika”

  1. Kak, udah pernah nonton film Selma? itu film keren banget, kita bisa tahu bahwa Amerika punya sejarah yang kelam dan panjang soal rasisme dan bagaimana mereka memperjuangkan hak-hak sipil dan politik.

    Reply
  2. Jujur, hampir 2 minggu ini saya sedang berjarak dengan sosial media. Entah twitter, IF, GB dan dan bahkan TV. Terlalu banyak pemicu stress disana. Akhirnya saya memutuskan untuk off dari dunia elektronik.
    Hasilnya? Betapa kagetnya saya saat melihat berita di tv dan sosmed. Tentang G Floyed.
    Belum reda diingatan saya bahwa warga disana mulai gerah WFH dan demo. Sekarang ada kasus ini.

    Saya setuju sekali tentang pemuka agama yang menjadi pejabat. Efek jangka pendeknya memang (sepertinya) baik. Tapi jika tidak diimbangi dengan ilmu hukum, ketatanegaraan, apakah tetap baik hasilnya?

    Reply
    • Wah, Halo Mbak Putri! Salam kenal.

      Tahan juga ya Mbak bisa tidak buka sosmed sampai hampir dua minggu ini, hehe.

      Saya tetap pada pegangan selama pada kondisi ideal, alangkah lebih baik apabila seluruh peran, termasuk di pemerintahan di pegang oleh mereka yang kredibel dan punya skill set mumpuni untuk jabatan/amanah tersebut.

      Reply

Leave a Comment