saat masih bersekolah ditingkat menengah aku pernah berfikir, pekerjaan atau media berkarya apa yang punya faktor risiko paling kecil setidaknya tidak membahayakan orang lain. untuk menjawab pertanyaan ini, aku cukup serius dengan bertanya ke siapa dan apa saja. pikirku enak sekali orang seyang bisa berbuat sesuatu dengan -atau malah tanpa- risiko sama sekali. pikirku, dengan semakin sedikit -atau malah tanpa- risiko suatu pekerjaan akan membuat orang semakin leluasa mengembangkan kebermanfaatannya ke orang sekitar. pikirku, dengan sedikit -atau malah tanpa- risiko suatu pekerjaan akan membuat orang semakin hebat dan fenomenal membuat perubahan di masyarakat.

sedari alasan diatas, aku berfikir jikalau menjadi seorang insinyur merupakan salah satu jenis pekerjaan yang sedikit -atau malah tanpa- risiko. ya kan, insinyur cuma buat sesuatu atas dasar perintah owner dari client. sempit sekali pengetahuan saat itu. selain itu aku berfikir jikalau dengan berbagai premis diatas maka pekerjaan yang berhubungan langsung -mungkin secara fisik- dengan orang lain merupakan pekerjaan yang penuh dengan rifsiko. pekerjaan cem dokter, perawat, dan orang-orang yang bergelut di kesehatan adalah bayanganku kepada orang yang berani mengambil keputusan lebih untuk memoertaruhkan nasib dan nyawa orang lain.

pemikiran itu setidaknya berangsur berubah beberapa tahun ini, apalagi setelah aku masuk ke dunia kampus. akses informasi terhadap dunia kerja dan kemasyarakatan aku dapat lebih banyak daripada saat itu. ternyata pekerjaan macam insinyur, khususnya bidang ketekniksipilan memberikan tekanan secara psikis lebih agar setiap perhitungan dalam perencanaan apapun. sehinggan galat alias error dalam setiap perhitungan dapat ditekan seminimal mungkin. angkanya boleh beda tapi dalam rentang yang memperhatikan safety factor. oleh karena itu seorang insinyur profesional haruslah tahu segala prosedur dan metode dalam perencanaan.

risiko yang berhubungan dengan nyawa orang lain di dunia keinsinyuran, khususnya sipil, ternyata cukup banyak. bayangkan saja, apabila ada infrastruktur yang baru saja diselesai dibuat dan diresmikan ternyata perhitungan serta pelaksanaan proyek dari groundbreaking sampai selesai bermasalah. ada penyelewengan yang berunsur ketidaksengajaan atau bahkan kesengajaan dalam unsur didalamnya sehingga rentang nilai hasil pengukuran diluar nilai safety factor bisa dipastikan bahwa infrastruktur tersebut sering bermasalah.

terlepas dari dunia keinsiyuran dan kesehatan, dunia lain diluar semesta hal tersebut punyanya risikonya sendiri-sendiri. perlu kita cermati bahwa segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan manusia berkarya didunia ini selalu punya irisan masalah dengan kehidupan orang lain. selaiknya kita yang masih diberi kesempatan untuk hidup dan punya kesempatan belajar untuk selalu serius pada hal yang serius seperti apa yang sudah saya isyaratkan diatas. sehingga akan jarang kita dengar lagi ocehan yang berbunyi “nyalin aja lah, ngerti atau nggak mah masalah kesekian, nanti juga bakal ngerti sendiri kok”. gundulmu lek! tabique.

Kategori: pandangan

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *