Sejarah Singkat Revolusi Dunia Kontrak Pintar Sampai dengan Hashgraph

Sejarah Singkat Revolusi Dunia Kontrak Pintar (Smart Contract) Sampai dengan Hashgraph – Ramadan #2 – Ini beberapa temuan saya tentang topik tesis yang mungkin juga bakal saya tulis di media massa lainnya. Kebetulan sekarang lagi mengerjakan topik alternatif pembiayaan proyek infrastruktur.

UI Kampus Futurist Bagi Saya

Kebetulan yang lain lagi saya ketemu jodoh lain di UI, berupa lingkungan dan teman berdiskusi berwujud Supervisor dan lainnya yang sangat futurist. Wah kok futurist? Memang di masa sarjana lalu entah mengapa berbagai ide kegelisahan saya di infrastruktur mandeg tidak tuntas karena lingkungan yang sulit.

Eh, ternyata di UI ide topik tesis yang agak futurist ini lagi digarap dengan semangat oleh Supervisor saya. Beliau sangat semangat dan sering menyampaikan bahwa industri konstruksi harus didekati dengan cara yang bijak bersama teknologi.

Di Indonesia yang mikir seperti ini dikit. Kita sebagai pelopor akan menjadi menara-menara puncak keilmuan yang ahli dan orang lain dari belahan dunia lain akan belajar dari penelitian kita. Sound’s great, isn’t? hehe.

Crowdfunding Proyek Infrastruktur

Udah-udah, mari fokus ke tema utama. Alternatif pembiayaan infrastruktur yang sedang saya teliti yaitu tentang crowdfunding. Sesuatu yang sangat biasa dilakukan oleh orang Indonesia, bahkan sebelum istilah crowdfunding menggegerkan dunia tahun 2005.

Related:   Data Terbuka Kebijakan Pemerintah: Eropa

Crowdfunding sendiri berarti urun dalam bahasa Indonesia. Lebih teknis lagi berarti mengumpulkan sejumlah uang dari banyak orang dengan tujuan tertentu. Nanti saya bahas pada tulisan yang lain kalau sempat.

Untuk bahasan kecil tulisan ini, saya mengambil hal lebih khusus. Teknologi termutakhir yang membarengi adanya crowdfunding adalah sistem kontrak mengkontrak. Kontrak seperti apa sih?

Konsep Kontrak Pintar Smart Contract

Kontrak antara orang yang akan meminjamkan duit kepada orang yang membutuhkan duit. Kontrak yang ada harus dijamin aman dan cepat transaksi yang hadir.

Biasanya kita mengenal kontrak dilakukan dihadapan notaris. Tapi hal konvensional ini sebenarnya mulai tidak relevan. Sejak 1993 kita mengenal apa yang disebut dengan smart contract.

Sejarah Kontrak Pintar Smart Contract

Smart contract dijalankan tanpa adanya pihak ketiga. Transaksi antara dua subjek orang tercatat secara digital lewat sistem mekanisme yang diciptakan. Perkembangannya pun sudah jauh sangat maju, apalagi sedekade ini.

Kontrak Pintar Smart Contract dengan Blockchain

Sejak dunia mengenal blockchain melalui surat anonim yang mengaku bernama Satoshi Otomo tahun 2008. Orang menggunakan algoritma blockchain sebagai distributed ledger atau tempat untuk mendistribusikan kontrak dengan aman untuk konteks ini.

Kebutuhan Kontrak Pintar Smart Contract

Saat itu kumpulan block yang tersambung dalam blockchain cukup menggegerkan dunia karena efektifitas dan efisiensinya menyelesaikan beberapa masalah yang sebelumnya terjadi. Kebutuhan kontrak mengontrak dengan smart contract setidaknya untuk tiga hal: desentralisasi, skalabilitas, dan keamanan.

Celah Kekurangan Blockchain

Namun blockchain juga bukan tanpa celah setelah hype dan digunakan banyak orang, dalam konteks ini smart contract. Singkatnya blockchain yang menggunakan mekanisme hashing crypto dengan adanya miner (penambang) yang memecahkan kode hash dari transaksi yang terjadi, ternyata tidaklah aman dan cepat.

Related:   Mengelola Lingkungan Proyek Sesuai PMBOK

Kelemahan Keamanan Blockchain

Blockchain mempunyai kelemahan salah satunya 51% rule, dimana singkatnya lagi apabila 51% komputer yang memecahkan kode hash dari sebuah transaksi dikendalikan oleh satu entitas objek, maka akan terjadi kesalahan dalam sistem ini. Ini adalah kemungkinan bahwa blockchain bisa jadi tidak aman di masa depan.

Kelemahan Konsensus dan Fairness Blockchain

Selain itu walau memegang konsep desentralisasi, blockchain masih “bergantung” pada konsensus dengan adanya “miner” yang memecahkan kode hash. Dimana miner dengan perlatan yang lebih kuat akan diuntungkan. Ini tentu bukan kondisi yang fair bagi sebagian besar orang di dunia distributed ledger yang menganggungkan desentralisasi.

Dilemma Distributed Ledger

Menurut Vitalik Buterin, di dunia distributed ledger ada sebuah trilemma, dimana kita hanya bisa memilih dua diantara tiga hal: desentralisasi, skalabilitas, dan keamanan. Apabila kita menginginkan desentralisasi berjalan baik dan skalabilitas dapat digunakan sebanyak mungkin, maka keamanan yang ada akan menjadi kurang baik.

Kelemahan Skalabilitas Blockchain

Blockchain dinilai skalabilitasnya cukup kurang dirasakan oleh penikmat data ledger semisal untuk smart contract atau kontrak pintar karena kecepatan transaksi yang lambat. Blockhain di generasi pertama dengan BTC hanya mampu 10-100 transaksi setiap detik.

Kelemahan Kecepatan Transaksi Blockchain

Di generasi kedua dengan Etherum, blockchain hanya mampu melakukan 100-10.000 transaksi setiap detik. Kebutuhan yang semakin tinggi dengan semakin banyaknya transaksi yang menggunakan blockchain membutuhkan kecepatan yang semakin cepat.

Selain itu bentuk network dari blockchain mulain menimbulkan beberapa masalah. Kedua masalah yang saya sampaikan diatas dimulai dari network yang dibentuk oleh blockchain. Kondisi ini juga dianggap kurang faiir dan sistem desentralisasinya kurang sempurna.

Hashgraph sebagai Pengganti Blockchain

Tahun 2016 hadirlah hashgraph dengan bentuk yang lebih sempurna. Mengusung network dengan pendekatan directed acyclic graph (DAG), membuat banyak kekurangan dari blockchain terselesaikan.

Related:   Pascabencana :Rekontruksi Pemulihan Infrastruktur

Murahnya Transaksi dengan Hashgraph

Biaya dari setiap transaksi yang terjadi di blockchain sekarang 2021 awal ini sekitar 0.2$, hashgraph hanya butuh seperseribunya. Bentuk network yang ada menjadikan hashgraph juga semakin fair dalam setiap orang yang melakukan transaksi.

Konsensus di Hashgraph

Apabila di blockchain menggunakan miner untuk memvalidasi setiap transaksi, konsesus di hashgraph mengatur setiap orang yang membuat transaksi baru harus memvalidasi transaksi yang lain seketika.

Keamanan Hashgraph yang Terjamin Secara Algoritma

Tingkat keamananpun lebih terjamin, 51% rule yang ada di blockchain menjadi hilang. Tingkat keamanan sampai mendapat ABFT Complient atau setiap transaksi dijamin patuh taat 100% terhadap sistem konsensus yang diterapkan.

Tingkat Kecepatan Transaksi Hashgraph

Untuk transaksi per detik yang bisa dilakukan mencapai lebih dari 500.000 transaksi. Jumlah yang sangat besar untuk saat ini. Efisiensi yang terjadi naik sedemikian tajam. Maka hashgraph menjadi sangat cocok untuk dijadikan smart contract. Utamanya dalam penelitian saya sekarang.

Epilog

Kurang lebih seperti itu, cerita singkat tentang kontrak pintar atau smart contract. Saya sambung di lain waktu~

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment