Tantangan E-Procurement Berbasis BIM

Tantangan E-Procurement Berbasis BIM – Ramadan #14 – Ini series kelima mengenai berbagai tantangan E-Procurement berbasis BIM di berbagai industri, terutama konstruksi.

Series ini bagian dari series Ramadan yang sedan giat saya tulis. Semoga banyak baiknya diterima. Silahkan sitasi apabila membutuhkan. Saya sertakan sumbernya di akhir series tulisan.

Tantangan E-Procurement Berbasis BIM

Solusi yang dihadirkan oleh adanya tantangan e-procurement berbasis BIM dirancang dengan tujuan memberikan pendekatan yang lebih kaya terhadap arus informasi yang terkait dengan pengadaan.

Kolaborasi Sebagai Solusi Tantangan E-Procurement Berbasis BIM

Hal ini karena adanya tantangan e-procurement berbasis BIM dapat mendorong kolaborasi, meningkatkan potensi pengelolaan informasi, dan memaksimalkan sistem rantai pasok.

Terbentuknya Kolaborasi dalam Solusi Tantangan E-Procurement

Dalam e-procurement tanpa BIM, kolaborasi terbentuk karena persyaratan pembelian untuk pengadaan melalui pengembangan spesifikasi yang memungkinkan kita berkomunikasi dan bertukar informasi secara langsung.

Namun dengan BIM kita dapat memperbanyak kemampuan untuk merancang dan mengembangkan produk, proses manufaktur, logistik, hingga strategi distribusi.

Studi Kasus Tantangan E-Procurement

Dari studi kasus khusus yang dilakukan di Conventry UK dan berdasarkan wawancara kepada ahli, didapatkan fakta bahwa memungkinkan bagi BIM dapat mengurangi variabel waktu dan usaha yang dilakukan.

Hal ini terkait dengan kegiatan pengelolaan informasi yang memiliki prosedur yang tertulis di dalam dokumen kontrak dan administrasi yang ketat. Ini membuktikan bahwa model BIM mampu berfungsi sebagai tempat penyimpanan yang baik untuk owner, desainer, ahli, kontraktor, sub kontraktor, dan lainnya.

Manfaat dari BIM sering dibayangi oleh biaya yang terkait dengan usaha tambah dalam mengedit dokumen dan pemeliharaan proses pengadaan yang sejalan antara model produk, jumlah, deskripsi, dan pengaturan kontrak yang berpusat pada model BIM.

Pengeditan ini memerlukan keahlian khusus untuk menggabungkan berbagai informasi dalam proses pengadaan berbasis BIM.

Tantangan E-Procurement Mengenai Model

Meskipun BIM telah terbukti berguna, namun keberhasilan penerapannya memerlukan pemahaman yang mendalam tentang cara membuat model dan cara mengklasifikasikan informasi yang termasuk dalam model menggunakan taksonomi standar.

Related:   Infrastruktur Lingkungan Hidup Indonesia

Masalah ini sangat penting, seperti dalam proyek konstruksi keseluruhan, pengadaan barang dan jasa cenderung menjadi kegiatan yang berlangsung sekali, unik, dan menjadikan hanya ada sedikit peluang untuk mendapatkan efisiensi karena replikasi proses yang terjadi.

Tantangan E-Procurement Kurangnya Contoh Sukses Sebelumnya

Selain itu ada beberapa kesulitan yang muncul lewat studi kasus dari proyek yang menjadi percontohan, dimana kesulitan itu tidak bisa diantisipasi.

Hambatan paling mendasar adalah kemampuan untuk mengubah potongan kecil objek bangunan menjadi sebuah blok produk dan akumulasi layanan yang akan di delivery ke tender atau pemasok.

Tantangan E-Procurement Fase Penggabungan di BIM

Masalah utama yang terjadi di fase penggabungan. Hal ini dikarenakan objek yang berada di BIM cenderung sangat sederhana dan pemasok fokus pada akumulasi di tingkat produk dan layanan.

Tantangan E-Procurement Mengelola Model di BIM

Kuantitas kebutuhan untuk pemasok dengan mudah diperoleh dari model BIM, tetapi bagaimana cara mengelola unsur yang akan dipasok adalah masalah yang lebih rumit, dan model BIM yang ada tidak menggambarkan hal ini.

Akan lebih mudah apabila bloknya adalah pintu, jendela, atau produk yang spesifik, tetapi akan jadi lebih sulit apabila ada kebutuhan untuk menggabungkan produk atau layanan perdagangan yang lain.

Tantangan E-Procurement Terkait Interopebalitas

Beberapa masalah dapat diidentifikasi terkait model yang interopebalitas, ketika diubah menjadi IFC, model menjadi kehilangan beberapa informasi, termasuk format aslinya. Selain itu ditemukan fakta di lapangan bahwa tidak ada format kelas IFC yang khusus terkait pengadaan.

Hal ini dapat menghalangi interoperabilitas dalam proses pengadaaan. Akhirnya terbukti bahwa penerapan solusi secara luas terkait interoperabilitas sangat bergantung pada penggunaan standar taksonomi yang digunakan komunitas pengguna.

Manfaat yang Hadir dalam Tantangan E-Procurement

Beberapa manfaat telah diidentifikasi memberikan hasil yang cukup menjanjikan dalam hal mereplikasi aturan di proyek percontohan ke dalam proyek konstruksi dengan skala yang lebih besar.

Informasi Model BIM yang Sangat Berguna

Manfaat pertama yaitu kebutuhan proses pengadaan untuk memasukkan informasi dalam model BIM terbukti sangat berguna. Hal ini terjadi karena model tersebut menjadi tempat penyimpanan untuk semua informasi teknis, manajerial, administratif, dan kontrak tentang proyek.

Semakin Lancarnya Alur Kerja Pengadaan

Manfaat kedua yaitu saat pembeli mendorong semakin lancarnya alur kerja pengadaan, ekspor ke standar IFC dari data teknis dan kontrak dari model BIM ke platform akan terjadi. Selain desain arsitektural beserta spesifikasinya, platform juga akan merilis dokumen tender dan template balasan penawaran dari pemasok.

Meskipun ada upaya serius untuk memiliki informasi yang lebih terstruktur dalam proses e-procurement, platform ini juga mendukung beberapa informasi tidak terstruktur untuk saling melengkapi dokumen tender yang akan dikirim oleh pemasok.

Related:   Perspektif Arsitektur: Resiliensi Bangunan

Akibatnya, detail desain BIM-IFC dan template tawaran yang sudah terisi dapat berisi informasi tambahan dalam bentuk file terlampir, misalnya, format pdf, jpg, dan lainnya. Selain itu bahkan bisa memasukkan tautan website.

Namun, setiap elemen informasi yang tidak terstruktur harus ditautkan ke objek dalam model BIM. Informasi dan dokumentasi pelengkap ini juga dapat digabungkan secara langsung dalam model BIM (untuk diimpor bersama dengan file asli), melalui manipulasi dengan BIM Model Viewer.

Sehingga dengan cara ini platform BIM-IFC dapat dengan mudah untuk memperkaya konten model yang dibutuhkan. Di Indonesia penggunaan BIM dengan integrasi e-procurement mulai diterapakan di pengadaan oleh beberapa BUMN karya.

Contoh E-Procurement Berbasis BIM di Indonesia

Contohnya PT. PP yang menerapkan penggunaan BIM dengan integrasi e-procurement dalam berbagai proyek di Indonesia maupun di luar negeri sejak tahun 2015. Penggunaan BIM oleh PT. PP sudah mencapai level 2 dengan standar ISO:19650 dimana proses full audit dan sertifikasi dilakukan oleh Lloyd International.

Bahkan untuk PT. PP sendiri sedang melakukan proyek percontohan untuk penerapan IFC dengan mengintegrasi WBS, LPS, dan PPC sesuai standar ISO:19650. Penerapan lebih luas terhadap integrasi BIM dan e-procurement di Indonesia maupun di seluruh dunia perlu didorong lebih lewat prioritas berbagai kebijakan oleh stakeholder terkait.

Hal ini berkaitan dengan berbagai manfaat yang akan meningkatkan nilai proyek, tentu memperhatikan berbagai keterbatasan dan tantangan yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Akhirnya seluruh pihak dalam sebuah proyek yang melakukan e-procurement akan mendapat keuntungan yang adil dan optimal.

Referensi Tantangan E-Procurement Berbasis BIM

  1. European Commission, ICT and e-Business in the Construction Industry, 2006, http://ec.europa.eu/enterprise/archives/e-business-watch/studies/sectors/construction/documents/Construction2006.pdf.
  2. T.M. Froese, “The impact of emerging information technology on project management for construction,” Automation in Construction, vol. 19, no. 5, pp. 531–538, 2010.
  3. S. O. Cheung, H. C. H. Suen, and K. K. W. Cheung, “PPMS: a Web-based construction Project Performance Monitoring System,” Automation in Construction, vol. 13, no. 3, pp. 361–376, 2004.
  4. M. Riese, “One Island East, Hong Kong: a case study in construction virtual prototyping,” in Virtual Futures for Design, Construction and Procurement, P. Brandon and T. Kocaturk, Eds., pp. 59–71, Blackwell Publishing, Oxford, UK, 2008.
  5. A. A. Costa andL. V. Tavares, “Social e-business and the Satellite Network model: Innovative concepts to improve collaboration in construction,” Automation in Construction, vol. 22, pp. 387– 397, 2012.
  6. M. E. Johnson and S. Whang, “E-business and supply chain management: an overview and framework,” Production and Operations Management, vol. 11, no. 4, pp. 413–423, 2002.
  7. A. Y. L. Chong, K. B. Ooi, and A. Sohal, “The relationship between supply chain factors and adoption of e-Collaboration tools: an empirical examination,” International Journal of Production Economics, vol. 122, no. 1, pp. 150–160, 2009.
  8. L. V. Tavares, “Public eTendering in the European Union: trust in evolution,” 2010, http://portugal.vortal.biz/files/academy/Publicetendering.pdf
  9. K.Vaidya, A. M. Sajeev, and G. Callendar, “Critical factors that influence e-procurement implementation success in the public sector,” Journal of Public Procurement, vol. 6, pp. 70–99, 2006.
  10. T. Puschmann and R. Alt, “Successful use of e-procurement in supply chains,” Supply Chain Management, vol. 10, no. 2, pp. 122–133, 2005.
  11. A. Grilo and R. Jardim-Goncalves, “Value proposition on interoperability of BIM and collaborative working environments,” Automation in Construction, vol. 19, no. 5, pp. 522–530, 2010.
  12. K. Barlish and K. Sullivan, “How to measure the benefits of BIM—a case study approach,” Automation in Construction, vol. 24, pp. 149–159, 2012.
  13. BuildingSmart, IFC overview, 2013, http://www.buildingsmarttech.org/specifications/ifc-overview
  14. Z. Ma, Z. Wei, and X. Zhang, “Semi-automatic and specification- compliant cost estimation for tendering of building projects based on IFC data of design model,” Automation in Construction, vol. 30, pp. 126–135, 2013.
  15. R. Lipman, M. Palmer, and S. Palacios, “Assessment of conformance and interoperability testing methods used for construction industry productmodels,” Automation in Construction, vol. 20, no. 4, pp. 418–428, 2011.
  16. P.-H. Chen, L. Cui, C. Wan, Q. Yang, S. K. Ting, and R. L. K. Tiong, “Implementation of IFC-based web server for collaborative building design between architects and structural engineers,” Automation in Construction, vol. 14, no. 1, pp. 115– 128, 2005.
  17. J. Plume and J. Mitchell, “Collaborative design using a shared IFC buildingmodel—learning fromexperience,” Automation in Construction, vol. 16, no. 1, pp. 28–36, 2007.
  18. European Commission, Green Paper on Expanding the Use of e-Procurement in the EU, European Commission, Brussels, Belgium, 2010.
  19. Improving Efficiency and Productivity in the Construction Sector Through the use of Information Technology, French Centre for automation of Organizations, cefrio, Quebec, Canada, 2011. (http://www.cefrio.qc.ca/fileadmin/documents/).
  20. Atul Porwal and Kasun N. Hewage, “Building Information Modeling (BIM) partnering framework for public construction projects”, Automation in Construction, vol. 31, no. 1, pp. 204-214, 2014.
  21. Antonio Agular Costa and Antonio Grilo, “BIM-Based E-Procurement: An Innovative Approach to Construction E-Procurement”, The Scientific World Journal, vol. 2015.
Related:   Pemasangan U-Ditch Tanpa Forklift atau Crane
Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment