Sejarah mencatatkan penanya bahwa saya pertama kali memimpin sekumpulan orang dengan tujuan yang sama serta berada di ranah formal yaitu ketika menjadi ketua kelas sewaktu TK.

Wah, kok TK sih, nggak menarik banget

Yap, walaupun tugasnya hanya seremeh temeh untuk memimpin doa, menyiapkan baris sebelum masuk kelas, serta memimpin rombongan saat berkegiatan outdour diluar sekolah, saat itu suara saya dan apapun yang saya lakukan selalu di Sami’na Wa Atho’na oleh semua orang di belakang saya, bahkan termasuk gurunda tercinta saya. Namun hal tersebut jelas sangat membuat saya pede dan woles aja ketika disuruh untuk berbicara kedepan serta memberikan pandangan untuk sesuatu hal.

Hal tersebut berlanjut ke jenjang sekolah dasar. Ini disebabkan juga karena sebagian anak TK saya sebelumnya masuk ke SD yang sama dengan saya. Saya terpilih kembali menjadi seorang ketua kelas dari kelas 2 sampai kelas 6. Ketika di kelas 7-9 SMP dan 10-11 SMA hal tersebut terjadi lagi dengan pola yang mirip. Banyak teman saya di jenjang sebelumnya dan teman yang lain yang kenal saya mengajukan, atau sebenarnya lebih sering memaksakan saya menjadi korban, atau menjadi ketua kelas.

Pola lain yang bisa dicermati ketika saya menjadi ketua kelas tersebut saya tidak pernah mengajukan diri atau bahkan meminta nama saya menjadi salah satu nominee dalam pemilihan.

Oke kita ajukan hal pembanding karena menjadi seorang ketua kelas adalah menjadi seorang volunteer yang kerjanya jauh dari arti kekuasaan, apresiasi, dan keuntungan. Sehingga hal itu menjadikan profesi, eh pekerjaan menjadi ketua kelas tersebut memang haruslah orang yang ikhlas dan bersuka rela untuk berkorban.

Di zaman SMP dan SMA saya setiap bulan sering menyisihkan 20-40 ribu dari uang lomba untuk pulsa sms yang digunakan untuk mengabari 40 orang teman ketika ada pengumuman PR, libur, dan kegiatan sekolah yang lain. Saya baru instal sosia media WA ketika akhir SMA, sedangkan LINE saat masuk kuliah.

Hal ini juga berlaku di lain tempat, di luar ruang sekecil kelas akademik, semisal di unit ekstra kulikuler, kegiatan kepemudaan, dan kegiatan acara. Saya sama sekali sampai saat ini belum pernah mengajukan diri. Saya selalu mencari alasan bagaimana dengan alternatif orang lainnya. Selain itu meminta sang pemberi amanah untuk kembali berpikir apakah tidak bisa dialihkan ke orang yang lain. Sampai sekiranya hanya saya yang bisa mengampu tugas tersebut. Ah, sayang, dasar saya terlalu susah untuk menolak sesuatu hal.

Sementara itu saat pemira HMS ITB 2017, ada beberapa suara, tidak terlalu banyak juga, meminta saya untuk maju. Saat itu ada kesempatan besar bagi saya, namun setelah dipikirkan setelah sebelumnya mengajak ngobrol dengan beberapa orang, saya putuskan untuk istiqomah tidak maju sekarang. Di saat hearing saya mendengar pendapat yang menohok sekali buat saya. Pendapat ini disampaikan oleh Bos Ana HMS 2014 bahwa seorang pemimpin haruslah orang yang sudah selesai dengan segala hal yang masuk ke ranah privat organisasi dan individunya. Menohok sekali dikarenakan saya merasa sejak saya di TK bahkan sekarang berada di bangku kuliah, sebenarnya saya belum pernah “selesai” dengan segala hal yang privat. Saya bertanya-tanya seperti halnya

Mengapa kesempatan begitu banyak, saat kita sedang sangat sedikit waktu?

Di hari yang lain saya melihat post instagram dari ulama’ sekaligus sastrawan yang saya kagumi yaitu Gus Mus menulis tentang bab kepemimpinan.

Jangan berniat menjadi pemimp