sudah lupakan saja tentang relationship goals dan bentuk bentuk pseudo-postmo yang kalian bayangkan. saya jelas ndak tertarik dan sangat mungkin untuk menjauhi. hal hal tersebut saya rasa telah menjauhkan kita dari rasa humanitas. padahal, apabila humanitas ini -yang perlahan- menghilang dari diri kita, hal yang terjadi malah akan membuang identitas kita sebagai manusia.

saya baca chat di grup, postingan di timeline, dan seluruh aktifitas -yang aslinya menjenuhkan- di sosmed membuka mata saya bahwa gaya hidup di lingkungan sekitar saya telah banyak berubah. perubahan tersebut tak lepas dari majunya aspek informasi yang pesat sehingga menciptakan dunia yang load information. kata tersebut dirujuk dari perkataan almarhum alvin toffler seorang futurist dalam buku future shock, bahwa perkembangan dunia ketiga salah satuya akan di ketahui dari ciri tersebut.

pseudo-postmo lain yang saya maksud adalah keinginan kita untuk selalu lebih dari orang lain dengan menampilkan bentuk kapitalisme -atau lebih enaknya saya sebut perilaku hedon- secara eksplisit. keinginan ini seolah membuyarkan garis batas antara keinginan dan kebutuhan. segala rasa ingin selalu terjemahkan bahwa hal ini harus saya miliki. hal ini harus saya kenakan esok hari. hal mengenai perilaku untuk menjadi lebih daripada orang lain disini juga saya lihat cenderung ke arah negatif. dimana menjadi lebih diartikan untuk saling mengalahkan satu sama lain untuk mengejar perilaku konsumtif.

bentuk kongkret hal diatas saya kira adalah perilaku untuk selalu tampil keren, edge, swag, ah atau dalam bahasa mudahnya menjadi ngartis minimal di kalangan sendiri. perilaku ini biasanya dibarengi dengan ketidakproduktifan atau mungkin lebih tepat penurunan produktifitas dalam berbagai aktfitas. penganut bentuk diatas sering terbawa bayang bayang role model ala ala idamannya.

hah, setelah nulis sedikit ini, saya rindu suasana rumah. begitu sederhana, begitu indah, begitu tentram, ndak seruwet tulisan ini.