Tulisan Ruwet Tentang Kaum Masa Kini

Lupakan Keruwetan Ini

Sudah lupakan saja tentang relationship goals dan bentuk bentuk pseudo-postmo yang kalian bayangkan. Saya jelas ndak tertarik dan sangat mungkin untuk menjauhi.

Hal-hal tersebut saya rasa telah menjauhkan kita dari rasa humanitas. Padahal, apabila humanitas ini -yang perlahan- menghilang dari diri kita, hal yang terjadi malah akan membuang identitas kita sebagai manusia. Tetap ruwet ya.

hits dan ruwet

Aktifitas Sosial Media Kini

Saya baca chat di grup, postingan di timeline, dan seluruh aktifitas -yang aslinya menjenuhkan- di sosmed membuka mata saya bahwa gaya hidup di lingkungan sekitar saya telah banyak berubah. Perubahan tersebut tak lepas dari majunya aspek informasi yang pesat sehingga menciptakan dunia yang load information.

Kata tersebut dirujuk dari perkataan almarhum Alvin Toffler seorang futurist dalam buku Future Shock, bahwa perkembangan dunia ketiga salah satuya akan di ketahui dari ciri tersebut.

Pseudo-postmo lain yang saya maksud adalah keinginan kita untuk selalu lebih dari orang lain dengan menampilkan bentuk kapitalisme -atau lebih enaknya saya sebut perilaku hedon- secara eksplisit.

Keinginan

Keinginan ini seolah membuyarkan garis batas antara keinginan dan kebutuhan. Segala rasa ingin selalu terjemahkan bahwa hal ini harus saya miliki. Hal ini harus saya kenakan esok hari.

Hal mengenai perilaku untuk menjadi lebih daripada orang lain disini juga saya lihat cenderung ke arah negatif. Dimana menjadi lebih diartikan untuk saling mengalahkan satu sama lain untuk mengejar perilaku konsumtif.

Sebenarnya

Bentuk kongkret hal diatas saya kira adalah perilaku untuk selalu tampil keren, edji, swag, ah atau dalam bahasa mudahnya menjadi ngartis minimal di kalangan sendiri. Perilaku ini biasanya dibarengi dengan ketidakproduktifan atau mungkin lebih tepat penurunan produktifitas dalam berbagai aktfitas. Penganut bentuk diatas sering terbawa bayang bayang role model ala-ala idamannya.

Akhirnya

Hah, setelah nulis sedikit ini, saya rindu suasana rumah. Begitu sederhana, begitu indah, begitu tentram, ndak seruwet tulisan ini.

Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

11 thoughts on “Tulisan Ruwet Tentang Kaum Masa Kini”

  1. yoii, ini cuma ngisi waktu karena akademik masih belum jalan, moga nanti ketika jalan masih bisa sering nulis. btw, awakmu juga penuh kegelisahan. jadi usahakan nulis kegelisahan iku yo, sip.

    Reply
  2. hehe.. menyelam? lebih ke tenggelam(?) sih kayanya.. hehe. ga sih kak.. ga bner" menyelam, cma skedar tau saja soalnya yg pernah sy baca umumnya mau mengkritik tapi kelepasan, jdinya saling menyalahkan begitu.. kn sesalah-salahnya org ga mau terus-menerus dipersalahkn seolah penjahat (padahal dinasehati saja blum tentu berubah apalagi dijudge). yg kek begini endingnya memicu konflik, drama dan apalah. siklus tak berujung (kadang ampe bosen sendiri liatnya).

    oh ya, terus terang sy sendiri kdang juga merasa dilemma utk masalah seperti ini. mau diwajarin juga ga wajar, mau dibilang ga wajar juga udh sering terjadi. istilahnya semacam kalo didiemin nanti merajalela, kalo ga didiemin malah berkoar-koar. capek deh.

    tapi sebenarnya seiring perubahan zaman rasa-rasanya tidak mungkin manusia tidak berubah cepat atau lambat. pertanyannya ke arah mana perubahan itu kan? karena kita tidak hidup di negeri dongeng yang tokoh sandiwaranya dibuat pasti baik pasti buruk pasti bahagia atau lainnya, yg ada di realita kita hanya keboleh-jadian. (Ya Allah, aing teh nulis apan tadi absurd pisan)

    btw, sy salut sama org" seperti kk.. lanjutkan nulisnya kak.. semangat!^^

    Reply

Leave a Comment