Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Gempa Lombok 2018?

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Rekontruksi dan Pemulihan Perumahan Pasca Gempa Lombok 2018? – Di tahun 2018 Indonesia menghadapi begitu banyak bencana alam, salah satunya adalah gempa Lombok. Kejadian gempa Lombok dengan magnitude besar lebih dari 6 terjadi tidak cuma sekali, namun tercapati empat kali dari tanggal 29 Juli sampai dengan 25 Agustus 2018.

Kejadian itu membuat infrastruktur perumahan di Kawasan Nusa Tenggara Barat luluh lantak. Berbagai isu terkait rekontruksi pemulihan pascabencana gempa Lombok 2018 menjadi sesuatu pembelajaran yang sangat berarti untuk masyarakat terdampak, akademiksi, swasta, pemerintah terkait, dan tentu siapa saja yang mengamati kejadian ini.

Kondisi sebelum rangkaian Bencana Gempa Lombok

Pulau Lombok merupakan daerah yang diselimuti dikelilingi oleh banyak sekali wisata, dari wisata pantai sampai gugung berapi Rinjani dan Tambora. Jumlah wisatanwan yang melaliui Bandara Lombok International Airport pada tahun 2017 mencapai lebih dari dua juta orang. Dikonfirmasi oleh BPS, total jumlah wisatawan sepanjang 2017 melebihi target tiga setengah juta wisatawan.

Pengalaman menghadapi peristiwa gempa besar di masa lalu sebenarnya telah memberi sedikit pengalaman mental penduduk pulau Lombok untuk menghadapi peristiwa gempa di masa depan.

Hal itu di amini oleh pernyataan Kepala Desa Kecamatan Gunung Siri Kabupaten Lombok Barat, Bapak Fuad Abdurrahman yang mengatakan bahwa masyrakat sudah tahu bagaimana mengamati tanda alam Ketika akan terjadi gempa yang diantaranya sumur permukaannya akan menjadi keruh dan satwa binatang akan menunjukkan rasa takut.

Namun pengalaman mental sebagaimana disebutjan diatas belum cukup menghadapi rangkaian peritiwa gempa lombok yang meluluh lantakan bangunan infrastruktur terutama rumah di Kawasan tmpat terjadinya. Kegagalan ratuan ribu bangunan rumah menunjukkan bahwa standard bangunan tahan bencana gempa. Menjadi sebuah pekerjaan rumah yang nyata agar

Seberapa besar Bencana Gempa Lombok yang Terjadi?

Rangkaian gempa besar dengan magnitude lebih dari 6 setidaknya tercatat di tanggal 29 Juli 2018 dengan M6.4, 5 Agustus 2018 dengan M7, 9 Agustus 2018 dengan M6.2, dan 19 Agustus 2018 dengan M6.5 dan M6.9. Ekonomi sebagai penopang  keberjalanan hidup masytarakat Lombok terhenti sesaat.

Apa saja dampak terhadap sektor Perumahan saat Gempa Lombok Terjadi?

Akibat dari rangkaian gempa yang terjadi tercatat total 149.706 rumah mengalami kerusakan yang berat.Data tersebut mencakup hampir sepertiga rumah di Lombok barat sebagai wilayah yang paling terdampak. Selain itu menurut data BNPB ada 214 infrastruktur penunjang yang terdampak oleh rangkaian peristiwa gempa Lombok 2018. Infrastruktur yang terdampak tersebut antara lain jalan, jembatan, terminal bus, dermaga, irigasi, dan bendungan.

Related:   We Need to Talk About Inclusive Infrastructure

Bagaimana Rekontruksi Perumahan Terdampak Pascabencana?

Salah satu sektor  terdampak paling penting karena sebagai kebutuhan dasar manusia adalah papan atau rumah. Tenda atau tempat penampungan sementara kewalahan menerima derasnya kedatangan para warga terdampak akibat rumah mereka yang hancur dan tidak aman untuk ditinggali.

Pemerintah lewat Presiden segera mengeluarkan Inpres 5 tahun 2018 sebagai pondasi pelaksanaan rekontruksi dan pemulihan Kembali akibat gempa Lombok 2018. Berbagai Langkah dilakukan, termasuk yang pertama adalah membuat tim penanggulanan bencana dari berbagai pemangku kepentingan.

Didalam setiap program pengendalian pascabencana, kesigapan danp tata Kelola  pemerintahan yang baik memberi peran penting untuk mempengaruhi berbagai factor dalam proses pemulihan di sector infrastruktur perumahan ini.

Apa saja hal yang dilakukan dalam Rekontruksi dan Rehabilitasi Pasca Bencana?

Salah satu Langkah penting yaitu membentuk POKMAS (Peran Kelompok Masyarakat) yang terdiri dari masyarakat terdampakuntuk mengatur kebutuhan penagadaan dan proses kuntruksi didampingi okeh tenaga teknis pemerintah dan fasilititator di lapangan.

Kelompok masyarakat ini dibentuk dari 10 sampai 20 pemilik rumah. Mereka di berikan kebebasan untuk memilih berbagai model contoh rumah yang ada, menentukan bagaimana pembuatan rumah apakah akan dibangun sendiri atau dibangun oleh aplikator yang ditunjuk pemerintah, dan bagaimana proses bantuan diserahkan sampai ke tangan masyarakat tersebut.

Setelah hampir setahun terjadinya rangkaian bencana  tercatat daro 237 ribu banguanan terdampak uintuk di rekontruiksi dan dibandung Kembali, baru 52 ribu banguanan yang  selesai secara teknis dan admistrasi dibangun dan 80 ribu sisanya masih dalam proses.

Bagaimana Solusi Rekontruksi Perumahan yang Berkelanjutan?

Pemerintah dan beberapa pihak memberi solusi singkat dan berkelanjutan lewat beberapa desain teknis rumah yang lebib adaptif terhadap bencana terutama gempa di daerah terdampak di Pulau Lombok.

Setidaknya ada tiga contoh model rumah tahan gempa di setujui pemerintah untuk yang pertama. Nantinya berkembang menjadi 18 model yang bisa diajukan masyarakat lewat beberapa prosedur.

Model rumah pertama yaitu RISHA. Model rumah tahan gempa paling lama yang sudah dikembangkan oleh Puslitbang Perumahan dan Permukiman KemenPUPR sejak dekade lalu.

RISHA merupakan model rumah yang modulnya di fabrikasi dahulu di pabrik kemudian dipasang di lapangan. Fabrikasi yang ada terdiri dari balok, kolom, dan papan beton.

Related:   Infrastruktur Perencanaan Pengembangan Wilayah

Produksi yang sangat besar serta bahan marerial yang susah didapatkan membuat model lain kemudian menjadi idola dan dipakai juga dalam fase rekotruksi dan pemulihan ini.

Model kedua adalah RIKO yang berupa rumah instan dengan material utamal yaitu bata konvensional. Model ketiga adalah RIKA yang berupa model rumah instan dengan material utama yaitu kayu.

Dengan kedua model yang lebih dikenal masyarakat ini, pemerintah meningkatkan kualitas bangunan dengan terus mendorong kedisiplinan menggunakan standar bangunan rumah tahan gempa yang berlaku.

Bagaimana Pandangan dan Penerimaan Masyarakat Lombok?

Dari wawancara yang dilakukan setahun setelah rangkaian peristiwa gempa Lombok, sebagian besar rmasyarakat masih sangat trauma. Di depan mata, mereka melihat kejadian orang terdekat cedera dan bahkan harus meninggal karena rumah yang mereka tempati harus rusak dan menimpa manusia.

Terbukti bahwa infrastruktur dapat menyebakan korban jiwa apabila tidak adaptif dan sesuai dengan standar bangunan yang ada. Perlu kesadaran dan pemahaman lebih untuk menjadikan pengetahuan terhadapa bangunan tahan gempa dan adaptif terhadap hal lainnya menjadi gaya hidup untuk berinteraksi dengan alam.

Bagaimana Tantangan dan Permasalahan Pemulihan Infrastruktur Perumahan Pascabencana?

Berbagai permasalahan hadir saat pascabenca, berbagai upaya sudah dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan yang ada. Namun tentu banyak tantangan dan permasalahan yang dihadapi Ketika di lapangan. Tantangan tersebut dapat memberikan banyak pembelajaran agar bisa diperbaiki secara efektif dan efisien di masa mendatang. Setidaknya ada lima bidang permasalahan yang dapat dikumpulkan yaitu:

  1. Sumber daya manusia
  2. Logistik, bahan material, dan rantai pasok
  3. Keuangan dan administrasi
  4. Kontrol dan pengawasan
  5. Koordinasi dan komunikasi

Pertama masalah sumber daya manusia. Terbatasnya sumber daya manusia yang mumpuni apalagi untuk mengatasi hal teknis struktur bangunan menjadi suatu permasalahan dengan besarknya volume dan beban kerja setiap fasilitator. Hal ini juga ditambah permasalahan bahwa kurang terampilnya tenaga yang melaksanakan pembangunan di lapangan.

Kedua masalah logistrik, bahan material, dan rantai pasok. Terbatasnya kuantitas dan kualitas material kayu sebagai material utama untuk kontruksi RIKA. Masih buruknya kualitas material pasir dan kerikil untuk kontruksi RIKO. Tidak memadai dan tersertifikasinya Sebagian besar aplikator untuk kontruksi RISHA. Hal ini banyak ditemui dilapangan dengan kasus aplikator hanya sebagai pihak ketiga yang dapat mengakibatkan penipuan dan pekerjaan yang tidak dapat tepat waktu. Selain itu permasalah umum lain adalah akses menuju lokasi yang sangat sulit dijangkau. Sehingga distribusi barang dan manusia menjadi sangat sulit.

Ketiga masalah keuangan dan administrasi. Masih kompleksnya prosedur dan dokumentasi darurat untuk POKMAS untuk proses pencairan dana. Terbatasnya cabang dari Bank yang ditunjuk untuk melakukan pencarian dana di daerah terdampak. Tidak memadainya koordinasi yang berkaitan dengan data di tingkat provinsi.

Related:   Siklus Hidup Proyek dan Pengembangan di PMBOK

Keempat masalah kontrol dan pengawasan. Kurang efektf dan efisiennya kontrol dan pengawasan yang ada. Hal ini disebabkan beberapa hal antara lain pelatihan dan bimbingan yang tidak memadaoi serta kurangnya ketegasan untuk menegakkan standar bangunan sesuai aturan yang ada.

Kelima masalah koordinasi dan komunikasi. Distribusi sumber daya dan tanggungjawab yang tidak efektif dan efisien. Hal ini menyebabkan penerima bantuan tidak mendapat pelayanan yang maksimal.

Apa Pembelajaran yang bisa didapat dari Gempa Lombok 2018?

Banyak sekali pembelajaran yang penting dari rangkaian peristiwa gempa Lombok 2018. Setidaknya ada tiga poin besar terhadap rekontruksi bangunan pasca bencananya:

  1. Strategi yang tepat ketika memulai rekontruksi. Salah satunya melibatkan seluruh komponen masyarakat dan pemangku jabatan paham terhadap apa yang sedang dihadapi. Selain itu penguatan organisasi dan kelompok masyarakat (POKMAS) menjadi bagian yang penting untuk berpartisipasi dalam proses dan sisten di masa depan.
  2. Peningkatan kesadaran tentang isu keberlanjutan. Pemahaman akan fungsi bangunan yang adaptif terhadap kondisi Indonesia yang ditakdirkan menghadapi banyak bencana alam salah satunya gempa menjadi sangat penting.
  3. Membentuk gugus tugas  dari masyarakat lokal (POKMAS) yang kuat. Gugus tugas ini harus terstruktur, mandiri, dan selalu siap siaga untuk mengelola dan mampu memimpin proses rekontruksi dan rehabilitasi yang ada di daerah terdampak.

Secara singkat kesiapsiagaan wajib untuk dibangun, bukan hanya sebagai reaksi atas kejadian darurat, namun juga sebagai usaha dalam rekontruksi dan pemulihan pascabencana. Semoga kita dapat belajar banyak dan mampu melakukan upaya mitigasi yang efektif dan efisien demi dengan tujuan utama mengurangi dampak nyawan dan kerugian dengan terjadinya bencana.

Impact and Lesson Learned dari Gempa Lombok 2018

Catatan:

Seluruh tulisan ini menceritakan dengan bahasa populer dan singkat paper berjudul “Lombok earthquake, one year later: housing sector recovery” oleh Krishna S Pribadi, Rani G Pradoto, Eliya A Hanafi, dan I Made Adhi Bayu Rasmawan dengan beberapa catatan tambahan. Paper ini bisa diakses di link berikut.

Referensi lain:

  1. Instruksi Presiden Republik Indonesia No 5 (Tahun 2018)
  2. Jakandar, Lalu Iwan Eko, Dampak Gempa Bumi Lombok Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Di Desa Kekait Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat, in Jurnal Sosial, Politik, Kajian Islam Dan Tafsir (2018)
  3. Tim Pusat Studi Gempa Nasional, Kajian Rangkaian Gempa Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat 29 Juli 2018 (M6.4), 5 Agustus 2018 (M7.0), dan 19 Agustus 2018 (M6.9), 112 (Puslitbang Perumahan dan Pemukiman, Jakarta, 2019)
  4. https://bisnis.tempo.co/read/1125319/ini-data-lengkap-kerusakan-gempa-lombok-versi-bnpb(diakses pada tanggal 29 November 2020)
  5. https://www.thejakartapost.com/academia/2018/08/10/lomboks-lesson-time-for-disaster-sensitive-tourism.html (diakses pada tanggal 29 November 2020)
Share on:
About Reza Prama Arviandi

A graduate student from the Department of Civil Engineering ITB who has a passion in the field of civil infrastructure, big data analysis, and community empowerment.

Leave a Comment